Mengenal Qorin, Khodam dalam Islam

Mengenal Qorin, Khodam dalam Islam

Baru-baru ini, media sosial, khususnya TikTok, diramaikan dengan tren cek khodam. Tren ini mengajak para pengguna untuk mengetahui khodam pendamping mereka melalui live streaming. Konten kreator yang biasanya spiritualis atau praktisi kejawen akan menerawang khodam seseorang hanya dengan mengetahui namanya.

Fenomena ini menarik perhatian banyak pengguna TikTok, dengan banyaknya video live streaming cek khodam yang mendapatkan ratusan bahkan ribuan penonton. Konten ini pun memicu beragam reaksi, dari rasa penasaran hingga skeptis.

Beberapa pihak melihat tren ini sebagai hiburan semata, cara untuk bersenang-senang di kala senggang. Di sisi lain, ada pula yang mempertanyakan validitasnya dan potensi penipuan yang bisa terjadi.

Lantas bagaimana Islam memandang khodam? Apakah khodam ada dalam Al-Qur'an atau hadis Nabi?

Menurut Dr. Ali Nurdin, dalam buku Komunikasi Magis Fenomena Dukun di Pedesaan, halaman 187, menyebutkan bahwa secara definisi, khodam adalah makhluk halus atau jin yang sering kali dipercaya bekerja sama dengan dukun dalam menjalankan tugas-tugasnya. Dalam konteks tradisional, khodam berperan sebagai perantara atau medium yang membantu dukun dalam mengobati, membantu, dan menolong klien yang datang meminta pertolongan.

Menurut Geertz (1983: 116), istilah prewangan yang digunakan dalam praktik perdukunan ini merujuk pada dukun yang menggunakan prewangan sebagai perantara untuk melakukan berbagai macam pengobatan dan bantuan. [Dr. Ali Nurdin, Komunikasi Magis Fenomena Dukun di Pedesaan, [Yogyakarta: LKiS, 2015], halaman 187]

Istilah prewangan ini biasanya disebut dengan khadam atau khodam. Khodam tidak hanya dianggap sebagai sekadar makhluk halus, tetapi juga sebagai entitas yang memiliki kemampuan khusus untuk membantu pekerjaan dukun. Dalam praktiknya, kehadiran khodam sering kali dianggap esensial bagi dukun untuk menjalankan ritual dan pengobatan, menjadikan hubungan antara dukun dan khodam sebagai bagian penting dalam tradisi perdukunan. 

Khodam dalam Islam, adakah?

Lebih lanjut, dalam Islam, fenomena khodam ini dikenal dengan istilah qorin. Qorin merupakan makhluk yang menyertai manusia sejak lahir hingga meninggal. Terdapat berbagai jenis qorin, di antaranya berasal dari golongan jin, setan, dan malaikat. 

Qorin dari golongan jin dan setan biasanya membawa pengaruh buruk, menggoda manusia agar melakukan perbuatan maksiat dan menjauhkan mereka dari jalan yang benar. Sedangkan qorin dari golongan malaikat berperan sebagai pelindung dan pendorong manusia untuk selalu berbuat kebaikan serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Syekh Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari, dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih, Jilid I, halaman 139 menjelaskan bahwa manusia sejak lahir telah ditemani qorin dari golongan jin, yang menyuruhnya untuk melakukan kejahatan. Nama jin qorin yang menemani manusia tersebut adalah was-was. Jin Was-was ini termasuk dari salah satu keturunan Iblis, yang bertugas menyesatkan manusia.

( قرينه من الجن ) أي : صاحبه منهم ليأمره بالشر ، واسمه الوسواس ، وهو ولد يولد لإبليس حين يولد لبني آدم ولد ، : 

Artinya; “(Qorin dari jin) yaitu: temannya dari mereka yang memerintahkannya untuk berbuat jahat, dan namanya adalah Waswas, dia adalah anak yang dilahirkan untuk Iblis ketika seorang anak dilahirkan untuk keturunan Adam,” [Syekh Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari, Mafatih Syarah Misykatul Mashabih, Jilid I, [Beirut: Darul Fikr, 2002], halaman 139].

Lebih lanjut, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang tidak memiliki qorin. Selain qorin dari jin, setiap orang juga memiliki pendamping dari malaikat. Qorin dari jin ini bertugas untuk menggoda dan menjauhkan manusia dari jalan yang benar. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah apakah beliau juga memiliki qorin. Rasulullah menjawab bahwa beliau pun memiliki qorin, namun Allah telah menolongnya sehingga qorin tersebut memeluk Islam.

ما مِنكُم مِن أحَدٍ، إلَّا وقدْ وُكِّلَ به قَرِينُهُ مِنَ الجِنِّ، قالوا: وإيَّاكَ يا رَسولَ اللهِ؟ قالَ: وإيَّايَ، إلَّا أنَّ اللَّهَ أعانَنِي عليه فأسْلَمَ، فلا يَأْمُرُنِي إلَّا بخَيْرٍ. [وفي رواية]: وقدْ وُكِّلَ به قَرِينُهُ مِنَ الجِنِّ وقَرِينُهُ مِنَ المَلائِكَةِ

Artinya: “Tidak seorang pun di antara kalian kecuali telah ditugaskan padanya seorang teman [qorin] dari golongan jin.” Mereka bertanya, “Termasuk engkau juga, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Termasuk aku juga, kecuali Allah telah menolongku menghadapinya sehingga dia masuk Islam, maka dia tidak memerintahkanku kecuali dengan kebaikan.” [Dalam riwayat lain]: “Telah ditugaskan padanya seorang teman dari golongan jin dan seorang teman dari golongan malaikat.” [HR. Muslim].

Qorin jin dan setan sering kali menyebabkan manusia mengalami gangguan psikologis dan spiritual, seperti was-was, bisikan jahat, dan dorongan untuk melakukan dosa.  Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah surah Az-Zukhruf [43] ayat 36;

 وَمَنْ يَّعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمٰنِ نُقَيِّضْ لَهٗ شَيْطٰنًا فَهُوَ لَهٗ قَرِيْنٌ

Artinya; “Siapa yang berpaling dari pengajaran (Allah) Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan (menyesatkannya). Maka, ia (setan) selalu menemaninya.”

Profesor Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, Jilid XII, halaman 566-567 menjelaskan surah Az-Zukhruf ayat 36 menyebutkan kata (قَرِيْنٌ) qarin yang diambil dari kata (قرن) qarana, yang berarti menemani atau menyertai. Dalam konteks ayat ini, qarin merujuk kepada setan atau jin yang selalu menyertai seseorang dan berusaha menjerumuskannya ke dalam kesesatan. 

Setan dan jin tersebut selalu ada di sisi orang yang enggan mengikuti tuntunan agama, berusaha mempengaruhi dan mengarahkan mereka ke jalan yang salah. Penggunaan bentuk tunggal bagi kata qarin dan lahu (untuknya) menunjukkan bahwa setiap individu memiliki setan pendamping masing-masing. Ini bukanlah fenomena kelompok di mana satu setan menguasai banyak orang secara bersamaan, melainkan setiap orang memiliki setan pendampingnya sendiri.

Ayat ini juga menegaskan bahwa jika orang yang sudah rabun (iman) saja mengalami kesulitan akibat pengaruh qarin, apalagi mereka yang benar-benar buta (tidak beriman) sambil mengingkari dan melecehkan petunjuk agama. Setan akan lebih mudah menguasai orang-orang yang tidak memiliki pegangan iman yang kuat. 

Dengan demikian, penting bagi setiap individu untuk tetap teguh dalam mengikuti ajaran agama agar terhindar dari pengaruh negatif setan yang selalu berusaha menjerumuskannya. Tafsir ini menekankan betapa personalnya pengaruh setan terhadap setiap orang yang menyimpang dari jalan kebenaran, serta pentingnya menjaga iman dan taqwa dalam kehidupan sehari-hari. [Profesor Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Jilid XII, [Ciputat: Lentera Hati, 2002] halaman 566-567].

Bahaya Qorin dari golongan jin dan setan juga telah diungkapkan oleh Imam Abu Muhammad al-Baghawi dalam Tafsir al-Baghawi, Jilid VII, halaman 213. Qorin adalah makhluk yang menjadi pendamping manusia sejak lahir dan tidak akan memisahkannya hingga ajal tiba. Qorin ini selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari manusia dan memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku serta pikiran manusia. Keberadaannya sering kali tidak disadari, namun pengaruhnya dapat dirasakan dalam bentuk godaan-godaan yang menjauhkan manusia dari jalan kebenaran.

Lebih jauh lagi, tugas utama qorin adalah untuk menyesatkan manusia. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menggoda dan membelokkan manusia dari jalan yang benar, menjadikan manusia lebih rentan terhadap dosa dan maksiat. Imam al-Baghawi menegaskan bahwa keberadaan qorin merupakan ujian bagi manusia untuk tetap teguh dalam keimanan dan ketaatan kepada Allah. Melalui kesadaran dan upaya terus-menerus dalam meningkatkan keimanan, serta berdoa memohon perlindungan kepada Allah, manusia dapat mengatasi godaan qorin dan tetap berada di jalan yang benar.

{فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ} لَا يُفَارِقُهُ، يُزَيِّنُ لَهُ الْعَمَى وَيُخَيِّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ عَلَى الْهُدَى.

Artinya; “[Maka, ia (setan) selalu menemaninya], tidak pernah meninggalkannya. Dia menghiasi kebodohannya dan membuatnya berkhayal bahwa dia berada di jalan yang benar.”

Sebaliknya, qorin malaikat memberikan bisikan positif, menjaga hati manusia tetap bersih, dan membantu mereka dalam menjalankan ibadah dengan khusyuk. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits;

وعن ابن مسعود رضي الله عنه : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : “ ما منكم من أحد إلا وقد وكل به قرينه من الجن ، وقرينه من الملائكة : 

Artinya; "Dari Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu: Rasulullah - shallallahu 'alaihi wa sallam - bersabda: “Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditugaskan bersamanya pendamping dari jin dan pendamping dari malaikat.” [HR. Muslim]

Dalam tradisi Islam, konsep teman dekat atau pendamping dari kalangan malaikat sering kali disebut sebagai “al-Mulham”, yang berarti 'yang diilhami'. Malaikat ini ditugaskan untuk mengarahkan manusia kepada kebaikan. Meskipun nama 'al-Mulham' tidak tercantum dalam kitab 'al-Masabih', keberadaannya dikonfirmasi oleh beberapa ulama terkemuka. Al-Humaydi menyebutkan tentang al-Mulham dalam karyanya, dan al-Saghani juga mencatatnya dalam 'al-Mashariq' berdasarkan riwayat dari Muslim. Informasi ini kemudian dikutip oleh al-Tibi, menunjukkan bahwa konsep ini diakui dalam berbagai sumber klasik Islam.

Syekh Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari, dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih, Jilid I, halaman 139, menyebut bahwa qarin juga ada dari golongan malaikat.  Teman dekat atau pendamping dari kalangan malaikat sering kali disebut sebagai “al-Mulham”, yang berarti 'yang diilhami'. Malaikat ini ditugaskan untuk mengarahkan manusia kepada kebaikan. 

( وقرينه من الملائكة ) أي : ليأمره بالخير ، واسمه الملهم ، وليس هذا في المصابيح ، لكن ذكره الحميدي في كتابه ، والصغاني في المشارق عن مسلم ، كذا نقله الطيبي . وذكر ابن الملك في شرح المصابيح . 

Artinya; “(Dan teman dekatnya dari malaikat) yaitu, untuk memerintahkannya kepada kebaikan, dan namanya adalah 'al-Mulham'. Ini tidak terdapat dalam kitab 'al-Masabih', namun disebutkan oleh al-Humaydi dalam kitabnya, dan al-Saghani dalam 'al-Mashariq' dari Muslim, sebagaimana yang dikutip oleh al-Tibi. Ibn al-Malik juga menyebutkannya dalam syarah kitab 'al-Masabih'.” [ [Syekh Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari, Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih, Jilid I, [Beirut: Darul Fikr, 2002], halaman 139].

Dengan demikian, khodam dalam Islam adalah berbentuk jin, setan, dan malaikat. Jin atau setan, bertugas menyesatkan manusia, yang sudah ada sejak masih kecil, yang disebut dengan Was-was, sedangkan malaikat bertugas mendorong manusia untuk kebaikan.


Editor: Muhammad Faizin
logo