Surat Al-Fatihah merupakan surat dalam Al-Qur’an yang harus dihafalkan oleh setiap Muslim karena surat ini menjadi bacaan wajib dalam shalat. Bahkan Al-Fatihah menjadi sebuah bacaan untuk mengawali segala sesuatu yang positif seperti membuka acara dan sebagai doa untuk orang yang sudah meninggal atau bahkan yang masih hidup.
Surat Al-Fatihah mempunyai beberapa nama dan filosofis tersendiri. Nama-nama itu tentunya disematkan berdasarkan dalil hadits Nabi Muhammad. Nama serta dalilnya itu penting diketahui oleh masyarakat Muslim agar mereka lebih memahami terhadap surat yang selalu mereka baca dalam setiap peribadatan.
Al-Suyuthi dalam al-Itqan-nya mengatakan bahwa nama yang ditemukan untuk surat ini mencapai lebih dari 20 nama. Oleh karena banyak penyebutan terhadap surat al-Fatihah, maka itu menunjukkan bahwa surat ini benar-benar istimewa. (Abdurrahman al-Suyuthi, al-Itqan fi Ulumi al-Qur’an, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2018], hal. 83.).
Nama-nama tersebut adalah sebagai berikut:
1. Fatihatul Kitab
2. Fatihatul Qur’an
3. Ummul Kitab
4. Ummul Qur’an
5. Al-Qur’an al-Adzim
6. Al-Sab’u al-Matsani
7. Al-Wafiyah
8. Al-Kanzu
9. Al-Kafiyah
10. Al-Asas
11. Al-Nur
12. Al-Hamd
13. Al-Syukr
14. Al-Hamdu al-Ula
15. Al-Hamdu al-Qushra
16. Al-Ruqyah
17. Al-Syifa’
18. Al-Syafiyah
19. Al-Shalat
20. Al-Du’a
21. Al-Su’al
22. Ta’limul Mas’alah
23. Al-Munajah
24. Al-Tafwidh
Dari beberapa nama surat Al-Fatihah yang disebutkan oleh al-Suyuthi tersebut, menurut al-Zuhaili hanya ada tiga nama yang terkenal sebagai nama dari surat ini, yakni Al-Fatihah, Ummul Kitab atau Ummul Qur’an, dan Sab’u al-Matsani. (Wahbah al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, [Berut: Darul Fikr, 2009], juz I, hal. 67.).
Tidak semua nama-nama itu dijelaskan detail oleh al-Suyuthi, bahkan beberapa nama unik yang menarik untuk dikupas hanya dicantumkan saja tanpa keterangan seperti al-Hamdu al-Ula dan al-Hamdu al-Qushra.
Penulis mengutip penjelasan al-Suyuthi terhadap beberapa nama saja yang memang dijelaskan lumayan detail olehnya. Secara kebetulan nama-nama itu sesuai dengan catatan al-Zuhaili sebagai nama dari surat al-Fatihah sebagai berikut:
1. Fatihah
Nama ini digunakan sebagaimana peran surat ini sebagai pembuka dari mushaf Al-Qur’an, pembuka pembelajaran, dan juga pembuka bacaan wajib dalam shalat. Nama ini memang sesuai dengan arti dan perannya yakni pembuka.
2. Ummul Qu’ran/Kitab
Nama ini terkesan problematik jika disematkan kepada salah satu surat mengingat diksi ummul kitab lebih diartikan sebagai Lauhul Mahfudz sebagaimana disinggung dalam surat al-Ra’d ayat 39.
Al-Suyuthi membantah akan problematika itu, dia mengatakan bahwa terdapat hadits sahih yang meriwayatkan bahwa Al-Fatihah disebut juga dengan ummul kitab sebagai berikut:
إِذَا قَرَأْتُمْ الحَمْدَ فَأقْرَؤُوْا بِسْمِ اللهِ الرَّحْمن ِالرَّحِيْمِ إِنَّهَا أُمُّ القُرْآنِ وَأُمُّ الكِتَابِ وَسَبْعُ المَثَانِيْ
Artinya: “Ketika kalian membaca al-Hamdu, maka bacalah juga basmalah karena dia adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitab, dan Sab’ul Matsani”. (HR. Daruquthni).
Kronologi penamaan ini hampir sama dengan nama sebelumnya dan bahkan membuka cela perdebatan seakan tidak ada bedanya dengan nama sebelumnya dengan alasan yang sama. Akan tetapi al-Suyuthi memberikan pendekatan cerdas bahwa alasan nama kedua memandang bahwa ibu (umm) adalah permulaan dari seorang anak.
Al-Mawardi lebih menganggap makna filosofis Umm adalah pemuka dan pemimpin (Imam). Oleh karena itu kronologi penamaan ini menurutnya adalah bahwa surat ini menjadi pemuka bagi surat-surat setelahnya sebagaimana komandan perang menjadi pemuka bagi seluruh prajurit di belakangnya.
3. Al-Sab’u al-Matsani
Kronologi penamaan ini dalam catatan al-Suyuthi disebabkan karena surat ini terdiri dari tujuh ayat, ada yang mengatakan karena setiap ayatnya mengandung etika tersendiri sehingga surat ini mengandung tujuh etika meskipun pendapat ini tidak akurat menurut al-Suyuthi sendiri.
Sebagian pendapat mengatakan angka tujuh diinisiasi karena dalam surat ini tidak terdapat tujuh huruf hijaiyah yakni الثاء (tsa’), الجيم (jim), الخاء (kha’), الزي (za’), الشين (syin), الظاء (dza’), dan الفاء (fa’). Meskipun menurut al-Mursi pendapat ini agak sedikit aneh karena penamaan sesuatu diambil dari hal yang tidak ada dalam sesuatu tersebut yang bukan suatu ciri khas yang ada.
Sedangkan al-Matsani lebih diartikan dengan الثناء (pujian) karena surat ini mengandung pujian kepada Allah. Juga bisa diartikan dari lafadz الثنيا (pengecualian) karena surat ini eksklusif hanya ada dalam Al-Qur’an dan tidak ada di kitab lain. Juga bisa diinisiasi dari lafadz التثنية (pengulangan) karena surat ini selalu di baca berulang kali dalam sholat di setiap rakaat.
Surat Al-Fatihah sendiri juga mempunyai banyak sekali keutamaan seperti terkabulnya doa. Oleh sebab itu sering juga dibaca setelah selesai berdoa sebagai penutup. Surat ini juga mempunyai keistimewaan di samping penyebutan namanya yang banyak, surat ini tidak diturunkan kecuali hanya kepada umat Nabi Muhammad saja. Wallahu a’lam bisshawab.
Editor: Muhammad Faizin
