Risiko Sibuk Karier dan Abaikan Rumah menurut Islam

Risiko Sibuk Karier dan Abaikan Rumah menurut Islam

Arina.id- Di era modern ini, karier sering kali menjadi prioritas utama. Banyak orang rela mengorbankan waktu keluarga demi mengejar promosi, pencapaian target, atau gengsi sosial. Padahal, rumah tangga adalah fondasi utama kebahagiaan dan keberkahan hidup. Ketika keluarga mulai terabaikan, relasi pun renggang dan ketentraman batin menghilang.

Islam mengingatkan bahwa kesuksesan sejati bukan hanya di tempat kerja, tetapi juga di dalam rumah bersama orang-orang terdekat. Diriwayatkan adalah satu hadits:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي، وَإِذَا مَاتَ صَاحِبُكُمْ فَدَعُوهُ. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالدَّارِمِيُّ.

Artinya: "Dari ‘Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku. Jika sahabat kalian telah wafat, maka biarkanlah ia (jangan lagi dibicarakan keburukannya).” (HR At-Tirmidzi dan Ad-Darimi)

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa tolok ukur utama kebaikan seorang Muslim bukan pada pencapaian luar seperti jabatan atau harta, melainkan pada bagaimana ia memperlakukan keluarganya. Rasulullah SAW menekankan pentingnya membangun relasi yang hangat dan penuh kasih sayang dalam rumah tangga. Bahkan beliau menjadikan dirinya sebagai teladan terbaik dalam hal ini. Hadits ini menegur siapa pun yang lebih baik di luar, tapi abai terhadap orang terdekatnya.

Terlebih bagi seorang suami, ia memiliki tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga. Dalam Islam, setiap suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Bukan hanya soal nafkah, tetapi juga tentang waktu, perhatian, dan bimbingan yang ia berikan. Maka, tidak cukup menjadi ayah atau suami secara status. Ia harus hadir secara utuh sebagai pembina, pelindung, dan teladan dalam rumah tangganya.

Kesibukan di dunia karier memang menuntut tenaga dan pikiran, tetapi jangan sampai membuat seorang suami lalai terhadap keluarganya. Istri dan anak-anak bukan sekadar pelengkap kehidupan, melainkan amanah yang akan dipertanyakan di akhirat kelak.

Seorang suami harus pandai mengelola waktu dan perhatian agar keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga tetap terjaga. Jangan biarkan pencapaian dunia mengorbankan kebahagiaan dan keberkahan rumah tangga.

Seorang istri pun memiliki tanggung jawab yang mulia terhadap keluarganya. Dalam Islam, peran istri bukan sekadar pendamping, tetapi juga penjaga harmoni rumah tangga, pengasuh anak, dan pengelola kehidupan domestik dengan cinta dan kesungguhan.

Tanggung jawab ini tidak lebih ringan dari peran suami. Keduanya saling melengkapi, bekerja sama membangun keluarga yang sehat lahir batin, sehingga tercipta rumah tangga yang penuh kasih, dukungan, dan keberkahan.

Dalam suatu hadits diriwayatkan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

Artinya: "Dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang pemimpin negara adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rumah tangganya. Seorang pembantu adalah pemimpin atas harta majikannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang diamanahkan kepadanya. Maka, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR Muslim)

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa suami dan istri sama-sama memegang peran penting sebagai pemimpin dalam keluarga. Suami bertanggung jawab atas bimbingan, perlindungan, dan kesejahteraan keluarganya, sementara istri bertanggung jawab atas pengelolaan rumah dan pendidikan anak-anak.

Keduanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah kelak. Karena itu, kesibukan karier tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan amanah ini yang bersifat sakral dan abadi.

Berkaitan dengan hadits di atas, Ibnu Hutaibah dalam Syarah Riyadush Shalihin menyampaikan:

(كُلُّكُمْ رَاعٍ)، بَدَأَ بِالجَمْعِ ثُمَّ فَصَّلَ هٰذَا الجَمْعَ، فَكُلُّ إِنسَانٍ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، أَنْتَ فِي بَيْتِكَ مَسْؤُولٌ عَنْ زَوْجَتِكَ وَأَوْلَادِكَ، وَأَنْتَ فِي عَمَلِكَ مَسْؤُولٌ عَمَّنْ تَحْتَ يَدِكَ، وَمَسْؤُولٌ عَمَّا اسْتَأْمَنَكَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ، فَلَا تُقَصِّرْ وَلَا تُفَرِّطْ، فَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سَيَسْأَلُكَ، فَأَعِدَّ لِلسُّؤَالِ جَوَابًا، اُنْظُرْ مَاذَا تَقُولُ لِرَبِّنَا يَوْمَ القِيَامَةِ، فَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، فَهِيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْ أَوْلَادِهَا، وَعَنْ مَالِ زَوْجِهَا، وَعَنْ نَفْسِهَا.

Artinya: “Kalian semua adalah pemimpin," kalimat ini diawali dengan bentuk umum, lalu dijelaskan satu per satu bahwa setiap orang bertanggung jawab atas yang berada dalam tanggungannya. Di rumah, engkau bertanggung jawab atas istrimu dan anak-anakmu; di tempat kerja, engkau bertanggung jawab atas orang-orang yang berada di bawah kendalimu; dan atas segala amanah yang Allah titipkan kepadamu. Jangan lalai dan jangan berlebihan, sebab Allah pasti akan bertanya dan engkau harus menyiapkan jawabannya. Renungilah apa yang akan kau katakan kepada Tuhanmu pada hari kiamat. Seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan bertanggung jawab atas mereka, dan perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya, bertanggung jawab atas anak-anak, harta suami, dan dirinya sendiri." (Ibnu Hutaibah, tanpa tahun: juz 12, h. 12)

Dari penjelasan Ibnu Hutaibah ini dapat dipahami bahwa kepemimpinan dalam keluarga adalah amanah yang mencakup aspek rumah, pekerjaan, dan seluruh tanggung jawab yang Allah titipkan. Tidak ada ruang untuk bersikap lalai atau berlebihan, karena setiap peran akan diperiksa di hadapan Allah. Suami dan istri harus bersiap dengan jawaban atas tanggung jawab mereka. Maka, karier tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan tugas-tugas mulia dalam keluarga.

Kesimpulannya, menjadikan keluarga sebagai prioritas bukan berarti mengorbankan karier, melainkan menata hidup agar seimbang dan bertanggung jawab. Suami dan istri dipanggil untuk saling menguatkan dalam merawat amanah rumah tangga. Jangan tunggu hingga kehilangan baru menyadari pentingnya kebersamaan. Saat dunia menuntut lebih, rumah adalah tempat kita kembali. Dan di hadapan Allah, keluarga adalah bagian pertama yang akan kita pertanggungjawabkan. Wallahu a'lam.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Muhammad Faizin
logo