Arina.id - Mendengar istilah laki laki buaya pasti terbayang seorang laki laki yang gemar menebar pesona, janji manis di awal tapi ghosting di akhir atau bahkan pura-pura serius padahal cuma iseng cari korban. Fenomena ini acapkali kita temukan, mulai dari cerita teman, curhatan di media sosial, sampai kasus nyata di kehidupan sehari-hari.
Melansir dari Tempo.co, istilah "laki laki buaya" pertama kali muncul sekitar tahun 1971 dan berasal dari sebuah kisah di Desa Soronganyit, Jember, Jawa Timur. Di desa tersebut, terdapat sebuah tambak buaya. Suatu hari, seekor buaya jantan tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
Kejadian ini membuat warga sekitar panik karena mereka khawatir buaya tersebut berkeliaran dan bisa memangsa manusia. Setelah tiga bulan berlalu, buaya jantan itu akhirnya ditemukan bersama seekor buaya betina yang bukan pasangannya.
Mengetahui hal itu, warga yang merasa kesal spontan mengumpat, “Dasar buaya!” Sejak saat itu, istilah "buaya" digunakan untuk menyebut laki-laki yang suka berselingkuh atau menjalin hubungan dengan banyak wanita di luar pasangannya.
Namun ternyata ternyata istilah laki-laki buaya ini bukan sekadar tren di zaman sekarang. Sejak dulu, ulama klasik telah membahas karakter laki-laki seperti ini dalam kitab-kitab fikih. Artinya, masalah ini bukan sesuatu yang baru. Bahkan banyak ulama, salah satunya Syaikh Sulaiman Al Bujairami menuliskan dan membahas terkait laki-laki buaya ini. Beliau menjelaskan istilah laki-laki buaya ini dalam kitabnya berjudul Hasiyah Bujairami.
قَوْلُهُ: وَتِمْسَاحٍ اسْمٌ مُشْتَرَكٌ بَيْنَ الْحَيَوَانِ الْمَعْرُوفِ وَالرَّجُلِ الْكَذَّابِ
Artinya:”Kata "timsāḥ" (buaya) adalah istilah yang memiliki makna ganda, bisa merujuk pada hewan yang sudah dikenal (buaya) dan juga bisa digunakan untuk menyebut seorang laki-laki pembohong” (Hasiyah Bujairami, juz 4 halaman 326)
Realita dalam kehidupan nyata memang begitu adanya. Laki-laki buaya seringkali berbohong, licik dan berkhianat. Misalnya seorang laki laki mengaku serius ingin menikah tetapi terus menunda tanpa alasan jelas dan malah menghindar saat diminta kepastian. Ada juga yang memberikan perhatian intens di DM atau WhatsApp, sering memuji dan membuat wanita merasa spesial, padahal melakukan hal yang sama ke banyak orang.
Tentunya pasangan seperti ini tak pantas untuk dijadikan pasangan dalam hidup. Islam sangat mengecam tindakan tersebut sebab termasuk tanda orang munafik. sebagaimana hadits Rasulullah SAW berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: “آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Artinya: ”Dari Abu Hurairah Ra. Rasulullah SAW pernah bersabda;”Ada tiga tanda orang munafik yaitu ketika ia berbicara ia berbohong, ketika ia berjanji ia mengingkari dan ketika dipercaya ia berkhianat” (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu bagi perempuan, sebaiknya mengakhiri hubungan atau bahkan menghindari laki-laki yang memiliki sifat "buaya". Sebab jika terus bertahan dan terperangkap dalam lingkaran tipu daya tersebut, apalagi jika hubungan itu berlanjut ke pernikahan, kemungkinan besar kehidupan rumah tangga akan dihantam berbagai masalah, bahkan bisa berakhir dalam waktu singkat.
Dalam sebuah rumah tangga, laki-laki memegang peran penting seperti kepala sekolah dalam sebuah institusi. Jika kepala sekolah mengalami masalah, sistem sekolah tersebut akan terganggu. Begitu pula dalam rumah tangga, jika suami bermasalah, maka segala aspek kehidupan berkeluarga akan terpengaruh. Wallahu a'lam bish shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin
