3 Desember Hari Disabilitas Internasional: Kisah Sahabat Difabel Nabi yang Dibela Al-Qur'an

3 Desember Hari Disabilitas Internasional: Kisah Sahabat Difabel Nabi yang Dibela Al-Qur'an

Arina.id - Hari Disabilitas Internasional, yang diperingati setiap 3 Desember, adalah momen berharga untuk mengingatkan kita akan pentingnya inklusi, penghormatan, dan penghargaan terhadap saudara-saudara kita yang hidup dengan kebutuhan khusus atau yang lebih dikenal dengan difabel. 

Momen ini juga mengajarkan kita untuk lebih bersyukur atas anugerah Tuhan berupa fisik dan akal yang telah diberikan, seraya menghargai perjuangan luar biasa saudara-saudara kita dengan disabilitas dalam menghadapi berbagai tantangan hidup dengan ketabahan dan semangat yang luar biasa.

Dalam Islam, perhatian dan dukungan terhadap kaum difabel telah dicontohkan langsung oleh Allah dan diabadikan dalam Al-Qur'an surah ‘Abasa ayat 1-10 berikut;

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿١﴾ أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ ﴿٢﴾ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ ﴿٣﴾ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ ﴿٤﴾ أَمَّا مَنِ ٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿٥﴾ فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ ﴿٦﴾ وَمَا عَلَيۡكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ ﴿٧﴾ وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسۡعَىٰ ﴿٨﴾ وَهُوَ يَخۡشَىٰ ﴿٩﴾ فَأَنتَ عَنۡهُ تَلَهَّىٰ ﴿١٠﴾

Artinya: ”Dia (Nabi Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum). Tahukah kamu barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pemebesar Quraisy, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang dia takut (kepada Allah), maka kamu (Muhammad) mengabaikannya.”

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa ayat-ayat dalam Surah 'Abasa turun berkenaan dengan sahabat Rasulullah SAW yang tunanetra, bernama Abdullah bin Ummi Maktum, sepupu istri Rasulullah, Siti Khadijah RA. Nama asli Abdullah bin Ummi Maktum adalah Amr bin Qais bin Za'idah. Namun, nama Abdullah bin Ummi Maktum lebih terkenal dan banyak disebut, sebagaimana tercantum dalam kitab Jami’ al-Ushul.

Suatu hari, Abdullah bin Ummi Maktum datang kepada Rasulullah SAW saat beliau sedang bersama para tokoh penting Quraisy, seperti 'Utbah dan Syaibah bin Rabi'ah, Abu Jahl bin Hisyam, al-'Abbas bin Abdul Muththalib, Umayyah bin Khalaf, dan al-Walid bin al-Mughirah. Rasulullah SAW saat itu sedang berdakwah kepada mereka, dengan harapan bahwa jika mereka masuk Islam, banyak orang lain yang akan mengikuti mereka.

Di tengah pembicaraan tersebut, Abdullah bin Ummi Maktum berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ، أَقْرِئْنِي وَعَلِّمْنِي مِمَّا عَلَّمَكَ اللهُ

Artinya: “Wahai Rasulullah, bacakanlah kepadaku dan ajarkanlah kepadaku apa yang Allah ajarkan kepadamu.” 

Ia mengulangi permintaan itu beberapa kali tanpa mengetahui bahwa Rasulullah SAW sedang sibuk berdakwah kepada para tokoh Quraisy tersebut. Rasulullah SAW merasa terganggu karena permintaan Abdullah memotong pembicaraan yang dianggap penting itu, sehingga beliau nampak kurang berkenan.

Kemudian, Allah menurunkan Surah 'Abasa untuk mengingatkan Rasulullah SAW atas sikapnya tersebut.

Selain menjadi orang yang dibela Al Qur’an, Abdullah Bin Ummi Maktum juga memiliki keistimewaan lainnya, yakni dipercaya Rasulullah untuk menjadi pemimpin di Madinah ketika Rasulullah sedang bepergian, termasuk memimpin shalat jamaah dan menyampaikan khutbah. 

عَنْ مُحَمَّدِ بنِ سَهْلِ بنِ أَبِي حَثْمَةَ، قَالَ اسْتَخْلَفَ رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- ابْنَ أُمِّ مَكْتُوْمٍ عَلَى المَدِيْنَةِ، فَكَانَ يَجْمَعُ بِهِم، وَيَخْطُبُ إِلَى جَنْبِ المِنْبَرِ، يَجْعَلُهُ عَلَى يَسَارِهِ

Afrtinya: ”Dari Muhammad bin Sahl bin Abi Hathmah, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah mengangkat Abdullah bin Ummi Maktum sebagai pengganti (pemimpin) di Madinah. Ia memimpin sholat jamaah bersama mereka dan berkhutbah di samping mimbar, dengan meletakkannya (mimbar) di sisi kirinya.” (Adz-Dzahabi Siyar A’lam An Nubala’ (Beirut; Muassasah Ar Risalah, 1985 juz 1 halaman 363)

Tak berhenti di situ, Abdullah bin Ummi Maktum adalah contoh nyata semangat dan dedikasi yang luar biasa dalam melayani agama Islam, meskipun memiliki keterbatasan fisik sebagai seorang tunanetra. Beliau adalah muazin (tukang adzan) Rasulullah SAW selain Bilal Bin Rabah yang terkenal itu:

قَالَتْ عَائِشَةُ: كَانَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍ مُؤَذِّناً لِرَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَهُوَ أَعْمَى  

Artinya: ”Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: “Abdullah bin Ummi Maktum adalah muazin Rasulullah SAW, meskipun ia seorang tunanetra.” (Adz-Dzahabi Siyar A’lam An Nubala’ (Beirut; Muassasah Ar Risalah, 1985 juz 1 halaman 362)

Dari kisah Abdullah bin Ummi Maktum, kita bisa belajar bahwa Islam memuliakan setiap individu tanpa memandang keterbatasan fisiknya. Sebagai sahabat Rasulullah SAW yang tunanetra, ia tetap menjalankan peran penting sebagai muazin dan pemimpin di Madinah. Turunnya Surah 'Abasa bahkan menunjukkan betapa Allah memberikan perhatian khusus kepada kaum difabel, mempertegas bahwa nilai manusia diukur dari ketakwaan, bukan kondisi fisiknya.

Pun kisah ini memberi pelajar kepada kita untuk selalu semangat menjalani hidup, apa pun keterbatasan yang dimiliki. Abdullah bin Ummi Maktum adalah teladan bahwa dengan iman dan usaha, setiap orang dapat berkontribusi besar bagi agama dan masyarakat. Mari kita jadikan momen Hari Disabilitas Internasional ini sebagai pengingat untuk terus mendukung, menghormati, dan memberi kesempatan kepada saudara-saudara kita yang difabel. Wallahu a’lam bis shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
logo