Arina.id - Memperbanyak amal kebaikan dengan berpuasa di bulan Sya’ban merupakan hal yang sangat dianjurkan dalam Islam. Pasalnya, bulan Sya’ban merupakan bulan yang sangat agung dan banyak peristiwa penting terjadi di dalamnya.
Bahkan menurut para ulama, memperbanyak ibadah di bulan ini ibarat seorang pedagang yang meraih keuntungan besar karena memanfaatkan momen yang tepat. Seperti pedagang payung yang berjualan saat musim hujan, bulan Sya’ban bagaikan “musim hujan” yang menguntungkan bagi orang-orang yang rajin beribadah.
فَإِنَّ شَهْرَ شَعْبَانَ مِنَ الْأَشْهُرِ الْكَرِيمَةِ وَالْمَوَاسِمِ الْعَظِيمَةِ، وَهُوَ شَهْرٌ بَرَكَاتُهُ مَشْهُورَةٌ، وَخَيْرَاتُهُ مَوْفُورَةٌ، وَالتَّوْبَةُ فِيهِ مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الصَّالِحَةِ، وَالطَّاعَةُ فِيهِ مِنْ أَكْبَرِ الْمُتَاجِرِ الرَّابِحَةِ، جَعَلَهُ اللَّهُ مِضْمَارَ الزَّمَانِ، وَضَمِنَ فِيهِ لِلتَّائِبِينَ الْأَمَانَ،
Artinya: "Sesungguhnya bulan Sya'ban termasuk bulan yang mulia dan musim yang agung. Bulan ini terkenal dengan keberkahannya, dan kebaikannya melimpah. Bertobat di bulan ini termasuk keuntungan yang besar, dan beribadah di dalamnya termasuk perdagangan yang paling menguntungkan. Allah menjadikan bulan Sya'ban sebagai ajang persiapan untuk berlomba dalam kebaikan, dan Dia menjamin keamanan bagi orang-orang yang bertobat." (Madza fi Sya’ban, halaman 5)
Dalam beberapa literatur hadits, puasa di bulan Sya’ban merupakan puasa yang sangat dianjurkan bahkan lebih utama berpuasa di bulan ini dari pada bulan bulan haram lainnya. Setidaknya ada 2 hadits sahih yang menjelaskan terkait anjuran berpuasa di bulan Sya’ban.
Pertama, hadits yang ada dalam kitab Sahih Muslim. Di sana ditulis bahwa Rasulullah SAW ketika bulan Sya’ban berpuasa lebih banyak dari pada bulan-bulan lain.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الشَّهْرِ مِنَ السَّنَةِ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ. وَكَانَ يَقُولُ: خُذُوا مِنَ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لَنْ يَمَلَّ حَتَّى تَمَلُّوا. وَكَانَ يَقُولُ: أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ وَإِنْ قَلَّ
Artinya: ”Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata:”Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa dalam satu bulan selama setahun lebih banyak dari pada puasa beliau di bulan Sya'ban.” Beliau juga bersabda:”Lakukanlah amal sesuai dengan kemampuan kalian, karena Allah tidak akan bosan (memberi pahala) sampai kalian sendiri yang bosan (beramal).” Dan beliau juga bersabda: “Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus (konsisten) meskipun sedikit.” (Fathul Mun’im Syarah Sahih Muslim, juz 5 halaman 10 hadits ke 2379)
Hadits ini juga ditulis oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Sahih Bukhari hadits ke 1969. Bahkan beliau menulisnya dengan bab tersebdiri “Babu Shaumi Sya’ban” (bab berpuasa di bulan Sya’ban).
Kedua, hadits sahih yang diriwayatkan oleh An-Nasa'i, Abu Dawud, dan Ibnu Khuzaimah
وَرَدَ فِي الْخَبَرِ الصَّحِيحِ عَلَى مَا رَوَاهُ النَّسَائِيُّ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ! قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: ”Terdapat dalam riwayat yang sahih, sebagaimana diriwayatkan oleh An-Nasa'i, Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya'ban!". Rasulullah SAW bersabda: "Bulan Sya'ban adalah bulan yang sering dilalaikan oleh orang-orang, karena letaknya antara bulan Rajab dan Ramadan. Padahal, bulan Sya'ban adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam. Maka, aku ingin amalku diangkat saat aku sedang berpuasa.” (Madza fi Sya’ban, halaman 23). Wallahu a’lam bish shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin
