Arina.id - Beberapa waktu terakhir, tagar #SaveRajaAmpat ramai diperbincangkan di media sosial. Mulai dari template story yang dibagikan jutaan orang hingga video reels yang viral. Tagar ini menjadi bentuk protes warganet terhadap eksploitasi penambangan nikel di kawasan Raja Ampat.
Tagar ini mencerminkan keresahan publik, khususnya masyarakat setempat, terhadap dampak negatif aktivitas tambang yang berpotensi merusak lingkungan. Keindahan alam Raja Ampat yang dijuluki sebagai “surga tersembunyi Indonesia” kini terancam rusak, baik dari sisi ekosistem laut maupun darat.
Merespons dan mendukung upaya pelestarian alam merupakan hal yang sangat penting, terutama bagi umat Islam, sebagai pemeluk agama terbesar di Indonesia. Sikap ini bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga bagian dari ajaran sunah Rasulullah SAW.
Nabi Muhammad sebagai suri teladan sepanjang masa, telah menggaungkan pentingnya mencintai dan menjaga alam sejak ribuan tahun lalu. Hal ini tercermin dalam berbagai sabda beliau yang menunjukkan kepedulian terhadap sesama makhluk Tuhan. Salah satu hadits yang menggambarkan hal tersebut adalah:
الرَاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوْا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Artinya: ”Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Tuhan Yang Maha Penyayang. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya Dia yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR Al Baihaqi)
Menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan merupakan salah satu bentuk kasih sayang kepada sesama makhluk. Sebab, melalui upaya tersebut, makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan dapat hidup dan memperoleh haknya untuk melangsungkan kehidupan dengan layak. Lingkungan yang terjaga memungkinkan terciptanya ekosistem yang seimbang, di mana setiap makhluk hidup dapat tumbuh dan berkembang sesuai fitrahnya.
Sebaliknya, merusak dan mengeksploitasi alam merupakan bentuk ketidakpedulian terhadap sesama makhluk Tuhan. Tindakan ini dapat membahayakan kelangsungan hidup makhluk lain, merusak ekosistem, serta menimbulkan kerusakan yang meluas.
Rasulullah SAW mengecam keras perilaku semacam ini. Beliau bahkan memperingatkan adanya balasan dari Allah bagi siapa pun yang berbuat zalim terhadap alam dan makhluk hidup di dalamnya. Merusak lingkungan bukan hanya persoalan duniawi, tetapi juga membawa konsekuensi spiritual di akhirat.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ ، مَنْ ضَارَّ ضَارَّهُ اللَّهُ ، وَمَنْ شَاقَّ شَاقَّ اللَّهُ عَلَيْهِ
Artinya: ”Dari Abu Sa’id Al-Khudri Ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda:”Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain. Barang siapa yang menyakiti (membahayakan) orang lain, maka Allah akan menyakitinya. Dan barang siapa yang mempersulit (menyusahkan) orang lain, maka Allah akan mempersulitnya.” (HR. Al Hakim)
Rasulullah juga memberikan apresiasi dan menganjurkan berbagai upaya pelestarian alam, seperti penghijauan, menjaga sumber air, dan tindakan-tindakan lain yang bermanfaat bagi lingkungan.
Upaya-upaya tersebut tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga dapat menjadi ladang pahala jariyah di akhirat selama memberi manfaat bagi makhluk lain.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah mencontohkan tentang seseorang yang menanam pohon. Ketika pohon tersebut memberikan manfaat, misalnya sebagai sumber makanan bagi burung atau makhluk lain, maka hal itu menjadi sedekah yang terus mengalir pahalanya bagi pemilik pohon tersebut.
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَ مَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَ مَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةً وَ لاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً
Artinya: ”Tidak ada seorang Muslim pun yang menanam tanaman, kecuali apa yang dimakan dari tanaman itu menjadi sedekah baginya, apa yang dicuri darinya menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan oleh burung juga menjadi sedekah baginya, dan tidak ada yang dirugikan olehnya kecuali hal itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Imam Muslim)
Kita sebagai manusia yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai khalifah di bumi, tentunya wajib untuk menjaga dan melestarikan alam. Selain hal itu suatu bentuk meneladani dan mengikuti sunah Rasul, hal ini juga berdampak positif bagi manusia. Ekosistem seimbang, dan tentunya tidak akan terjadi bencana-bencana alam akibat terganggunya ekosistem alam, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, dan lain-lain. #SaveRajaAmpat. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin
