Idul Fitri merupakan momen spesial bagi umat Islam di seluruh dunia, tak terkecuali Nabi Muhammad saw. Rasulullah memiliki beberapa kebiasaan istimewa yang dilakukan pada hari kemenangan ini. Nah berikut 7 kebiasaan yang sering dilakukan Nabi Muhammad saat Idul Fitri.
1. Mengumandangkan takbir
Saat Idul Fitri, maupun Idul Adha, mengumandangkan takbir adalah amalan yang disunnahkan. Tradisi ini merujuk pada kebiasaan Nabi Muhammad saw pada malam terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah senantiasa mengumandangkan takbir dengan suara yang lantang dan merdu hingga memasuki pagi Hari Raya Idul Fitri.
Tujuan dari mengumandangkan takbir ini adalah untuk mengajak seluruh umat Islam bersyukur atas rahmat dan berkah yang diberikan Allah swt selama bulan Ramadhan. Takbir juga menjadi penanda kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Dengan mengumandangkan takbir, umat Islam bersama-sama menyambut datangnya Idul Fitri dengan penuh sukacita.
Dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 185 Allah berfirman:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Artinya; "Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur."
Imam Baghawi dalam kitab Syarah as-Sunnah menyatakan bahwa mengucapkan dan memperbanyak takbir saat malam Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha adalah sunnah. Takbir tersebut dapat diucapkan di berbagai tempat, seperti di masjid, mushala, rumah, jalanan, dan tempat lainnya. Tujuan dari hal ini adalah untuk menyebarkan syiar Islam dan memuliakan Allah swt. Takbir dapat dilakukan baik secara individu di rumah maupun secara berjamaah di masjid atau tanah lapang.
ومن السنة إظهار التكبير ليلتي العيد مقيمين وسفرا، وفي منازلهم ومساجدهم وأسواقهم، وبعد الغدو في الطريق وبالمصلى، إلى أن يحضر الإمام
Artinya: "Dan termasuk sunnah untuk mengumandangkan takbir pada dua malam Hari Raya, baik bagi orang yang menetap maupun yang bepergian, di rumah, masjid, pasar, dan setelah salat subuh di jalan dan di tempat sholat, sampai imam datang." [Imam Baghawi, Syarah as-Sunnah, Jilid IV, [Beirut; Darul Kutub Ilmiyah, tt], halaman 300].
2. Merayakan kebahagiaan Idul Fitri dengan keluarga
Pada Idul Fitri, Nabi Muhammad saw menunjukkan kebahagiaannya bersama keluarga. Hal ini diceritakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah. Dalam riwayatnya, Aisyah menceritakan bahwa pada suatu hari Idul Fitri, dua wanita muda dari Anshar datang ke rumahnya dan bernyanyi dengan nyanyian khas Anshar. Abu Bakar, sahabat Nabi, yang saat itu juga ada di rumah, menegur mereka dan menyebut nyanyian tersebut sebagai seruling setan.
Namun, Nabi Muhammad tidak marah, justru menjelaskan pada Abu bakar bahwa setiap kaum memiliki hari raya, adapun Idul Fitri adalah hari raya bagi umat Islam. Nabi kemudian memperbolehkan kedua wanita muda tersebut untuk terus bernyanyi dan menunjukkan kebahagiaan mereka di hari raya.
دَخَلَ أبو بَكْرٍ وعِندِي جَارِيَتَانِ مِن جَوَارِي الأنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بما تَقَاوَلَتِ الأنْصَارُ يَومَ بُعَاثَ، قالَتْ: وليسَتَا بمُغَنِّيَتَيْنِ، فَقالَ أبو بَكْرٍ: أمَزَامِيرُ الشَّيْطَانِ في بَيْتِ رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وذلكَ في يَومِ عِيدٍ، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: يا أبَا بَكْرٍ، إنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وهذا عِيدُنَا.
Artinya: "Abu Bakar masuk, dan saat itu ada dua budak perempuan dari Anshar di rumahku yang sedang menyanyikan nyanyian yang biasa dinyanyikan Anshar pada hari Perang Bu'ath. Abu Bakar berkata, "Kedua budak perempuan ini bukan penyanyi." Lalu, Abu Bakar berkata, "Ini seruling setan di rumah Rasulullah saw." Kejadian ini terjadi pada hari raya. Rasulullah SAW bersabda, "Wahai Abu Bakar, setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita."
Ibnu Hajar al-Asqallani dalam kitab Fathul Bari, Jilid II, halaman 443 mengatakan, Islam sangat memperhatikan kebahagiaan keluarga, dan hal ini terlihat jelas dalam anjuran untuk berlapang-lapang dengan keluarga di hari raya. Umat Islam dianjurkan untuk melakukan berbagai cara untuk menyenangkan hati dan merilekskan tubuh setelah beban ibadah selama bulan Ramadhan. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti berkumpul bersama keluarga, bersilaturahmi, saling bermaafan, dan menikmati hidangan lebaran.
Lebih jauh lagi, menampakkan kebahagiaan di hari raya juga merupakan bagian dari syiar agama. Dengan menunjukkan kebahagiaan, umat Islam dapat menarik simpati dan minat orang lain untuk mempelajari Islam lebih lanjut. Selain itu, kebahagiaan di hari raya juga dapat menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan dan persatuan di antara umat Islam.
وفي هذا الحديث من الفوائد مشروعية التوسعة على العيال في أيام الأعياد بأنواع ما يحصل لهم بسط النفس وترويح البدن من كلف العبادة وأن الإعراض عن ذلك أولى وفيه أن إظهار السرور في الأعياد من شعار الدين
Artinya: "Dianjurkan untuk bersikap murah hati kepada keluarga di hari raya. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara yang dapat menyenangkan hati dan merilekskan tubuh setelah beban ibadah. Lebih utama untuk berpaling dari kesenangan duniawi dan fokus pada ibadah di hari raya. Menampakkan kebahagiaan di hari raya adalah bagian dari syiar agama." [Ibnu Hajar al-Asqallani dalam kitab Fathul Bari, Jilid II, [Beirut; Darul Magrifah, tt] halaman 443 ]
3. Makan sebelum shalat Idul Fitri
Nabi Muhammad saw memiliki kebiasaan makan terlebih dahulu sebelum menunaikan shalat Idul Fitri. Hal ini diriwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari oleh sahabat Anas bin Malik. Beliau biasanya memakan kurma pada pagi hari tanggal 1 Syawal, dengan jumlah ganjil, seperti 3, 5, atau 7 biji kurma.
عن أنس بن مالك قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يغدو يوم الفطر حتى يأكل تمرات وقال مرجأ بن رجاء حدثني عبيد الله قال حدثني أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم ويأكلهن وترا
Artinya: "Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah berangkat pada pagi hari di hari raya Idul Fitri sebelum beliau memakan kurma." Marja' bin Raja' meriwayatkan dari 'Ubaidillah yang berkata, "Anas menceritakan kepadaku tentang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Beliau memakannya (kurma) dengan ganjil."
Ibnu Hajar al-Asqallani dalam kitab Fathul Bari, Jilid II, halaman 517 menjelaskan, poin penting dari kebiasaan makan sebelum shalat Id adalah sebagai penanda bahwa Nabi Muhammad tidak sedang berpuasa pada 1 Syawal [Hari Raya]. Puasa pada tanggal 1 Syawal, hukumnya haram. Dengan makan terlebih dahulu, menunjukkan bahwa Idul Fitri adalah waktu untuk merayakan dan mensyukuri nikmat setelah sebulan penuh berpuasa.
الحكمة في الأكل قبل الصلاة أن لا يظن ظان لزوم الصوم حتى يصلي العيد ، فكأنه أراد سد هذه الذريعة .
Artinya: "Hikmah makan sebelum sholat adalah agar tidak ada yang mengira mewajibkan puasa sampai sholat Ied. Jadi, Nabi Muhammad saw ingin menutup celah keraguan ini." [Ibnu Hajar al-Asqallani, Fathul Bari, Jilid II, [Beirut; Darul Magrifah, tt] halaman 517].
4. Mandi dan berhias diri
Mandi sunnah dan berhias diri merupakan dua amalan yang dianjurkan saat hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Tradisi ini senantiasa dilaksanakan oleh Nabi Muhammad saw sebagai bentuk kesyukuran dan penghormatan kepada Allah atas datangnya hari raya.
Mandi sunnah dilakukan sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri atau Idul Adha. Mandi ini bertujuan untuk membersihkan diri dari hadats besar dan kecil, serta menyucikan diri lahir dan batin, untuk menyambut hari yang suci.
Selain mandi sunnah, umat Islam juga dianjurkan untuk berhias diri dengan memakai pakaian terbaik. Hal ini menunjukkan rasa senang dan bahagia atas datangnya hari raya. Berhias diri juga merupakan bentuk penghormatan kepada Allah dan sesama manusia.
Nabi Muhammad sendiri selalu berhias diri saat hari raya. Beliau memakai pakaian terbaiknya dan menggunakan wewangian. Tradisi ini kemudian diikuti oleh para sahabat dan umat Islam hingga saat ini. Dalam kitab al-Mustadrak ala ash-Shahihain, Juz V, halaman 326, termaktub hadits bersumber dari Zaid bin Hasan bin Ali tentang Nabi menyuruh cucu dan menantunya untuk senantiasa memakai pakaian terbaik pada Idul Fitri dan Adha.
عن زيد بن الحسن بن علي ، عن أبيه - رضي الله عنهما - قال : أمرنا رسول الله - صلى الله عليه وآله وسلم - في العيدين أن نلبس أجود ما نجد ، وأن نتطيب بأجود ما نجد ، وأن نضحي بأسمن ما نجد ، البقرة عن سبعة والجزور عن عشرة ، وأن نظهر التكبير وعلينا السكينة والوقار .
Artinya: "Dari Zaid bin Al-Hasan bin Ali, dari ayahnya - semoga Allah meridhoi mereka berdua - berkata: "Rasulullah saw memerintahkan kami pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) untuk memakai pakaian terbaik yang kami punya, memakai parfum terbaik yang kami punya, dan berkurban dengan hewan yang paling gemuk yang kami punya. Sapi untuk tujuh orang dan kambing untuk sepuluh orang. Dan untuk menunjukkan rasa takbir dengan penuh ketenangan dan kebagusan." [Imam Hakim, al-Mustadrak ala ash-Shahihain, Juz V, halaman 326].
5. Melaksanakan sholat Idul Fitri
Pada hari raya Idul Fitri, Rasulullah saw senantiasa menunaikan sholat Id bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya. Baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, semua turut hadir dalam momen istimewa ini. Kemeriahan Idul Fitri semakin terasa dengan berkumpulnya seluruh umat Islam di satu tempat untuk melaksanakan sholat berjamaah.
Sholat Idul Fitri merupakan salah satu sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Sholat ini dilakukan dua rakaat dengan takbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua.
Dalam kitab Fiqh Sunnah, halaman 229, Sayyid Sabiq mengatakan bahwa sholat Idul Fitri hukumnya adalah sunnah. Nabi senantiasa melaksanakannya di tanah lapang. Meskipun begitu, sholat Idul Fitri dan Idul Adha boleh dilakukan di masjid. Akan tetapi, melaksanakannya di lapangan terbuka lebih utama, kecuali jika ada halangan seperti hujan dan sebagainya.
Hal ini karena Rasulullah saw selalu melaksanakan Sholat Id di lapangan terbuka. Beliau hanya sekali melaksanakan Sholat Id di masjid karena alasan hujan. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud dijelaskan:
عن أبي هريرة أنهم أصابهم مطر في يوم عيد فصلى بهم النبي ﷺ صلاة العيد في المسجد
Artinya: "Dari Abu Hurairah RA, beliau berkata, "Pada suatu hari raya, hujan turun. Kemudian Nabi saw memimpin kami Sholat Id di masjid." (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).
6. Menganjurkan perempuan dan anak-anak melaksanakan sholat Idul Fitri.
Nabi memerintahkan mereka keluar menuju tempat sholat Idul Fitri dan Idul Adha tanpa membedakan antara gadis, perawan, wanita muda, wanita tua, dan wanita yang sedang haid. Dalam hadits riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi, Nabi bersabda;
عن ابن عباس أن رسول الله ﷺ كان يخرج نساءه وبناته في العيدين. رواه ابن ماجه والبيهقي.
Artinya: "Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw biasa mengajak keluar istri dan anak perempuannya pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha)." [HR. Ibnu Majah dan Al-Baihaqi].
Dalam sebuah riwayat lain, Ibnu Abbas, menceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah memberikan nasihat kepada para wanita di hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Dalam nasihatnya, Nabi mengingatkan tentang tanggung jawab terhadap Allah dan mengajak mereka untuk bersedekah.
وعن ابن عباس قال: خرجت مع النبي يوم فطر أو أضحى فصلى ثم خطب ثم أتى النساء توعظهن وذكر هن وأمرهن بالصدقة
Artinya: "Dari Ibnu Abbas, dia berkata: "Aku keluar bersama Nabi pada hari Fitri atau Adha. Beliau kemudian sholat, lalu berkhutbah. Kemudian beliau mendatangi para wanita, menasihati mereka, mengingatkan mereka, dan memerintahkan mereka untuk bersedekah."
7. Menempuh jalan berbeda saat pergi dan pulang shalat Idul Fitri
Sejatinya, ulama menganjurkan untuk menempuh jalan yang berbeda saat pergi dan pulang Shalat Idul Fitri, baik bagi imam maupun makmum. Hal ini berdasarkan beberapa hadits, di antaranya riwayat Imam Bukhari;
كان النبي إذا كان يوم عيد خالف الطريق
Artinya: "Nabi biasa menempuh jalan yang berbeda saat hari raya." (HR. Bukhari)
Demikian juga dalam riwayat Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah dijelaskan bahwa Nabi menempuh jalan berbeda saat sholat Idul Fitri:
كان النبي ﷺ إذا خرج إلى العيد يرجع في غير الطريق الذي خرج فيه
Artinya: "Nabi Muhammad, ketika keluar menuju shalat Id, beliau kembali melalui jalan yang berbeda dari jalan yang beliau lalui saat pergi." (HR.Tirmidzi)
Itulah Kebiasaan Nabi Muhammad di Hari Raya Idul Fitri. Semoga kebiasaan positif tersebut dapat menjadi contoh bagi kita dalam menyambut dan merayakan Idul Fitri. Dengan mengikuti sunnah Nabi saw, kita dapat meraih pahala dan keberkahan dari Allah swt. Amin
Editor: Muhammad Faizin
