Arina.id - Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji maupun umrah. Bagi mereka yang mendapatkan kesempatan istimewa ini, dukungan dan doa dari keluarga, sahabat, dan tetangga sangatlah berarti. Salah satu bentuk dukungan yang sangat dianjurkan dalam Islam adalah mengantar calon jamaah haji atau umrah hingga ke titik keberangkatan mereka.
Di Indonesia, biasanya para jamaah haji diantar oleh keluarga dan tetangganya hingga ke embarkasi. Sementara untuk umrah, biasanya mereka mengantarkan hingga ke bandara. Untuk yang berangkat dari Jakarta, biasanya mereka mengantar hingga Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
Dalil dan Dasar Kesunahan
Mengantar saudara Muslim yang akan menunaikan ibadah haji atau umrah termasuk dalam amal kebaikan dan bentuk penghormatan yang tinggi. Mengantar seseorang yang akan bepergian secara umum adalah perbuatan yang sangat baik serta dianjurkan dalam Islam. Dengan catatan, kepergiannya bukanlah untuk maksiat.
Perjalanan haji dan umrah merupakan salah satu jenis bepergian yang menjadi bagi dari ibadah sehingga sangat dianjurkan bagi keluarga dan tetangga untuk ikut mengantarnya.
Pada masa kehidupan Rasulullah SAW, bahkan ada tempat khusus yang dijadikan titik pengantaran orang-orang yang akan bepergian jihad, berdagang maupun haji, yakni Tsaniyyatul Wada’. Dalam kitab Syarah Muslim yang ditulis oleh Imam Nawawi al-Baghdadi disebutkan bahwa titik tersebut disebut sebagai Tsaniyyat (lembah) wada (kepergian) karena orang-orang Madinah akan mengantarkan mereka yang hendak bepergian (al-muwaddi’un) hingga ke tempat tersebut:
وأما ثنية الوداع فهي عند المدينة سميت بذلك لأن الخارج من المدينة يمشي معه المودعون اليها
Artinya: “Tsaniyyatul Wada ialah salah satu tempat di Madinah. Dinamakan demikian karena mereka (para penduduk Madinah) berjalan mengantarkan para jamaah haji dan orang yang akan jihad hingga di tempat tersebut dan lantas meninggalkan mereka di sana”.
Hukum mengantarkannya sendiri adalah sunah dengan referensi dari kitab Mathalib Ulin Nuha, j. VI, h. 472:
وذكر أبو بكر الآجري استحباب تشييع الحاج ووداعه ومسألته أن يدعو له ـ وشيع أحمد أمه بالحج
Artinya: “Abu Bakar al-Ajari menyebutkan kesunahan mengantar jamaah haji, mendoakan serta menitipkan doa. (Dalam hal ini) Imam Ahmad juga mengantarkan ibunda beliau yang akan pergi haji”.
Mendoakan dan Titip Doa
Titip doa yang dimaksud di sini ialah meminta kepada jamaah haji tersebut untuk mendoakan kita. Dalam kitab Al-Furu’ karya Ibnu Muflih, j. XI, h. 364, dijelaskan:
وذكر الآجري استحباب تشييع الحاج ومسألته أن يدعو له …وأما الحاج فسمعنا عن ابن عمر وأبي قلابة وأن الناس ليدعون ـ وقال أصرم " سمعته يقول لرجل: تقبل الله حجك وزكى عملك ورزقنا وإياك العود إلى بيته الحرام ـ وفي الغنية " تقبل الله سعيك وأعظم أجرك وأخلف نفقتك ـ لأنه روي عن عمر
Artinya: “Imam Al-Ajari menyatakan kesunahan mengantar jamaah haji dan meminta agar ia mendoakan kita. Adapun jamaah haji, kami mendengar dari riwayat Ibnu Umar dan Qalabah dan sesungguhnya manusia mendoakannya. Ashram berkata: ‘Aku mendengar ia berkata kepada seorang lelaki: ‘Semoga Allah menerima ibadah haji-mu, membersihkan amalanmu, memberikan rezeki kepadamu, menjagamu hingga kau kembali ke rumah-Nya yang mulia’. Dan saat ia tidak terlihat kemudian membaca: ‘Semoga Allah menerima keberangkatanmu melipatgandakan pahalamu dan menyisakan nafkahmu (untuk keluarga yang ditinggalkan)’. Ibnu Umar meriwayatkan hal ini dari Umar”.
Manfaat dan Hikmah
Terdapat beberapa manfaat dan hikmah yang bisa kita dapatkan dalam kegiatan mengantar jamaah haji dan umrah serta saling mendoakan ini. Diantaranya ialah:
- Mengantar keberangkatan jamaah menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang sesama Muslim. Ini mempererat hubungan kekeluargaan dan sosial.
- Salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa adalah menjelang pelaksanaan ibadah haji atau umrah. Orang yang berangkat dalam keadaan suci dan ikhlas memiliki hati yang lapang, dan doanya sangat berharga. Mengantar mereka bisa menjadi kesempatan untuk meminta didoakan.
- Dalam riwayat, para sahabat sering mengantar Rasulullah SAW atau sahabat lain yang akan bepergian jauh, termasuk haji atau umrah. Berarti kegiatan ini adalah bagian dari mengikuti Rasulullah dan para Sahabat.
- Mengantar jamaah juga bisa menjadi pengingat bagi kita akan keutamaan ibadah haji dan umrah. Hal ini bisa memotivasi diri sendiri untuk merencanakan ibadah tersebut di masa depan.
Adab Ketika Mengantar Jamaah
Ada beberapa adab yang mesti kita pegang saat mengantarkan jamaah haji dan umrah. Di antaranya ialah:
- Niatkan sebagai bentuk ibadah dan dukungan tulus, bukan atas nama pamer atau riya
- Berpakaian sopan dan menghormati suasana khidmat.
- Memberikan doa-doa yang baik
- Tidak merepotkan, membuat suasana terlalu gaduh atau mengganggu proses keberangkatan
- Jika memungkinkan, bantu secara fisik (mengangkat barang, membantu administrasi, dan sebagainya)
Mengantar calon jamaah haji atau umrah adalah perbuatan mulia yang mengandung banyak nilai ibadah dan kesunahan. Ia bukan sekadar formalitas sosial, tetapi sebuah bentuk cinta, dukungan, dan doa yang ikhlas. Dalam setiap langkah mereka menuju tanah suci, semoga langkah kita dalam mengiringinya pun bernilai ibadah di sisi Allah. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin
