Tanda-tanda Diterimanya Tobat Kita oleh Allah

Tanda-tanda Diterimanya Tobat Kita oleh Allah

Arina.id - "Bro, gua mau udahan, bro. Gak pacaran lagi. Gua sadar itu dosa dan banyak mudharatnya. Kuliah gua berantakan, ibadah juga nggak khusyuk."

"Wah, bagus banget kalau lo udah sadar. Tapi kenapa? Ada yang bikin lo ragu buat berhenti?"

"Gua takut, bro. Tobat gua diterima gak ya sama Allah? Soalnya dosa gua udah banyak banget."

Begitulah kira-kira penyesalan seorang teman yang baru saja putus cinta dan memutuskan untuk bertobat. Entah ini sekadar alasan untuk menutupi luka hatinya, atau memang niatnya benar-benar tulus ingin berubah. Mungkin karena ia kapok setelah merasakan pahitnya putus cinta dan tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Atau mungkin ia benar-benar menyadari bahwa pacaran adalah dosa, dengan segala mudarat yang telah dirasakannya.

Apapun alasannya, sebagai teman, kita hanya bisa berbaik sangka. Bukankah lebih baik seseorang berusaha memperbaiki diri daripada tenggelam dalam kesedihan atau melampiaskannya pada hal-hal negatif? Alhamdulillah, ia memilih untuk kembali mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.

Namun, kadang-kadang di dalam hati muncul pertanyaan, “Apakah tobat ini diterima di sisi-Nya?” Perasaan itu sering kali menyeruak, bagaikan rasa bersalah, berkhianat kepada seseorang yang telah memberi cinta tanpa batas.

Bagaimana tidak? Allah terus-menerus memberi rezeki, melindungi, bahkan menjaga kita saat tidur, meskipun kita kerap melanggar larangan-Nya yang telah jelas ditetapkan. seperti seorang kekasih yang hanya datang saat membutuhkan, lalu mengabaikan dan berpaling ketika segalanya terasa baik-baik saja.

Tenanglah, Allah tak seburuk yang kita duga. Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Seberapa besar pun dosa kita, rahmat-Nya jauh lebih luas. Dalam sebuah hadits disebutkan:

يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

Artinya: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu malam dan siang, sedangkan Aku mengampuni semua dosa. Maka mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian.” (Fathul Mun’im Syarah Sahih Muslim, [Dar Asyuruq, 2002] juz 10 halaman 44 hadits ke 5719)

Kendatipun Allah maha pemaaf, kita tetap harus bertobat dengan sungguh sungguh, yakni dengan melakukan tobat nasuha (tobat yang tulus) menyesali dalam hati atas dosa yang dilakukan, memohon ampunan kepada Allah dengan lisan, dan berjanji dengan tekad yang kuat untuk tidak mengulangi dosa tersebut di masa depan. 

وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ  فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا﴾ [التحريم: ٨]، قَالَ: التَّوْبَةُ النَّصُوحُ النَّدَمُ بِالْقَلْبِ، وَالِاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالْإِضْمَارُ أَنْ لَا يَعُودَ إِلَيْه أَبَدًا

Artinya: “Diriwayatkan dari Ibn Abbas tentang firman Allah Ta'ala:"Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang tulus."(QS. At-Tahrim: 8) Ibn Abbas berkata, "tobat yang tulus (nasuha) adalah penyesalan di hati, memohon ampunan dengan lisan, dan bertekad untuk tidak kembali lagi kepada dosa tersebut selamanya.” (Tanbighul Ghafilin, [Beriut; Dar Ibnu Katsir, 2000] halaman 108)

Sebab jika kita tidak bertobat dengan sungguh-sungguh, meskipun kita mengucapkan istighfar dengan lisan, namun tetap bersikeras melakukan dosa yang sama, maka hal demikian dianggap sebagai tindakan yang meremehkan perintah Allah, bahkan seolah-olah mengejek-Nya.

وَعَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «الْمُسْتَغْفِرُ بِاللِّسَانِ الْمُصِرُّ عَلَى الذُّنُوبِ، كَالْمُسْتَهْزِئِ بِرَبِّهِ

Artinya: ”Dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:"Orang yang meminta ampun dengan lisan tetapi tetap bersikeras melakukan dosa, sama seperti orang yang mengejek Tuhannya” (Tanbighul Ghafilin [Beriut; Dar Ibnu Katsir, 2000] halaman 108)

Setelah menjalani prosedur tobat nasuha, para ulama memberi penjelasan terkait tanda tobat seseorang diterima oleh Allah, hal itu dapat dilihat dari beberapa tanda sebagai berikut:

وَقِيلَ لِبَعْضِ الْحُكَمَاءِ هَلْ لِلتَّائِبِ مِنْ عَلَامَةٍ يَعْرِفُ أَنَّهُ قُبِلَتْ تَوْبَتُهُ؟ قَالَ: نَعَمْ عَلَامَتُهُ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: أَوَّلُهَا أَنْ يَنْقَطِعَ عَنْ أَصْحَابِ السُّوءِ وَيُرِيهِمْ هَيْبَةً مِنْ نَفْسِهِ، وَيُخَالِطَ الصَّالِحِينَ، وَالثَّانِي أَنْ يَكُونَ مُنْقَطِعًا عَنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَمُقْبِلًا عَلَى جَمِيعِ الطَّاعَاتِ وَالثَّالِثُ أَنْ يَذْهَبَ فَرَجُ الدُّنْيَا كُلِّهَا مِنْ قَلْبِهِ، وَيَرَى حُزْنَ الْآخِرَةِ كُلَّهَا دَائِمًا فِي قَلْبِهِ وَالرَّابِعُ أَنْ يَرَى نَفْسَهُ فَارِغًا عَمَّا ضَمِنَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ مِنَ الرِّزْقِ، مُشْتَغِلًا بِمَا أُمِرَ بِهِ، فَإِذَا وَجَدْتَ فِيهِ هَذِهِ الْعَلَامَاتِ فَهُوَ مِنَ الَّذِينَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي حَقِّهِمْ: ﴿إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ﴾ [البقرة: ٢٢٢]

Artinya: “Seorang bijak pernah ditanya, “Apakah ada tanda bagi seseorang yang bertobat agar ia tahu bahwa tobatnya diterima?” Ia lantas menjawab, “Ya, ada empat tanda untuk itu: (1) Ia akan menjauh dari teman-teman yang buruk dan menunjukkan rasa hormat terhadap dirinya, serta bergaul dengan orang-orang yang saleh. (2) Ia akan meninggalkan semua dosa dan fokus pada ibadah serta taat kepada Allah. (3) Ia akan merasa bahwa dunia tidak lagi menjadi kebahagiaan utama, dan ia akan selalu merasakan kesedihan tentang kehidupan akhirat. (4) Ia merasa puas dengan apa yang Allah takdirkan untuknya dalam hal rezeki dan fokus pada apa yang diperintahkan oleh Allah. Jika seseorang menunjukkan tanda-tanda ini, maka dia termasuk orang yang disebutkan dalam Al-Qur'an, 'Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri' (QS. Al-Baqarah: 222).” .”(Tanbighul Ghafilin, (Beriut; Dar Ibnu Katsir, 2000 halaman 109)

Ketika kita berniat ingin bertobat kepada Allah, maka kita harus bertobat dengan tobat nasuha yakni menyesali dosa yang dilakukan, disertai tekad kuat untuk tidak mengulanginya. Allah, sebagai Maha Pengampun, senantiasa menerima tobat hamba-Nya yang kembali dengan penuh keikhlasan. Meskipun dosa kita banyak, rahmat Allah lebih luas, dan Dia pasti mengampuni hamba yang sungguh-sungguh ingin berubah.

Jadi, jangan ragu untuk bertobat. Jika kita merasa ada perubahan positif dalam diri, seperti menjauh dari perbuatan buruk dan lebih dekat dengan ibadah, itu bisa menjadi tanda bahwa tobat kita diterima. Wallahu a’lam bis shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
logo