Surat Al-Baqarah terletak setelah surat Al-Fatihah dalam susunan kodifikasi Al-Qur’an. Surat Al-Baqarah tergolong Madaniyah dan juga merupakan surat yang turun pertama kali di Madinah. Surat ini turun di Mina ketika haji wada’ dan terdiri dari 286 ayat. Surat ini menyandang predikat surat terpanjang dalam Al-Qur’an.
Surat ini mengandung beberapa ayat yang unik, diantaranya adalah ayat kursi yang terkenal dengan ayat yang paling istimewa dengan kandungan akidah dan rahasia ketuhanan. Terdapat juga ayat yang terakhir turun yakni ayat 281 yang berbicara tentang ultimatum hari kiamat.
Selain menjadi surat yang paling panjang dalam Al-Qur'an, surat ini juga mengandung ayat yang paling panjang yakni ayat 282 tentang utang piutang. Surat ini juga diakhiri dengan mengingatkan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah serta diakhiri dengan doa yang berisi permohonan untuk dipermudah oleh Allah.
Kronologi penamaan surat ini dengan al-Baqarah diinisiasi dari kutipan ayat yang menerangkan tentang kisah sapi dengan Bani Israel dalam ayat 67. Al-Zuhaili menjelaskan sebagai berikut:
سُمِّيَتْ هَذِهِ السُّوْرَةُ «سُوْرَةَ البَقَرَةِ» لِاشْتِمَالِهَا عَلَى قِصَّةِ البَقَرَةِ ، الَّتِيْ أَمَرَ اللّهُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ بِذَبْحِهَا ، لِاكْتِشَافِ قَاتِلِ إِنْسَانٍ ، بِأَنْ يَضْرِبُوْا المَيِّتَ بِجُزْءٍ مِنْهَا ، فَيَحْيَا بِإِذْنِ اللّهِ ، وَيُخْبِرُهُمْ عَنْ القَاتِلِ.
Artinya: “Surat ini dinamakan dengan Al-Baqarah karena mengandung kisah tentang sapi yang Allah perintahkan Bani Israel untuk menyembelihnya untuk mengungkap pelaku pembunuhan dengan memukul mayat korban pembunuhan menggunakan bagian sari sapi itu, sehingga dia hidup kembali dan menceritakan siapa yang membunuhnya." (Wahbah bin Musthafa al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, [Beirut: Darul Fikr, 2009], juz I, hal. 75.).
Meskipun terkenal dengan nama Al-Baqarah, tidak menutup kemungkinan bahwa surat ini memiliki nama lain yang kurang begitu terbiasa terdengar di telinga masyarakat Muslim.
Al-Suyuthi mencatat dalam al-Itqan-nya menyebutkan dua nama untuk surat ini yaitu Fusthatul Qur’an (tenda Al-Qur’an) dan Sanamul Qur’an (punuk Al-Qur’an) sebagai berikut:
وَمِنْ ذَلِكَ سُوْرَةُ البَقَرَةِ كَانَ خَاِلدُ بْنِ مَعْدَانِ يُسَمِّيْهَا فُسْطَاطَ القُرْآنِ وَوَرَدَ فِيْ حَدِيْثٍ مَرْفُوْعٍ فِيْ مُسْنَدِ الفِرْدَوْسِ وَذَلِكَ لِعَظَمِهَا وَلِمَا جُمِعَ فِيْهَا مِنْ الأَحْكَامِ الَّتِيْ لَمْ تُذْكَرْ فِيْ غَيْرِهَا وَفِيْ حَدِيْثِ المُسْتَدْرَكِ تَسْمِيَتُهَا سَنَامَ القُرْآنِ وَسَنَامُ كُلِّ شَيْءٍ أَعْلَاهُ.
Artinya: “Surat Al-Baqarah juga mempunyai beberapa nama lain. Khalid bin Ma’dan menamainya dengan Fusthatul Qur’an sebagaimana dalam musnad Al-Firdaus dengan hadits marfu’ diinisiasi karena keagungan surat ini, dan karena hukum-hukum dalam Al-Qur’an terkandung dalam surat ini yang tidak ada di surat yang lain. Juga dinamakan dengan Sanamul Qur’an sebagaimana dalam hadits di kitab al-Mustadrak dan tentunya punuk sesuatu adalah bagiannya yang paling tinggi”. (Abdurrahman al-Suyuthi, al-Itqan fi Ulumi al-Qur’an, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2018], hal. 85.).
Hal yang perlu ditekankan terkait surat ini adalah transliterasi Al-Baqarah menjadi “Sapi Betina” yang menurut penulis alih bahasa sedikit problematik dalam kaidah bahasa Arab. Diksi البقرة lebih tepat jika hanya diartikan dengan kata “sapi” karena ta’ marbuthah dalam kata itu merupakan simbol singular dan bukan simbol feminis.
Ibnu Mandzur al-Mishri menyebutkan dalam Lisanul Arab sebagai berikut:
لسان العرب (4/ 73)
البَقَرُ اِسْمُ جِنْسٍ ابن سيده البَقَرَةُ مِنْ الأَهْلِيْ وَالوَحْشِيِّ يَكُوْنُ لِلْمُذَكَّرِ وَالمُؤَنَّثِ وَيَقَعُ عَلَى الذَّكَرِ وَالأُنْثَى قَالَ غَيْرُهُ وَإِنَّمَا دَخَلَتْهُ الهَاءُ عَلَى أَنَّهُ وَاحِدٌ مِنْ جِنْسٍ وَالجَمْعُ البَقَراتُ
Artinya: “Al-Baqar adalah Isim jenis menurut Ibnu Sidah (Ali bin Ismail al-Mursi) lafadz Al-Baqarah bisa diartikan sebagai sapi baik jinak atau liar, dan juga biak jantan atau betina, menurut selain Ibnu Sidah fungsi ha’ sakt (ta’ marbuthah) hanya untuk simbol singular dari satu jenis sapi dengan bukti bentuk pluralnya adalah al-Baqaraat”. (Ibnu Mandzur al-Mishri, Lisanul Arab, [Maktabah Syamilah, tt], juz IX, hal. 73.).
Sebagaimana surat Al-Fatihah sebelumnya yang mempunyai banyak nama bahkan lebih dari 20 nama menurut catatan al-Suyuthi, surat al-Baqarah juga mempunyai nama lain yang memang kurang begitu terbiasa di telinga masyarakat Muslim. Yang mereka kenal hanya nama Al-Baqarah karena mengandung kisah fenomenal tentang sapi yang digunakan untuk membuktikan dan membongkar tindak kriminal pembunuhan dalam kisah Bani Israel zaman Nabi Musa. Wallahu a’lam bisshawab
Editor: Muhammad Faizin
