Etika Mudik Lebaran: dari Berwasiat sampai Bertaubat

Etika Mudik Lebaran: dari Berwasiat sampai Bertaubat

Lebaran Idul Fitri kian dekat, masyarakat banyak yang telah mempersiapkan diri pulang kampung halaman untuk bersua sanak famili, orang tua, kerabat, dan kolega masing-masing. 

Dalam proses pelaksanaan mudik, tentu banyak hal yang seyogyanya dipersiapkan sebelumnya. Salah satunya adalah memperhatikan beberapa etika sebelum berangkat menuju kampung halaman.

Mengacu kitab Al-Adzkar: 215 karya Imam Yahya bin Syaraf al- Nawawi al-Dimasyqi atau dikenal dengan Imam Nawawi, beliau menyampaikan:

 فإذا استقر عزمه على السفر فليجتهد في تحصيل أمور: منها أن يوصي بما يحتاج إلى الوصية به، وليشهد على وصيته، ويستحل كل من بينه وبينه معاملة في شئ، أو مصاحبة، ويسترضي والديه وشيوخه ومن يندب إلى بره واستعطافه، ويتوب إلى الله ويستغفره من جميع الذنوب والمخالفات، وليطلب من الله تعالى المعونة على سفره، وليجتهد على تعلم ما يحتاج إليه في سفره

Dalam keterangan ini dijelaskan bahwa ketika seseorang telah mantap untuk melakukan bepergian, dalam konteks ini adalah mudik lebaran, maka hendaklah berusaha untuk melakukan beberapa hal: 

  1. Berwasiat terhadap suatu hal yang perlu diwasiatkan dan hendaknya menghadirkan saksi atas wasiatnya tersebut.
  2. Menyelesaikan segala bentuk urusan yang terjadi antara dirinya dan orang lain /hak adami.
  3. Meminta doa restu kepada orang tua, guru, dan orang-orang yang terkasih.
  4. Bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya atas segala dosa dan kesalahan.
  5. Memohon pertolongan kepada Allah selama perjalanan yang dia lakukan.
  6. Berusaha mempelajari hal-hal yang perlu dan dibutuhkan dalam perjalanannya tersebut. 

Sebagai tambahan, Rasulullah dalam haditsnya menyebutkan sebelum berangkat bepergian, sebaiknya melaksanakan shalat sunnah dua rakaat terlebih dahulu: 

مَا خَلَّفَ أَحَدٌ عِنْدَ أَهْلِهِ أَفْضَلَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ يَرْكَعُهُمَا عِنْدَهُمْ حِيْنَ يُرْيْدُ سَفَرًا

Artinya: "Tiada seseorang meninggalkan hal yang lebih baik kepada keluarganya daripada melakukan shalat dua rakaat ketika hendak bepergian." (HR Thabrani, dari Muth'im bin Al-Miqdam)

Beberapa keterangan ini, jika ditarik dalam konteks kekinian, maka beberapa pesan etika dari Imam Nawawi sangat relevan, sebab tidak ada satupun manusia yang dapat menjamin keselamatan dirinya sendiri. 

Misalnya pada poin 1, 2, 3 merupakan pesan etika yang berhubungan dengan sesama (hak adami). Sebelum bepergian, sebaiknya pesan tentang kebaikan, berwasiat, dan menghadirkan saksi atas wasiatnya itu semestinya didahulukan. Ini merupakan sikap hati-hati. Sebab jikalau terjadi sesuatu di tengah perjalanan, maka persoalan waris maupun hak adami akan mudah diselesaikan.

Sedangkan poin 4,5, 6 adalah pesan etika yang berhubungan kepada Allah. Sebab bertaubat, meminta pertolongan keselamatan di perjalanan itu mutlak kekuasaan Allah. Oleh karena itu, setiap musafir wajib mempelajari ilmu yang berhubungan dengan bepergian/ safar, seperti memperbanyak doa, istighfar, bertaubat, memahami shalat jamak, qashar, dan sebagainya.

Walhasil, sebelum berangkat mudik atau bepergian menuju kampung halaman seyogyanya merealisasikan beberapa pesan etika di atas, agar selama perjalanan mendapat keberkahan dan keselamatan bersama.


Editor: Muhammad Faizin
logo