Arina.id - Rasulullah Muhammad SAW adalah suri teladan bagi umat manusia dalam segala aspek kehidupan. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’i, Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِنَّمَا حُبِّبَ إِلِيَّ مِنْ دُنْيَاكُمُ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
Artinya: "Dari Anas bin Malik RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Tentunya diberi kecintaan padaku pada duniamu berupa perempuan, wewangian, dan dijadikan penyedap mataku (permata hatiku) di saat sholat."
Ungkapan ini menunjukkan kecintaan Rasulullah terhadap tiga hal tersebut, yang mencerminkan keindahan hubungan beliau dengan dunia, manusia, dan Allah. Berikut penjelasan mengenai tiga hal tersebut.
Perempuan Shalehah
Kecintaan Rasulullah SAW kepada perempuan bukanlah dalam arti material, melainkan penghargaan yang mendalam terhadap peran dan kedudukan perempuan dalam kehidupan. Rasulullah SAW memuliakan perempuan shalehah sebagai ibu, istri, dan anak. Dalam berbagai kesempatan, beliau menekankan pentingnya menghormati dan memperlakukan perempuan dengan baik.
Sayyidah ‘Aisyah RA meriwayatkan, Rasulullah SAW telah bersabda tentang pentingnya menjadi sosok yang sangat bertanggungjawab kepada keluarga, khususnya istri atau ibu dari anak-anak :
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي
Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku“
Kecintaan Rasulullah SAW kepada perempuan shalehah menunjukkan beliau sangat menghargai kaum perempuan dengan segala keputusan mereka yang berdasarkan rasa sayang mereka kepada keluarga. Alkisah, saat lamarannya yang kedua pada Sayyidah Fakhitah binti Abu Thalib atau Ummu Hani ditolak dengan alasan lebih memilih fokus mengurus anak-anak, Rasulullah SAW tidak marah. Bahkan beliau memuji keputusan Sayyidah Ummu Hani tersebut. Beliau bersabda:
خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ، أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ
Artinya: “Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah wanita shaleh dari Quraisy; paling sayang pada anak di usia kecilnya dan paling menjaga suami pada yang dimilikinya.” (HR. Bukhari Muslim)
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya kesetaraan dan keadilan terhadap perempuan, menjadikan Islam sebagai agama yang memuliakan perempuan dalam segala perannya. Terbukti, syariat Islam memberikan batasan seorang lelaki menikahi perempuan yang asalnya tak terbatas, memeberikan hak waris bagi mereka yang sebelumnya tak ada, dan tidak mengucilkan perempuan saat haidl sebagaimana dipraktikkan oleh masyarakat jahiliyyah.
Wewangian
Rasulullah SAW sangat mencintai kebersihan dan keharuman. Beliau senantiasa menggunakan wewangian, terutama ketika menghadiri pertemuan atau saat sholat berjamaah di masjid. Dalam Islam, kebersihan dan wewangian memiliki nilai yang tinggi, sebagaimana sabdanya:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
Artinya: "Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan." (HR. Muslim)
Wewangian tidak hanya menjadi simbol kebersihan fisik tetapi juga menunjukkan penghormatan kepada orang lain. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk menjaga tubuh dan pakaian tetap bersih serta harum, terutama dalam ibadah, karena hal ini mencerminkan penghormatan kepada Allah.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya agar memakai wewangian saat akan melaksanakan sholat jamaah. Terlebih di hari Jumat:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ
Artinya: “Hari ini (Jumat) adalah hari raya yang dijadikan Allah SWT untuk umat Islam. Siapa yang ingin melaksanakan sholat Jumat, hendaklah mandi, memakai wangi-wangian kalau ada, dan menggosok gigi (siwak)." (HR Ibnu Majah).
Sahabat Anas juga menyebutkan bahwa aroma tubuh Rasulullah SAW sangat wangi mengalahkan wewangian apapun:
عَنْ ثَابِتٍ قَالَ أَنَسٌ مَا شَمَمْتُ عَنْبَرًا قَطُّ وَلَا مِسْكًا وَلَا شَيْئًا أَطْيَبَ مِنْ رِيحِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا مَسِسْتُ شَيْئًا قَطُّ دِيبَاجًا وَلَا حَرِيرًا أَلْيَنَ مَسًّا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya: : "Diriwayatkan dari Tsabit, Anas berkata: “tidak pernah aku mencium aroma parfum ambar, misik dan parfum yang lebih harum daripada keringat Rasulullah SAW. Dan aku tidak pernah menyentuh sutra yang lebih lembut daripada menyentuh Rasulullah”. (HR. Muslim)
Sholat
Sholat adalah inti dari hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Rasulullah menyebut sholat sebagai "penyejuk mata" karena sholat adalah momen ketenangan, penghambaan, dan kedekatan dengan Allah. Dalam sholat, Rasulullah menemukan kedamaian jiwa yang hakiki.
Sholat juga merupakan sarana untuk meraih ketenangan hati dan menguatkan iman. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk senantiasa menjaga sholat, baik wajib maupun sunah, karena itu adalah kunci keberhasilan dunia dan akhirat.
Kecintaan Rasulullah SAW terhadap perempuan salehah, wewangian, dan sholat mencerminkan keseimbangan hidup antara kebutuhan duniawi dan ukhrawi. Perempuan mencerminkan pentingnya kasih sayang dan penghargaan terhadap keluarga. Wewangian melambangkan perhatian terhadap penampilan dan penghormatan kepada sesama. Sedangkan sholat adalah puncak penghambaan kepada Allah.
Dengan meneladani kecintaan Rasulullah SAW terhadap ketiga hal ini, kita dapat menjalani kehidupan yang lebih bermakna, penuh kasih sayang, dan berorientasi kepada Allah. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin
