Wajib haji adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji sebagai pelengkap rukun haji. Jika salah satu wajib haji ini ditinggalkan, maka hajinya tetap sah, namun harus membayar dam (denda).
Seperti yang telah diketahui bahwa jamaah haji selepas niat ihram dari miqat makani dan berpakaian ihram, mereka berangkat menuju ke Arafah untuk wukuf.
Setelah wukuf, mereka melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah. Jemaah bermalam sebentar (mabit) atau singgah di Muzdalifah, kemudian melanjutkan menuju Mina untuk melempar jumrah.
Waktu pelaksanaan mabit dimulai saat lewat tengah malam pada tanggal 10 Dzulhijjah sampai terbit matahari. Durasi minimal menginap di Mina adalah mu‘dzam al-lail (sebagian besar waktu malam) terhitung mulai terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar. Misalnya jika kalkulasi waktu malam hari di Mina adalah 10 jam, maka menginap di Mina cukup 8 atau 9 jam. Tidak disyaratkan datang tepat setelah maghrib, namun boleh selepas Isya’ dengan catatan dapat menginap di sebagian besar waktu malam (mu’dzam lail) di Mina.
Selama bermalam di Muzdalifah, jemaah boleh beristirahat, atau singgah secukupnya untuk persiapan melempar jumrah di keesokan hari.
Muzdalifah secara bahasa bermakna al-izdilaf yang artinya ijtima; berkumpul. Jadi kata Muzdalifah itu artinya at-tajammu' atau al-iltiqa' (berkumpul atau bertemu).
Dalil disyariatkannya mabit di Muzdalifah terdapat dalam al-Quran:
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا۟ فَضْلًۭا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَٰتٍۢ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ ۖ وَٱذْكُرُوهُ كَمَا هَدَىٰكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِۦ لَمِنَ ٱلضَّآلِّينَ
Artinya: "Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril haram. Dan berdzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang tidak tahu." (QS. Al-Baqarah: 198).
Muzdalifah diartikan berkumpul, karena di tempat itu jemaah haji disunahkan mengumpulkan/menjamak dua shalat Maghrib dengan Isya'. Selain itu, di Muzdalifah juga dipergunakan mengumpulkan batu kecil untuk keperluan melempar jumrah.
Selama di Muzdalifah, jemaah haji dianjurkan memungut kerikil berukuran kecil (seukuran batu ketapel) untuk persiapan melempar jumrah pada 10 - 13 Dzulhijjah. Kerikil yang diperlukan untuk melempar jumrah berjumlah 70 untuk tiga hari.
Dalilnya adalah riwayat an-Nasa'i dengan sanad yang shahih dari Abdullah bin Abbas
قال لي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ غداةَ جمعٍ : هلُمَّ الْقُطْ لي فلقطتُ لهُ حصياتٍ من حصى الخذفِ فلمَّا وضعهُنَّ في يدِهِ قال : نعم بأمثالِ هؤلاءِ وإيَّاكم والغُلُوَّ في الدِّينِ فإنَّما هلك من كان قبلكم بالغُلُوِّ في الدِّينِ
Artinya: "Dari hadits Ibn Abbas ia berkata, Rasulullah bersabda kepadaku saat di pagi hari Idul Adha: carikan aku batu, lalu saya carikan beberapa batu kecil (kerikil), kemudian saya letakkan di atas tangan beliau. Rasulullah bersabda: lemparkan kerikil seperti ini, dan waspadailah dari perbuatan berlebihan dalam agama, sebab umat sebelum kalian hancur karena berlebihan dalam agama " (HR. Annasai)
Dalam redaksi lain:
قالَ لي رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليْهِ وسلَّمَ غداةَ العقبةِ وَهوَ على راحلتِه: هاتِ القِطْ لي. فلقطتُ لَهُ حصياتٍ هنَّ حصى الخَذفِ
Artinya: "Rasulullah saw bersabda kepadaku pada pagi hari melempar jumrah Aqabah, 'Pungutkan kerikil untukku.' Maka saya pun mencarikan kerikil untuk beliau sebesar kerikil ketapel." (HR. An-Nasai)
Namun untuk mempersingkat waktu dan agar tidak dibingungkan persoalan kerikil, jemaah haji boleh membawa kerikil dari wilayah masya’ir haram. Wilayah masya’ir haram adalah wilayah Arafah, Mina, termasuk tanah haram Makkah.
Di Muzdalifah ini para jemaah haji dianjurkan memperbanyak dzikir, doa dan bermunajat kepada Allah. Doa yang dibaca ketika sampai di Muzdalifah:
اَللّٰهُمَّ إِنَّ هٰذِهِ مُزْدَلِفَةُ جُمِعَتْ فِيْهَا أَلْسِنَةٌ مُخْتَلِفَةٌ تَسْأَلُكَ حَوَائِجَ مُتَنَوِّعَةً فَاجْعَلْنِيْ مِمَّنْ دَعَاكَ فَاسْتَجَبْتَ لَهُ وَتَوَكَّلَ عَلَيْكَ فَكَفَّيْتَهُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Allâhumma inna hâdzihi muzdalifatu jumi‘at fîhâ alsinatun mukhtalifatun, tas’aluka hawâija mutanawwi‘atan faj’alnî mimman da‘âka fastajabta lahu wa tawakkala ‘alaika fakaffaitahu yâ arḫamar râḫimîn
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya di Muzdalifah ini telah berkumpul bermacam-macam bahasa yang memohon kepada-Mu berbagai hajat yang beraneka ragam. Maka, masukkanlah aku ke dalam golongan orang yang berdoa lalu Engkau kabulkan, golongan orang yang berserah diri pada-Mu lalu Engkau lindungi dia, wahai Tuhan yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih."
Dalam kitab Adzkar 1/200 karya Imam an-Nawawi terdapat doa alternatif saat berada di Muzdalifah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِي فِي هَذَا المَكَانِ جَوامِعَ الخَيْرِ كُلِّهِ وَأَنْ تُصْلِحَ شَأْنِيْ كُلَّهُ، وَأَنْ تَصْرِفَ عَنِّي الشَّرَّ كُلَّهُ فَإِنَّهُ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ غَيْرُكَ وَلَا يَجُودُ بِهِ إِلَّا أَنْتَ
Allaahumma innii as-aluka an tarzuqanii fii haadzal makaani jawaami'al khairi kullihii, wa anttushliha sya'nii kullahu wa an tashrifa 'annisy-syarra kullahu, fa innahu laa yafʼalu dzaalika ghairuka, wa laa yajuudu bihi illaa anta
Artinya: "Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu, supaya Engkau menganugerahkan rezeki kepadaku dalam tempat ini berupa segala bentuk kebaikan supaya Engkau memperbaiki keadaanku seluruhnya dan menghilangkan dariku segala bentuk keburukan, karena tidak ada yang mampu melakukan selain Engkau dan tidak ada yang dapat memberikan-nya selain Engkau."
Dari sini dapat disimpulkan bahwa amalan jemaah haji yang berangkat dari Arafah menuju Muzdalifah adalah:
1. Mabit atau singgah sebentar di malam hari 10 Dzulhijjah
2. Mengumpulkan kerikil atau batu kecil sebagai persiapan melempar jumrah
3. Shalat jama' Maghrib dan Isya
4. Membaca wirid, talbiyah, dan doa.
Editor: Muhammad Faizin
