Arina.id- Di era digital yang serba cepat ini, overthinking menjadi penyakit mental yang diam-diam menyerang banyak orang. Pikiran yang terus-menerus berputar tanpa henti tentang hal-hal yang telah terjadi atau belum tentu terjadi menciptakan kecemasan dan kelelahan jiwa.
Namun, Islam sebagai agama yang menyentuh dimensi ruhani manusia, menawarkan 2 tips spiritual yang sederhana namun menenangkan untuk mengelola overthinking agar tidak menguasai hidup kita.
1. Jangan Berandai secara Berlebihan
Tips pertama adalah menghindari kebiasaan berandai-andai secara berlebihan. Banyak orang terbiasa mengulang kejadian masa lalu dalam pikirannya, sambil berkata, “Andai saja aku begini, pasti hasilnya begitu.”
Padahal, cara berpikir seperti ini hanya memperparah tekanan batin. Penyesalan memang bagian dari manusia, tetapi terus-menerus mengulangnya dalam angan hanya membuka pintu stres yang tak kunjung selesai.
Islam mengajarkan kita untuk menerima kenyataan yang telah terjadi dengan jiwa yang lapang. Jika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, kita diajarkan untuk tidak larut dalam pengandaian, tetapi menyadari bahwa semua berjalan atas izin dan kehendak Allah.
Dengan keyakinan ini, kita bisa melangkah ke depan tanpa membebani pikiran dengan masa lalu yang tak bisa diubah lagi. Nabi bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: الْمُؤْمِنُ القَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ، وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ "لَوْ" تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ. (رواه مسلم)
Artinya: "Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah mengejar hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah semangat! Jika kamu tertimpa sesuatu, jangan berkata: 'Andai saja aku melakukan ini dan itu, pasti hasilnya akan berbeda. Tapi katakanlah: 'Ini sudah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.' Sebab, kata 'andai' hanya akan membuka jalan bagi godaan setan." (HR. Muslim)
Berkaitan dengan hadits ini, Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan:
قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ، وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ "لَوْ" تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ. قَالَ القَاضِي عِيَاضٌ: قَالَ بَعْضُ العُلَمَاءِ: هَذَا النَّهْيُ إِنَّمَا هُوَ لِمَنْ قَالَهُ مُعْتَقِدًا ذَلِكَ حَتْمًا، وَأَنَّهُ لَوْ فَعَلَ ذَلِكَ لَمْ تُصِبْهُ قَطْعًا. فَأَمَّا مَنْ رَدَّ ذَلِكَ إِلَى مَشِيئَةِ اللهِ تَعَالَى، بِأَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا شَاءَ اللهُ، فَلَيْسَ مِنْ هَذَا.
Artinya: "Sabda Nabi SAW: "Jika engkau tertimpa sesuatu, maka janganlah berkata: 'Seandainya aku melakukan ini dan itu, tentu akan begini dan begitu.' Tapi katakanlah: 'Ini sudah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.' Karena kata 'seandainya' bisa membuka jalan bagi godaan setan." Al-Qadhi Iyadh berkata: Sebagian ulama menjelaskan bahwa larangan ini berlaku bagi orang yang mengucapkannya dengan keyakinan mutlak, bahwa andai dia melakukan sesuatu, musibah itu pasti tak akan terjadi. Namun jika ucapan itu dikaitkan dengan kehendak Allah, yakni bahwa tak ada sesuatu pun terjadi kecuali atas izin-Nya, maka tidak termasuk larangan ini." (An-Nawawi, 1996: juz 16, h. 163)
Dari penjelasan An-Nawawi ini dapat dipahami bahwa larangan berandai-andai bukan ditujukan pada setiap bentuk pengandaian, tetapi pada sikap batin yang meyakini sepenuhnya bahwa takdir bisa diubah seandainya kita bertindak berbeda. Pandangan ini berbahaya karena menunjukkan ketidakrelaan pada keputusan Allah.
Namun, jika pengandaian hanya sekadar menimbang kemungkinan tanpa menolak takdir Ilahi, hal itu tidak termasuk larangan, selama tetap dilandasi keyakinan pada kehendak Allah.
2. Fokus pada Hari Ini
Tips spiritual kedua adalah fokus pada hari ini. Salah satu pemicu utama overthinking adalah terlalu banyak memikirkan hari esok atau hal-hal yang belum terjadi. Padahal, hidup kita terjadi saat ini, bukan kemarin atau esok.
Islam mengajarkan pentingnya mensyukuri nikmat yang ada hari ini, terutama tiga hal mendasar, yaitu rasa aman, kesehatan, dan makanan yang cukup untuk hari itu.
Bayangkan jika setiap pagi kita bangun dalam keadaan tenang, tubuh sehat, dan punya cukup makanan untuk sehari. Bukankah itu cukup untuk hidup bahagia?
Tapi sayangnya, banyak dari kita yang justru merasa kurang, karena sibuk membandingkan diri dengan orang lain atau takut akan masa depan yang belum tentu terjadi. Padahal, rasa syukur atas hari ini adalah penawar yang ampuh untuk pikiran yang gelisah.
Dalam satu hadits diriwayatkan:
عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ مِحْصَنٍ الأَنْصَارِيِّ الخَطْمِيِّ رضي اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلّى اللهُ عليه وسلَّم: مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِندَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا. (رواه الترمذي وابن ماجه)
Artinya: "Dari ʿUbaydullah bin Mihshan al-Anshari al-Khathmi RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Siapa di antara kalian yang di pagi harinya merasa aman dalam lingkungannya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan seluruh dunia telah digenggamnya secara sempurna.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Berkaitan dengan hadits ini, Ibnu Hutaibah dalam Syarah Riyadush Shalihin menyampaikan:
كَأَنَّمَا جُمِعَتْ وَأُعْطِيَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا، وَذَلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا، فَهُوَ فِي النِّهَايَةِ سَيَمْلَأُ بَطْنَهُ مِنْ طَعَامٍ، وَيَمْلَأُ بَطْنَهُ مِنْ شَرَابٍ، وَيَنَامُ عَلَى سَرِيرِهِ الَّذِي هُوَ فِيهِ، وَلَنْ يَشْغَلَ أَكْثَرَ مِنْ سَرِيرٍ فِي النَّوْمَةِ الْوَاحِدَةِ، فَعَلَى ذَلِكَ، فَإِنَّ الإِنْسَانَ الَّذِي يُصْبِحُ وَهُوَ آمِنٌ، مُعَافًى، وَعِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ...
Artinya: "Seakan-akan seluruh isi dunia telah dikumpulkan dan diberikan kepadanya. Sebab, andai pun seseorang memiliki dunia dengan segala isinya, pada akhirnya ia hanya akan mengisi perutnya dengan makanan, mengisi perutnya dengan minuman, dan tidur di atas satu ranjang yang ia miliki—karena dalam satu waktu tidur, ia tak mungkin menggunakan lebih dari satu ranjang. Maka dari itu, siapa pun yang di pagi hari merasa aman, sehat, dan memiliki makanan untuk hari itu, sungguh ia telah memiliki cukup dari dunia ini." (Ibnu Hutaibah, tanpa tahun: juz 17, h. 35)
Dari pemaparan Ibnu Hutaibah ini dapat dipahami bahwa:
"Kebahagiaan sejati tidak terletak pada jumlah harta atau luasnya kepemilikan, melainkan pada terpenuhinya kebutuhan dasar harian seperti rasa aman, kesehatan, dan makanan."
Bahkan jika seseorang menguasai seluruh isi dunia, pada akhirnya yang ia nikmati tetap terbatas. Oleh karena itu, mengapresiasi kesederhanaan hidup hari ini menjadi kunci utama untuk menenangkan pikiran dan menghindari jeratan overthinking.
Pada akhirnya, dua tips spiritual ini bukan sekadar teori, tapi panduan praktis dari ajaran Islam untuk menenangkan jiwa di tengah badai pikiran. Menghindari andai-andai berlebihan dan fokus pada hari ini adalah bentuk keikhlasan dan syukur yang membebaskan hati.
Hidup bukan tentang mengendalikan segalanya, tetapi tentang menerima dengan iman dan menjalani hari ini dengan penuh makna, tenang, dan harapan kepada Allah. Wallahu a'lam.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Muhammad Faizin
