Kebanyakan sosok seorang ayah hanya fokus untuk bekerja demi mempertahankan keseimbangan perekonomian rumah tangga dan melupakan untuk mendoakan anaknya atau melakukan riyadhah tertentu untuk memberkati kehidupan anak. Umumnya tugas ini diserahkan kepada seorang ibu.
Padahal Al-Qur’an merekam banyak doa-doa seorang ayah kepada anaknya dan komunikasi pola asuh anak dalam Al-Qur’an lebih banyak antara seorang ayah dengan anaknya. Bukan ibu kepada anaknya.
KH. Afifuddin Dimyathi dalam seminar bertema Nuansa Aswaja dalam Tafsir Hidayatul Qur’an yang diselenggarakan oleh Aswaja Center PCNU Sidoarjo bekerjasama KBIH Rohmatul Ummah An-Nahdliyah Sidoarjo pada Ahad (20/10/2024) mengatakan bahwa sejatinya doa seorang ayah lebih mengena dan lebih mujarab dari pada doa seorang ibu.
Kesimpulan itu beliau ungkapkan ketika diajukan pertanyaan oleh Ustaz Ainur Rofiq tentang mengapa komunikasi pola asuh dalam Al-Qur’an lebih sering antara ayah dengan anak, bukan ibu dengan anaknya seperti dalam Surat Hud ayat 42 tentang kisah Nabi Nuh dengan anaknya yang bernama Kan’an:
وَهِيَ تَجْرِيْ بِهِمْ فِيْ مَوْجٍ كَالْجِبَالِۗ وَنَادٰى نُوْحُ ِۨابْنَه وَكَانَ فِيْ مَعْزِلٍ يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ
Artinya: "Bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung-gunung. Nuh memanggil anaknya, sedang dia (anak itu) berada di tempat (yang jauh) terpencil, “Wahai anakku, naiklah (ke bahtera) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.”.
KH. Afifuddin Dimyathi menjawab bahwa Al-Qur’an lebih memunculkan komunikasi antara ayah dengan anaknya. Komunikasi itu menunjukkan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya meskipun anak itu berbuat kesalahan. Kasih sayang seorang ayah sangat kuat kepada anaknya dengan bukti Nabi Nuh masih mendoakan anaknya untuk bisa selamat bersamanya meskipun doa itu tidak dikabulkan oleh Allah.
Kisah tersebut terekam dalam surat Hud ayat 45-46 berikut:
وَنَادٰى نُوْحٌ رَّبَّه فَقَالَ رَبِّ اِنَّ ابْنِيْ مِنْ اَهْلِيْۚ وَاِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَاَنْتَ اَحْكَمُ الْحٰكِمِيْنَ. قَالَ يٰنُوْحُ اِنَّه لَيْسَ مِنْ اَهْلِكَ ۚاِنَّه عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِه عِلْمٌ ۗاِنِّيْٓ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ
Artinya: "Nuh memohon kepada Tuhannya seraya berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil. Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu karena perbuatannya sungguh tidak baik. Oleh karena itu, janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Sesungguhnya Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang bodoh.”.
Gus Awis, panggilan akrab beliau, menafsirkan surat Hud ayat 45 tentang doa Nabi Nuh kepada anaknya yang berhubungan dengan surat Hud ayat 40 sebagai berikut:
وَالْمَعْنَى وَنَادَى نُوْحٌ عليه السلام رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ إِبْنِيْ مِنْ أَهْلِيْ وَقَدْ وَعَدْتَنِيْ بِنَجَاةِ أَهْلِيْ فِيْ قَوْلِكَ. قُلْنَا احْمِلْ فِيْهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَاَهْلَكَ. وَإِنَّ وَعْدَكَ الحَقُّ الَّذِيْ لَا تُخْلِفُهُ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الحَاكِمِيْنَ
Artinya: "Makna ayat tersebut adalah Nabi Nuh berdoa kepada Allah “Wahai Tuhanku sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan engkau telah berjanji kepadaku atas keselamatan keluargaku dalam firman-Mu. Kami berfirman, “Muatkanlah ke dalamnya (bahtera itu) dari masing-masing (jenis hewan) sepasang-sepasang (jantan dan betina), keluargamu. Sesungguhnya janjimu adalah kebenaran yang tidak engkau ingkari, dan engkau adalah paling bijak dari sekian orang-orang bijak." (Afifuddin Dimyathi, Hidayatul Qur’an fi Tafsiril Qur’an bil Qur’an, [Yogyakarta: Maktabah Iskandariyah, 2023], juz 2, hal. 222-223.).
Ayat ini dan kisah Nabi Nuh menunjukkan seberapa besar kasih sayang seorang ayah kepada anaknya meskipun anak itu berbuat salah. Seberapa besar kesalahan anak, seorang ayah pasti akan memintakan ampunan atas kesalahan tersebut. Ini menunjukkan kepada ketulusan hati seorang ayah ketika mendoakan anaknya.
Gus Awis juga menyinggung terkait hadits Nabi Muhammad tentang doa Nabi Ibrahim yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwah berikut:
دَعْوَةُ أَبِيْ إِبْرَاهِيْمَ ، وَبِشَارَةُ عِيْسَى بِيْ ، وَرُؤْيَا أُمِّي الَّتِيْ رَأَتْ ؛ وَكَذَلِكَ أُمَّهَاتُ النَّبِيِّيْنَ يَرَيْنَ
Artinya: "Doa ayahku Ibrahim, kabar baik dari Isa tentangku, mimpi ibuku, dan mimpi ibu-ibu para Nabi."
Imam al-Baihaqi menjelaskan maksud dari doa Nabi Ibrahim adalah sebagaimana yang terekam dalam Surat Al-Baqarah ayat 129 berikut:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْ ۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ
Artinya: "Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kitab suci dan hikmah (sunah) kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Al-Baihaqi menginterpretasikan hadits dan doa Nabi Ibrahim tersebut sebagai berikut:
فَكَانَ النَّبِيْ صلى الله عليه وسلم يقول : « أَنَا دَعْوَةُ أَبيْ إِبْرَاهِيْمَ » وَمَعْنَاهُ : أَنَّ اللهَ تعالى لَمَّا قَضَى أَنْ يَجْعَلَ مُحَمَّداً صلى الله عليه وسلم خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ ، وَأَثْبَتَ ذَلِكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ ، أَنْجَزَ هَذَا القَضَاءَ بِأَنْ قَيَّضَ إِبْرَاهِيْمَ عليه السلام لِلدُّعَاءِ الَّذِيْ ذَكَرْنَا لِيَكُوْنَ إِرْسَالُهُ إِيَّاهُ بِدُعَائِهِ كَمَا يَكُوْنُ تَقَلُّبُهُ مِنْ صُلْبِهِ إِلَى أَصْلَابِ أَوْلَادِهِ.
Artinya: "Maksud dari ucapan Nabi Muhammad “Aku adalah doa dari ayahku Ibrahim” adalah bahwa Allah ketika mentakdirkan Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir dan telah ditetapkan dalam Lauhul Mahfudz, Allah merealisasikan ketetapan ini dengan mentakdirkan Nabi Ibrahim untuk berdoa sebagaimana dalam al-Baqarah ayat 129 agar terutusnya Nabi Muhammad disebabkan oleh doa Nabi Ibrahim sebagaimana Nur Muhammad yang berpindah dari sukmanya hingga kesukma keturunannya." (Ahmad bin Husain al-Baihaqi, Dalailun Nubuwwah, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2008], juz 1, hal. 81.).
Banyak redaksi doa-doa para Nabi untuk anaknya yang terekam dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan secara implisit bahwa seorang ayah seharusnya juga memperhatikan untuk mendoakan anak-anaknya dan melakukan tirakat untuk kesalehan dan kesuksesan anak-anaknya sebagaimana yang dilakukan oleh para Nabi. Pasalnya, bisa dipahami bahwa doa seorang ayah kepada anaknya lebih mustajab dari pada doa seorang ibu sebagaimana doa pada nabi kepada anaknya. Wallahu a'lam bis shawab.
Editor: Muhammad Faizin
