Apakah Wanita Haid Boleh Takbiran?

Apakah Wanita Haid Boleh Takbiran?

Suara gemuruh takbir menghiasi momentum Hari Raya Idul Fitri sejak terbenamnya matahari pada malamnya hingga imam berdiri untuk memimpin jalannya sholat. Semua bersemangat mengumandangkan lantunan lafadz-lafadz takbir nan indah di seluruh penjuru bumi. Takbir menggema yang menjadi suara kemenangan dengan segala pujian atas kebesaran-Nya.

Tua, muda, pria, wanita bertakbir mengagungkan nama Allah. Namun, terbesit problematika bagi wanita yang sedang haid, apakah dia juga diperbolehkan untuk turut serta mengumandangkan lantunan takbir pada malam hari raya ?. 

Mbah Nawawi Banten menjelaskan sebagai berikut:

 وَيُكَبِّرُ نَدْباً كُلُّ أَحَدٍ مِنْ غُرُوْبِ الشَّمْسِ مِنْ لَيْلَتَيْ عِيْدِ الفِطْرِ وَالأَضْحَى بِرَفْعِ الصَّوْتِ فِيْ الْمَنَازِلِ وَالأَسْوَاقِ وَغَيْرِهِمَا، وَاسْتَثْنَى الرَّافِعِي مِنْ رَفْعِ الصَّوْتِ الْمَرْأَةَ إِذَا حَضَرَتْ مَعَ غَيْرِ مَحَارِمِهَا وَنَحْوِهِمْ، وَمِثْلُهَا الخُنْثَى، وَيَسْتَمِرُّ ذَلِكَ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ الإِمَامُ فِيْ صَلَاة ِالعِيْدِ.

Artinya: “Sunnah membaca takbir bagi siapapun dimulai dari waktu maghrib malam dua hari raya dengan mengeraskan suara di perumahan, pasar, dan tempat-tempat yang lain. Al-Rafi’i membatasi wanita dan khuntsa untuk tidak mengeraskan suara jika bersama laki-laki selain mahram. Kesunnahan itu berakhir sampai imam memulai sholat ied”. (Muhammad Nawawi al-Bantani, Nihayatu al-Zain, [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah,2008], 127.).

Sudah sangat diketahui bahwa wanita haid boleh untuk membaca zikir meskipun dengan lisannya, dan redaksi takbiran hari raya adalah suatu zikir yang sunnah untuk dilantunkan. Hajjar Duriyah al-Ithah menjelaskan kebolehan berzikir bagi wanita haid sebagai berikut:

أَمَّا إِنْ قَصَدَتْ الذِّكْرَ أَوْ أَطْلَقَتْ - أَيْ لَمْ تَنْوِ شَيْئًا - فَلَا حُرْمَةَ لِأَنَّهُ لَا يُسَمَّى قُرْآنًا لِوُجُوْدِ الصَّارِفِ ( أَيْ الحَيْضُ أو النِّفَاسُ ) أَمَّا فِيْ حَالِ عَدَمِ وُجُوْدِ الصَّارِفِ فَمُجَرَّدُ القِرَاءَةِ يُسَمَّى قُرْآنًا وَلَوْ لَمْ يَقْصِدْ

Artinya: “Jika dia (wanita haid) berniat zikir atau tidak berniat apa-apa dalam membaca al-Qur’an maka tidak haram karena tidak disebut sebagai membaca Qur’an disebabkan adanya pengalih tujuan (sharif) yakni haid dan nifas, jika tidak dalam keadaan adanya sharif maka hanya dengan membaca sudah bisa disebut membaca al-Qur’an meski tidak diniati membaca Qur’an”. (Hajjah Duriyah al-Ithah, Fiqhul Ibadat- Syafi’i, [Maktabah Syamilah], hal. 200.). 

Kesunnahan takbiran ini bagi wanita haid bisa dia lakukan sampai masuk waktu sholat dzuhur di pagi hari raya, karena dia tidak melakukan sholat disebabkan berhalangan. Seperti catatan Mbah Nawawi tentang batas waktu kesunnahan takbiran berikut:

 فَإِنْ صَلَّى مُنْفَرِداً فالعِبْرَةُ بِإِحْرَامِهِ هُوَ، وَلَوْ تَأَخَّرَ إِحْرَامُ مَنْ ذُكِرَ إِلَى الزَّوَالِ، وَمَنْ لَمْ يُرِدْ الصَّلَاةَ أَصْلاً يَسْتَمِرُّ تَكْبِيَرَهُ إِلَى الزَّوَالِ.

Artinya: “Jika dia sholat sendiri maka kesunnahan takbiran berakhir sampai takbiratul ihramnya, meskipun dia melakukan sholat sampai masuk waktu dzuhur, untuk orang yang tidak sholat kesunnahannya berakhir sampai masuk waktu Dzuhur (zawal)”. (Muhammad Nawawi al-Bantani, Nihayatu al-Zain, [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah, 2008], 127.).

Walhasil, wanita haid boleh dan bahkan sunnah untuk takbiran (membaca takbir) karena takbir hari raya itu sendiri adalah zikir mulai malam hari raya. Bahkan waktu berakhirnya kesunnahan takbiran baginya jauh lebih panjang sampai masuk waktu zuhur dari pada wanita yang tidak haid yang melakukan sholat jamaah Ied di pagi hari. Wallahu a’lam bisshawab


Editor: Muhammad Faizin
logo