Ramai Tagar KaburAjaDulu, Bagaimana Hukum Pindah Kewarganegaraan?

Ramai Tagar KaburAjaDulu, Bagaimana Hukum Pindah Kewarganegaraan?

Arina.id - Tagar #kaburajadulu beberapa hari menempati posisi topik utama media sosial masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan berbagai faktor seperti beasiswa pendidikan yang berkualitas dan juga faktor ekonomi seperti sulit mencari kerja yang layak bagi lulusan sarjana dalam negeri.

Bahkan faktor politis juga ada di balik ramainya tagar ini sebagai gerakan kurang puas terhadap kinerja pemerintah. Tak pelak, tagar tersebut menjadi sebuah kampanye untuk mengadu nasib di luar negeri.

Sebenarnya fenomena “hijrah lintas negara” ini bukan hal baru bagi masyarakat Indonesia. Buktinya, banyak para ulama Nusantara yang menetap dan mengajar di Masjidil Haram seperti Syekh Nawawi Banten, Syekh Mahfudz Termas, Syekh Khathib Minangkabau dan komunitas Jawiyyun yang sangat terkenal di Makkah Mukarramah. Era itu sebagaimana catatan Zainul Milal Bizawie dalam Masterpiece Islam Nusantara.

Pada dasarnya, seseorang berhak untuk menentukan negara mana dia akan tinggal. Ia tidak harus menetap di negara tempat dia dilahirkan. Hanya saja keterkaitan batin dengan keluarga dan kerabat dekat di negara kelahirannya membuatnya memilih untuk menetap dan hidup di negara itu.

Adanya ikatan persaudaraan, etnis, rumpun, dan bahasa menjadikannya memiliki ideologi nasionalisme terhadap negara tempat dia dilahirkan sehingga dia akan merasa asing jika harus hidup di luar negara itu.

Pemerintah Indonesia sebenarya tidak melarang warganya untuk berpindah negara. Hal ini dibuktikan dengan adanya undang-undang yang mengatur seseorang yang berpindah dari WNI menjadi WNA seperti UU. No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, PP. No. 2 Tahun 2007 tentang tata cara memperoleh kehilangan pembatalan dan memperoleh kembali kewarganegaraan Republik Indonesia, dan perubahnya melalui  PP. No. 12  Tahun 2022.

Hukum fiqih Islam juga sebenarnya tidak mengatur tentang kewarganegaraan seseorang secara spesifik. Hanya saja fiqih Islam menyorot jika negara tujuan seorang Muslim untuk berpindah adalah negara non-Muslim seperti mayoritas negara Eropa dan Amerika.  

Darul Ifta’ Mishriyah dalam fatwanya pada 03 September 2015 no. 2421 secara jelas membahas tentang perpindahan status kewarganegaraan seorang Muslim. Darul Ifta mendefinisikan status kewarganegaraan dengan mengutip kamus al-Wasith sebagai berikut:

علاقَة قانونية ترْبط فَردًا معينًا بدولة مُعينَة وَقد تكون أصيلة أَو مكتسبة

Artinya: "Keterkaitan hukum yang menghubungkan seseoran dengan pemerintahan negara tertentu, terkadang sebagai penduduk asli terkadang juga naturalisasi."

Darul Ifta Mishriyah secara eksplisit tidak mepermasalahkan fenomena ini. Bahkan dalam fatwa itu, Darul Ifta Mishriyah mengklasifikasi faktor perpindahan tersebut dengan konsekuensi hukum yang berbeda sebagai berikut:

والحكم في هذه المسألة ينبني على دافع الهجرة والتجنس، وكذلك على الوضع الحقيقي للدولة المهاجر إليها، فقد يكون إقدام الفرد على هذا الفعل فرضًا عينيًّا مثل: فرار المرء بدينه، ولا يتحقق ذلك إلا في هذه الدولة أو مثلها.  وقد يكون السفر ويتبعه التجنس من أجل الحصول على شيء مباح؛ مثل طلب الرزق، وقد يكون مستحبًا أو واجبًا كفائيًّا؛ مثل: الحصول على علوم يحتاج إليها المسلمون

Artinya: "Hukum problematika ini sebenarnya tergantung kepada faktor seseorang berpindah kewarganegaraan, begitu juga situasi nyata terkait kondisi pemerintahan negara yang dituju, terkadang tindakan seorang Muslim tentang hal ini adalah fardhu ain seperti melarikan diri untuk menyelamatkan agamanya dan hal itu tidak bisa terwujud kecuali di negara tujuannya, terkadang perpindahan status kewarganegaraan ini bertujuan untuk mendapatkan hal yang mubah seperti pekerjaan, terkadang juga sunnah atau fardhu kifayah seperti mempelajari ilmu yang diperlukan oleh masyarakat Muslim."

Terkait dengan negara tujuan berpindah kewarganegaraan, Darul Ifta’ Mishriyah memberikan catatan boleh untuk negara yang tidak melarang atau membatasi seorang Muslim untuk melakukan peribadatannya sebagai berikut:

أما بخصوص التجنس بجنسية دولة يضيق عليه فيها في عقيدته، كبعض الدول التي تنكر الدين إنكارًا تامًّا؛ فلا يجوز التجنس بجنسيتها، إلا إذا أخذ الجنسية من أجل الحصول على جواز سفر منها، ثم يهاجر إلى دولة أخرى. أما السفر إلى دولة فيها حرية التدين في الغالب ولا يكون لها تأثير على عقيدته وديانته فلا بأس في هذه الحالة بالتجنس، ويدور الأمر في هذه الحالة على الجواز أو الاستحباب أو الوجوب، بحسب الحالة كما تقدم، ويستمر الحكم ما لم تتغير الأحوال إلى ما يدعو إلى تغيره

Artinya: "Jika dia berwarga negara di negara yang bisa mempersulit akidah keislamannya seperti sebagian pemerintahan yang sagat sekuler dan mengingkari keagamaan maka tidak boleh berwarga negara di negara itu kecuali hanya untuk izin masuk ke negara itu saja kemudian berpindah ke negara lain. Jika di negara yang membebaskan penduduknya untuk melakukan peribadatan keagamaan masing-masing dan tidak ada pengaruh terhadap akidah keislamannya, maka boleh mengambil kewarganegaraan di negara tersebut, dan kebolehan ini berlaku sampai kepada terjadinya perubahan kebijakan pemerintah sebagaimana negara yang membatasi praktik keagamaan warganya."

Kasus serupa juga pernah ditanyakan kepada Syekh Syamsuddin al-Ramli terkait masyarakat Muslim di Aragon Andalusia yang pada waktu itu dikuasai oleh imperium Nasrani. Penguasa pada waktu itu memungut pajak bumi kepada mereka, akan tetapi mereka aman untuk melakukan peribadatan seperti sholat, puasa Ramadan,dan terjamin keamanannya. Apakah mereka masih diwajibkan untuk bertransmigrasi ke negara Muslim?

Syekh al-Ramli menjawab sebagai berikut:

بِأَنَّهُ لَا تَجِبُ الْهِجْرَةُ عَلَى هَؤُلَاءِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ وَطَنِهِمْ لِقُدْرَتِهِمْ عَلَى إظْهَارِ دِينِهِمْ بِهِ -الى أن قال- وَفِيمَا ذَكَرَ فِي السُّؤَالِ مِنْ إظْهَارِهِمْ أَحْكَامَ الشَّرِيعَةِ الْمُطَهَّرَةِ وَعَدَمِ تَعَرُّضِ الْكُفَّارِ لَهُمْ بِسَبَبِهَا عَلَى تَطَاوُلِ السِّنِينَ الْكَثِيرَةِ مَا يُفِيدُ الظَّنَّ الْغَالِبَ بِأَنَّهُمْ آمِنُونَ مِنْهُمْ مِنْ إكْرَاهِهِمْ عَلَى الِارْتِدَادِ عَنْ الْإِسْلَامِ أَوْ عَلَى إجْرَاءِ أَحْكَامِ الْكُفْرِ عَلَيْهِمْ

Artinya: "Mereka tidak wajib berhijrah dari negara mereka itu sebab mereka mampu untuk menampakkan praktik peribadatan agama mereka di negara itu. Sebagaimana yang tercatat dalam pertanyaan terkait menampakkan praktik hukum syariah dan tidak adanya resistensi non-Muslim terhadap hal itu di beberapa tahun merupakan suatu persepsi kuat bahwa masyarakat Muslim aman hidup di negara tersebut dalam arti tidak dipaksa untuk murtad atau memberlakukan hukum non-Muslim kepada mereka." (Fatawa al-Ramli, [Maktabah al-Islamiyah],  juz 3, hal. 53.).

Walhasil, fiqih Islam memandang fenomena pindah kewarganegaraan sebagai hal yang diperbolehkan atas dasar faktor pekerjaan dan pendidikan, bahkan bisa menjadi wajib jika keamanannya tidak terjamin di negara asal dia tinggal. 

Fiqih Islam memandang juga terhadap negara tujuan untuk berpindah kewarganegaraan. Jika negara tersebut sangat resisten terhadap praktik keagamaan, dan bahkan bisa membahayakan para pemeluk agama, maka pindah ke negara itu tidak diperbolehkan. Jika saja negara tujuan adalah negara yang membebaskan warganya untuk melakukan praktik keagamaan tanpa adanya intervensi dari pemerintah, maka tentunya boleh berpindah kewarganegaraan di negara tersebut. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
logo