Surat Al-A’raf dan Latar Belakang Penamaannya

Surat Al-A’raf dan Latar Belakang Penamaannya

Surat Al-A’raf termasuk kategori surat Makkiyah kecuali lima atau bahkan delapan ayat di dalamnya yang termasuk kategori Madaniyah. Al-Suyuthi mencatat riwayat tentang turunnya surat Al-A’raf di Kota Makkah di antaranya adalah riwayat Ibnu Abbas, Abdullah bin Zubair, dan riwayat salah satu ayatnya yang turun di Madinah oleh riwayat Qatadah yakni ayat 163. (Abdurrahman al-Suyuthi, al-Durrul Mantsur fi Tafsiri al-Ma’tsur, [Beirut: Darul Fikr, 2011], juz III, hal. 412.).

Menurut catatan al-Harari Surat ini terdiri dari 206 atau 205 ayat, 3.325 kata, 14.010 huruf. Surat ini adalah yang paling panjang dari deretan surat Makkiyah. Al-Harari juga mencatat beberapa ayat Madaniyah dalam surat ini sesuai dengan riwayat Muqatil dari ayat 163 sampai 171. (Muhammad Amin al-Harari, Hadaiqur Ruh war Raihan fi Rawabi Ulumil Qur’an, [Beirut: Dar Thauqin Najat, 2001], juz IX, hal. 205.).

Al-Harari menambahkan, surat ini sebagaimana sebelumnya diturunkan satu kali proses. Namun surat sebelumnya lebih panjang dan lebih mencakup isi kandungan yang sama. Kandungan dalam keduanya yakni pokok-pokok teologi agama. Surat ini diturunkan terlebih dahulu dari pada Al-An’am.

Korelasi antara surat ini dengan sebelumnya dalam catatan al-Maraghi adalah bahwa surat ini ditulis setelah Al-An’am bagaikan syarah dan penjelasan terhadap hal-hal yang ringkas dalam surat sebelumnya. Seperti terkait diutusnya Rasulullah, kisah para nabi sebelumnya, dan kondisi sosio kultural kaum-kaum mereka. 

Surat Al-An’am juga mengandung keterangan tentang penciptaan manusia, tentang abad-abad generasi masa lalu, dan menyebutkan tentang para rasul dengan jumlah yang lumayan banyak. Surat Al-A’raf menjelaskan lebih rinci tentang itu semua, menjelaskan kisah nabi Adam, dan memperinci kisah para rasul serta kaumnya serta bagaimana mereka dihancurkan. (Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, [Mesir, Mustofa al-Halabi, 1946], juz VIII, hal. 97.).

Kronologi penamaan surat ini dengan Al-A’raf adalah karena terdapat penyebutan nama الأَعْرَافُ pada ayat 46 dan 48. Al-A’raf sendiri merupakan bentuk jamak/plural dari kata عُرْفٌ yang berarti posisi paling tinggi dari sesuatu. Orang Arab menyebut jambul ayam dengan عُرْفُ الدِّيْكِ. Mereka juga menyebut bulu di bagian belakang leher kuda dengan عُرْفُ الفَرَسِ, (Muhammad Tahir bin Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, [Tunisia, Maktabah Dar Tunisia, 1984], juz VIII, hal. 141.).

Wahbah al-Zuhaili menyebutkan bahwa A’raf adalah bagian paling tinggi dari pagar pemisah antara surga dan neraka. Al-Zuhaili mencatat dalam tafsirnya bahwa Ahlul A’raf yang diceritakan dalam ayat 46 adalah orang-orang yang seimbang antara amal baik dan amal buruknya. Mereka adalah orang yang meng-esa-kan Allah. Kesalahan mereka membatasi dari surga dan kebaikan mereka menjauhkan dari neraka. Mereka berdiri di atas A’raf untuk menunggu keputusan dari Allah. (Wahbah  bin Musthafa al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, [Beirut: Darul Fikr, 2009], hal. Juz IV, 580.).

Al-Suyuthi mencatat kutipan riwayat Ibnu Jarir al-Thabari dan yang lainnya tentang komentar Ibnu Abbas terkait ayat 46. Ibnu Abbas mengatakan: 

“Al-A’raf adalah pagar antara surga dan neraka, penghuninya adalah orang-orang yang mempunyai dosa besar, dan penentuan urusan mereka adalah hanya wewenang Allah. Mereka berdiri di atas pagar mengetahui ahli neraka dari gelapnya wajah mereka dan ahli surga dari bersinarnya wajah mereka. Ketika melihat penghuni surga mereka ingin memasukinya, ketika melihat penghuni neraka mereka meminta perlindungan kepada Allah. Allah memasukkan mereka ke surga sesuai dengan ayat 49”. (Abdurrahman al-Suyuthi, al-Durrul Mantsur fi Tafsiri al-Ma’tsur, [Beirut: Darul Fikr, 2011], juz III, hal. 463.).

Tahir bin Asyur mencatat bahwa nama Al-A’raf dikenal untuk surat ini sejak zaman Nabi Muhammad. Ibnu Asyur mencatat beberapa dalil riwayat penamaan surat ini sebagai berikut:

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ أَنَّهُ قَالَ لِمَرْوَانَ بْنِ حَكَمٍ: مَالِي أَرَاكَ تَقْرَأُ فِي الْمَغْرِبِ بِقِصَارِ السُّوَرِ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقْرَأُ فِيْهَا بِأَطْوَلِ الطُّوْلَيَيْنِ. قَالَ مَرْوَانُ قُلْتُ يَا اَبَا عَبْدِاللهِ مَا اَطْوَلُ الطُّوْلَيَيْنِ. قَالَ الأَعْرَافُ. وَكَذَلِكَ حَدِيْثُ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ كَانَ يَقْرَأُ فِيْ الْمَغْرِبِ بِطُوْلِ الطُّوْلَيَيْنِ.

Artinya: “Riwayat dari Zaid bin Tsabit dia berkata kepada Marwan bin Hakam: “kenapa aku melihatmu membaca surat-surat pendek ketika shalat maghrib sedangkan Rasulullah membaca yang paling panjang dari dua surat panjang”. Marwan bertanya “wahai abu Abdillah surat apa itu ?”, Zaid menjawab “Surat al-Aa’raf”. Begitu juga hadits riwayat Ummi Salamah dia berkata bahwa Rasulullah membaca surat terpanjang di antara dua surat panjang di waktu shalat maghrib”.

Ibnu Asyur mengatakan dua surat panjang adalah Al-An’am dan Al-A’raf, dan jelas surat al-A’raf lebih panjang dari Al-An’am dengan pertimbangan jumlah ayat. Hal ini dikuatkan dengan riwayat Sayyidah Aisyah bahwa Nabi membaca surat Al-A’raf waktu shalat maghrib dan membaginya dalam dua rakaat. (Muhammad Tahir bin Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, [Tunisia, Maktabah Dar Tunisia, 1984], juz VIII, hal. 5.).

Kisah penghuni A’raf menunjukkan bahwa seorang hamba bisa masuk surga tentunya sebab pertolongan dan anugreah Allah kepadanya. Diceritakan mereka adalah orang-orang yang galau dan dimelatis sebab ketidakjelasan nasib mereka antara masuk surga atau bahkan neraka karena neraca amal mereka yang seimbang antara baik dan buruk. Hanya saja mereka menginginkan untuk masuk surga dan takut untuk masuk neraka sehingga Allah menganugerahkan mereka surga-Nya. Wallahu a’lam bisshawab 


Editor: Muhammad Faizin
logo