Arina.id - Lailatul Qadar menjadi momen spesial dan paling didambakan oleh setiap muslim saat bulan Ramadan. Lailatul Qadar menjadi salah satu solusi untuk menambah nilai ibadah masyarakat Muslim yang mayoritas berumur pendek. Sebab beribadah di malam ini sama dengan seribu bulan.
Berbagai macam praktik ibadah dilakukan untuk menggapainya, mulai dari membaca Al-Qur’an, sholat Tahajjud, berdzikir di sepertiga malam, dan rangkaian sholat-sholat sunnah lainnya.
Sebagian umat Islam ada yang mulai melakukan ritual ini sejak malam tanggal 1 Ramadan hingga malam 1 Syawal. Sebagian yang lain melakukannya di 10 hari terakhir bulan Ramadan terutama di tanggal ganjil. Banyak dari mereka yang melakukannya di masjid dengan beri’tikaf dan tidak sedikit pula yang melakukannya di rumah.
Namun, terdapat sebuah keterangan di beberapa literatur klasik tentang cara menggapai Lailatul Qadar hanya dengan melakukan ibadah sholat Isya berjamaah. Sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Tabarani no. 889 dari Abi Umamah berikut:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Artinya: "Dari Abu Umamah dari Nabi berkata “Barang siapa yang sholat Isya berjamaah, maka dia telah mengambil bagiannya dari Lailatul Qadar”.
Hadits tersebut memang masih banyak menerima kritik dari para kritikus hadits, terutama tentang kredibilitas sanadnya dan banyak yang mengkategorikannya sebagai hadits dha’if seperti Syekh Nuruddin Ali al-Haitsami dalam Majma’ul Zawa’id wa Manba’ul Fawaid [Kairo: Al-Qudsi, 1994, juz 2, hal. 40] Dalam sanadnya terdapat salah satu perawi yang lemah yakni Maslamah bin Ali.
Terlepas dari kritik kredibilitas sanad hadits tersebut, pada kenyataanya ada juga ulama lain yang meriwayatkan keterangan yang sama meskipun secara eksplisit tidak menyandarkan riwayat itu kepada Rasulullah. Di antaranya adalah Imam Malik bin Anas dalam Muwattha’-nya no. 890 berikut:
حَدَّثَنَا أَبُو مُصْعَبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مَالِكٌ؛ أَنَّهُ بَلَغَهُ ، أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ كَانَ يَقُولُ: مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا.
Artinya: "Imam Malik bercerita beliau mendapatkan informasi bahwa Sa’id bin Musayyab berkata: barang siapa yang sholat Isya di malam Lailatul Qadar maka dia telah mendapatkan bagiannya."
Terkait pernyataan Imam Malik Syekh Ibnu Abdil Bar menyebutkan sebagai berikut:
قَالَ أَبُو عُمَرَ مِثْلُ هَذَا لَا يَكُونُ رَأْيًا وَلَا يُؤْخَذُ إِلَّا تَوْقِيفًا وَمَرَاسِيلُ سَعِيدٍ أَصَحُّ الْمَرَاسِيلِ وَفِيهِ الْحَضُّ عَلَى شُهُودِ الْعِشَاءِ فِي جَمَاعَةٍ وَبَيَانُ فَضِيلَةِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Artinya: "Abu Umar mengatakan: perkataan seperti ini bukanlah sebuah pendapat pribadi, dan tidak dinukil kecuali tauqifi (tidak membutuhkan alasan logis), sedangkan hadits-hadits mursal Sa’id bin Musayyab adalah hadits mursal yang paling sahih. Perkataan itu mengandung anjuran melakukan sholat Isya berjamaah dan menjelaskan fadhilah Lailatul Qadar." (Al-Istidzkar, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2000], juz 3, hal. 417.).
Syekh Muhammad bin Abdul Baqi al-Zarqani menjelaskan bahwa ucapan Ibnul Musayyab itu sebenarnya merupakan interpretasi dari beberapa hadits sebagaimana berikut:
وَفِي نَحْوِ قَوْلِهِ صلى الله عليه وسلم: " «مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» "، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَأَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَزَادَ فِي سُنَنِهِ الْكُبْرَى: " وَمَا تَأَخَّرَ ". وَقَالَ الْبَاجِيُّ: هُوَ بِمَعْنَى الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ: " «مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ لَيْلَةٍ» "، وَخَصَّهَا لِأَنَّهَا مِنَ اللَّيْلِ دُونَ الصُّبْحِ فَلَيْسَ مِنْهُ. وَرَوَى الْبَيْهَقِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَالطَّبَرَانَيُّ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ مَرْفُوعًا: " «مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ» "، وَرَوَى الْخَطِيبُ عَنْ أَنَسٍ رَفَعَهُ: " «مَنْ صَلَّى لَيْلَةَ الْقَدْرِ الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ فَقَدْ أَخَذَ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ بِالنَّصِيبِ الْوَافِرِ» ". وَفِي مُسْلِمٍ مَرْفُوعًا: " «مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَيُوَافِقُهَا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» "، وَلِأَحْمَدَ وَالطَّبَرَانِيِّ عَنْ عُبَادَةَ مَرْفُوعًا: " «فَمَنْ قَامَهَا إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا ثُمَّ وُفِّقَتْ لَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ» ".
Artinya: "Perkataan itu sebagaimana hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Abu Dawud, Turmudzi dan Nasa’i berikut “Barang siapa yang beribadah di Lailatul Qadar dengan keimanan dan penghambaan maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. Terdapat tambahan dalam Sunan Kubra “dan yang akan datang”. Syekh al-Baji mengatakan, itu sama dengan hadits yang telah disebutkan yaitu “Siapa yang melakukan sholat Isya dengan berjamaah maka seakan beribadah setengah malam”, Isya dipilih karena masih temasuk malam, tidak sebagaimana Subuh. Imam Baihaqi juga meriwayatkan hadits Marfu’ dari Abu Hurairah dan al-Tabarani dari Abu Umamah “Barang siapa yang sholat Isya berjamaah maka dia mendapatkan bagiannya dari Lailatul Qadar”. Al-Khathib juga meriwayatkan hadits marfu’ dari Anas bin Malik “Barang siapa yang sholat Isya dan subuh berjamaah di Lailatul Qadar maka dia telah mengambil bagiannya dengan sempurna”. Dalam sahih Muslim juga terdapat hadits marfu’ “siapa yang beribadah di Lailatul Qadar lalu mencocokinya maka dia diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. Riwayat Imam Ahmad dan al-Tabarani dari Ubadah bin Shamit dengan hadits marfu’ “maka barang siapa yang beribadah di Lailatul Qadar dengan keimanan dan penghambaan lalu dia menepatinya maka dosa-dosanya yang lalu dan akan datang telah diampuni”. (Syarh Zarqani alal Muwatha’, [Kairo: Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyah, 2003], juz 2, hal. 326.).
Meskipun Lailatul Qadar tidak diketahui terletak di malam keberapa selama bulan Ramadan, upaya seserorang untuk menggapainya dengan melakukan sholat Isya berjamaah dari awal Ramadan hingga menjelang hari raya Idul Fitri adalah hal yang patut untuk diapresiasi.
Terlebih jika dia istiqamah melakukan sholat Isya berjamaah, ditambah dengan sholat Tarawih, dan sholat Witir berjamaah baik di masjid atau mushala sebagaimana yang sudah terjadi di masyarakat sekitar. Tentunya dengan aktivitas ibadah harian itu, bukan tidak mungkin Lailatul Qadar bisa digapai. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin
