Anjuran Tak Berpuasa Seluruh Hari di Bulan Sya’ban

Anjuran Tak Berpuasa Seluruh Hari di Bulan Sya’ban

Arina.id – Rasulullah menyebut bahwa bulan Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia karena berada di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Selain itu, Sya’ban adalah waktu diangkatnya amal kepada Allah, sehingga Rasulullah menyukai jika amal beliau diangkat dalam keadaan berpuasa. Hal ini menunjukkan keutamaan mempersiapkan diri dengan ibadah sebelum datangnya Ramadhan.

Kita diingatkan Rasulullah untuk tidak melalaikan bulan Sya’ban sekaligus memperbanyak amal kebaikan, serta menjadikannya sebagai waktu persiapan ruhani menuju Ramadhan. Puasa sunnah, memperbanyak istighfar, dan meningkatkan amal saleh menjadi cara agar kita memasuki Ramadhan dalam kondisi iman yang lebih baik dan siap beribadah secara maksimal.

Dalam Sunan Annasa'i 4/201 dan Hilyatul Aulia 9/18 Rasulullah Bersabda:

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ أَبُو الْغُصْنِ -  شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ - قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ قَالَ: حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ: «قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ! قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya: "Telah mengabarkan padaku Amr bin Ali, dari Abdurrahman, ia berkata: Tsabit bin Qais telah bercerita padaku, seorang syekh dari Madinah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abi Said al-Maqburi, ia berkata: telah bercerita kepadaku Usamah bin Zaid, ia berkata: Saya mengucap pada Rasulullah, Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihat anda berpuasa sunnah lebih banyak di bulan lain daripada bulan Sya'ban. Rasulullah merespon: Itu bulan yang sering dilupakan umat Islam, yang terletak di antara Rajab dan Ramadhan. Bulan itu seluruh amal akan diangkat ke langit, dan aku menyukai saat itu dalam keadaan berpuasa".

Lantas apakah Rasulullah berpuasa sunnah bulan Sya'ban selama satu bulan penuh? Dalam keterangan Syarah Sahih Bukhari 4/116 disebutkan:

وقول عائشة فى حديث يحيى عن أبى سلمة بأنه كان يصوم شعبان كله، فليس على ظاهره وعمومه، والمراد أكثره لا جميعه، 

Artinya: "Perkataan Aisyah dalam hadits yang diriwayatkan Yahya dari Abi Salamah bahwa sesungguhnya Rasulullah puasa sunnah Sya'ban keseluruhan itu bukanlah dipahami secara tekstual dan umum, akan tetapi lebih banyak berpuasa sunnah di bulan Sya'ban, bukan keseluruhan bulan Sya'ban."

Dari hadits ini bisa dipahami bahwa pada bulan Sya'ban disunnahkan untuk berpuasa sebanyak mungkin tapi tidak berpuasa sunnah keseluruhannya. Sebab dalam Sahih Bukhari dan Muslim yang juga bersumber dari Aisyah secara tegas menyatakan bahwa:

فَما رَأَيْتُ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إلَّا رَمَضَانَ، وما رَأَيْتُهُ أكْثَرَ صِيَامًا منه في شَعْبَانَ. 

Artinya: "Aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa secara sempurna satu bulan kecuali bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah puasa sunnah begitu banyak ketimbang puasa sunnah di bulan Sya'ban." (HR. Bukhari: 1969)

Bahkan kebanyakan ulama madzhab Syafi'i melarang berpuasa sunnah sejak tanggal 16 Sya'ban sebagaimana disebutkan dalam kitab Nailul Autar 4/349:

وقد قطع كثير من الشافعية بأن ابتداء المنع من أول السادس عشر من شعبان واستدلوا بحديث العلاء بن عبد الرحمن عن أبيه عن أبي هريرة مرفوعا : ( إذا انتصف شعبان فلا تصوموا ) أخرجه أصحاب السنن وصححه ابن حبان وغيره

Artinya: "Menurut pendapat kebanyakan ulama dari kalangan ulama madzhab Syafi'i permulaan larangan berpuasa Sya’ban adalah tanggal 16 Sya’ban berdasarkan hadits riwayat al-Allaa’ bin Abdur Rahman dari ayahnya dari Abu Hurairah: “Bila bulan Sya’ban telah menjadi separuh, janganlah kalian berpuasa” (HR . Ashaab assunan disahihkan oleh Ibnu Hibban dan lainnya).

Jadi walaupun dianjurkan berpuasa sunnah di bulan sya’ban, namun tidak dipahami berpuasa keseluruhannya, melainkan lebih kepada memperbanyak puasa sunnahnya. Hal ini diperkuat dengan pendapat banyak ulama Syafi'iyah yang melarang berpuasa sunnah kecuali puasa itu adalah puasa qadha', puasa nadzar dan puasa sunnah yang menjadi kebiasaannya. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
logo