Sholat Sunah Saat Khutbah Jumat, Bagaimana Hukumnya?

Sholat Sunah Saat Khutbah Jumat, Bagaimana Hukumnya?

Arina.id - Hari Jumat merupakan hari yang sarat dengan nilai keutamaan dan kemuliaan karena mengandung banyak keistimewaan. Sebelum sholat Jumat dilaksanakan, terlebih dahulu diwajibkan adanya dua khutbah.

Khutbah Jumat ini menjadi unsur penting dalam rangkaian ibadah Jumat serta menjadi salah satu syarat sahnya pelaksanaan sholat Jumat. Oleh karena itu, seluruh rukun, syarat, serta ketentuannya harus dipenuhi agar pelaksanaan Jumatan dinilai sah.

Salah satu syaratnya adalah khutbah harus disampaikan dan dapat didengar oleh jamaah, karena hal tersebut menjadi penentu keabsahan sholat Jumat.

Namun terdapat pula anjuran melaksanakan sholat tahiyatul masjid, yaitu sholat sunah dua rakaat ketika memasuki masjid sebelum duduk. Amalan sunah ini berlandaskan pada hadis Nabi:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

Artinya: “Apabila kalian masuk masjid hendaklah sholat dua raka’at sebelum duduk.” (H.R. Ibn Majah)     

Permasalahan muncul ketika khatib sudah naik ke mimbar dan jemaah baru datang kemudian merasa ragu apakah melaksanakan sholat sunah terlebih dahulu atau langsung duduk guna meraih kesunahan mendengarkan khutbah.

Lalu, bagaimana sebenarnya hukum sholat sunah ketika khutbah Jumat sedang berlangsung?

Menurut ketentuan fikih, para ulama sepakat bahwa tidak diperkenankan melakukan sholat apa pun sejak khatib duduk di mimbar hingga rangkaian sholat Jumat selesai. Larangan ini mencakup sholat sunah maupun sholat fardu.

Selain tidak diperbolehkan, ibadah sholat yang dilakukan pada saat itu juga dianggap sama dengan melaksanakan sholat pada waktu-waktu yang diharamkan. Hal ini ditegaskan oleh Syekh Zainuddin Al-Malibari (wafat 987 H) dalam karyanya:

وَتُكْرَهُ تَحْرِيْمًا وَلَوْ لِمَنْ لَمْ تَلْزَمْهُ الْجُمْعَةُ بَعْدَ جُلُوْسِ الْخَطِيْبِ عَلَى الْمِنْبَرِ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعِ الْخُطْبَةَ صَلَاةُ فَرْضٍ وَلَوْ فَائِتَةً تَذَكَّرَهَا الْآنَ وَإِنْ لَزِمَتْهُ فَوْرًا أَوْ نَفْلٍ وَلَوْ فِيْ حَالِ الدُّعَاءِ لِلسُّلْطَانِ وَاْلأَوْجَهُ أَنَّهَا لَا تَنْعَقِدُ كَالصَّلَاةِ بِالْوَقْتِ الْمَكْرُوْهِ بَلْ أَوْلَى 

Artinya: “Dimakruhkan (makruh tahrim) melakukan sholat fardu sekalipun sholat qadha’ dan wajib segera mengqadhanya atau melakukan sholat sunah setelah khatib duduk di atas mimbar walaupun bagi orang yang tidak diwajibkan sholat Jumat, sekalipun dia tidak mendengarkan khutbah, walaupun dilakukan pada saat mendoakan kepada penguasa. Dan menurut pendapat yang unggul sholatnya tidak sah, sebagaimana melakukan sholat pada waktu yang dimakruhkan apalagi pada waktu demikian.” (Fath Al-Mu’in bi Syarh Qurrah Al-‘Ain [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiah], h. 68)

Hukum tidak bolehnya ini karena orang tersebut meninggalkan kewajiban yang diperintahkan yakni mendengarkan khutbah dengan penuh perhatian.

Namun, larangan ini hanya berlaku bagi mereka yang sudah tidak lagi disunahkan menunaikan sholat tahiyatul masjid, yaitu bagi orang yang dengan sengaja telah duduk di dalam masjid.

Terkait masalah ini, Syekh Sulaiman Al-Jamal (wafat 1204 H) dalam anotasinya menjelaskan:

وَيُسْتَثْنَى التَّحِيَّةُ لِدَاخِلِ الْمَسْجِدِ وَالْخَطِيبُ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَيُسَنُّ لَهُ فِعْلُهَا وَيُخَفِّفُهَا وُجُوبًا. لِخَبَرِ مُسْلِمٍ، جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَجَلَسَ، فَقَالَ: يَا سُلَيْكُ، قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا. ثُمَّ قَالَ: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا. هَذَا إِنْ صَلَّى سُنَّةَ الْجُمُعَةِ، وَإِلَّا صَلَّاهَا مُخَفَّفَةً وَحَصَلَتْ التَّحِيَّةُ، وَلَا يَزِيدُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ بِكُلِّ حَالٍ

Artinya: “Dikecualian sholat tahiyatul masjid, bagi orang yang memasuki masjid saat khatib sedang berkhutbah di atas mimbar maka disunahkan untuk melakukan sholat tahiyatul masjid tetapi harus dipercepat. Berdasarkan riwayat dari Imam Muslim, dari Jabir bin Abdillah, yang menceritakan bahwa Sulaik Al-Ghathafani datang pada hari Jumat ketika Nabi Muhammad SAW sedang berkhutbah. Sulaik langsung duduk, lalu Nabi berkata kepadanya: Wahai Sulaik, berdirilah dan sholatlah dua rakaat, dan percepatlah. Kemudian Nabi bersabda: Jika salah seorang dari kalian datang pada hari Jumat, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah dia sholat dua rakaat, dan hendaklah dia mempercepatnya. Ini berlaku jika ia akan melaksanakan sholat sunah Jumat. Jika tidak, maka ia tetap sholat dua rakaat secara cepat, dengan begitu sholat tahiyatul masjidnya sudah dianggap terlaksana. Dan ia tidak boleh menambah lebih dari dua rakaat dalam kondisi apa pun.” (Hasyiyah Al-Jamal Ala Syarh Al-Minhaj [Beirut: Al-Kutub Al-Ilmiah], vol. 2, h. 495)

Kemudian, apabila seseorang masih dalam keadaan sholat sementara imam sudah duduk di mimbar, maka ia diwajibkan untuk mempercepat sholatnya, yakni cukup melaksanakan rukun-rukun sholat saja. Imam An-Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya menyatakan:

وَلَوْ دَخَلَ فِي أَثْنَاءِ الْخُطْبَةِ، اسْتَحَبَّ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَ التَّحِيَّةَ، وَيُخَفِّفَهَا. فَلَوْ كَانَ مَا صَلَّى السُّنَّةَ، صَلَّاهَا وَحَصَلَتْ التَّحِيَّةُ. وَلَوْ دَخَلَ وَالْإِمَامُ فِي آخِرِ الْخُطْبَةِ، لَمْ يُصَلِّ، لِئَلَّا يَفُوتَهُ أَوَّلُ الْجُمُعَةِ مَعَ الْإِمَامِ

Artinya: “Apabila seseorang masuk (ke masjid) di tengah-tengah khutbah, disunahkan baginya untuk mengerjakan sholat tahiyatul masjid dan mempercepatnya. Jika ia belum melakukan sholat sunah, ia dapat melaksanakannya, dan dengan demikian sholat tahiyatul masjidnya juga telah tercapai. Namun, jika ia masuk saat imam berada di akhir khutbah, ia tidak perlu sholat tahiyatul masjid agar tidak kehilangan permulaan sholat Jumat berjamaah bersama imam.” (Raudah At-Thalibin wa Umdah Al-Muftiyin [Beirut: Dar Alam Al-Kutub], vol. 1, h. 535)

Kesimpulannya, hukum mendirikan sholat sunah saat khutbah Jumat tengah berlangsung tergantung kepada niat sholatnya. Apabila yang dikerjakan adalah sholat sunah sebelum Jumat, maka hukumnya tidak sah dan haram dilakukan. Namun, jika yang dilakukan adalah sholat tahiyatul masjid, maka hukumnya sah dengan syarat wajib dipercepat pelaksanaannya.

Bagi orang yang sudah duduk tidak disunahkan melaksanakan sholat tahiyatul masjid, serta tidak diperkenankan melakukan sholat apa pun setelah khatib duduk di atas mimbar hingga sholat Jumat selesai, baik sholat fardu maupun sholat sunah. 

Sementara itu, bagi jemaah yang datang terlambat saat khatib sudah mulai berkhutbah, ia tetap dianjurkan melaksanakan sholat tahiyatul masjid dengan singkat. Namun, perlu ditekankan bahwa anjuran tersebut tidak berlaku ketika sholat Jumat akan dimulai, yakni setelah imam bertakbir atau muadzin mengumandangkan iqamah.

Pada kondisi demikian, hukumnya makruh melakukan sholat sunah, dan lebih utama langsung bergabung bersama imam untuk melaksanakan sholat berjamaah. Wallahu a’lam bis shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.


Editor: Muhammad Faizin
logo