Benarkah Rasulullah Puasa Sya'ban Satu Bulan Penuh?

Benarkah Rasulullah Puasa Sya'ban Satu Bulan Penuh?

Memasuki bulan Sya'ban, umat Islam berlomba untuk meraih keberkahan di bulan mulia ini. Beberapa di antaranya meningkatkan ibadah puasa sunnah, shalat tahajud, shalat tasbih, tadarus al-Qur'an, dan lain sebagainya.

Sejumlah keterangan dari literatur keislaman seperti yang tertera dalam hadits disebutkan:

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ أَبُو الْغُصْنِ -  شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ - قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ قَالَ: حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ: «قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ! قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya: "Telah mengabarkan padaku Amr bin Ali, dari Abdurrahman, ia berkata: Tsabit bin Qais telah bercerita padaku, seorang syekh dari Madinah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abi Said al-Maqburi, ia berkata: telah bercerita kepadaku Usamah bin Zaid, ia berkata: Saya mengucap pada Rasulullah, Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihat anda berpuasa sunnah lebih banyak di bulan lain daripada bulan Sya'ban. Rasulullah merespon: Itu bulan yang sering dilupakan umat Islam, yang terletak di antara Rajab dan Ramadhan. Bulan itu seluruh amal akan diangkat ke langit, dan aku menyukai saat itu dalam keadaan berpuasa". (Sunan Annasa'i 4/201, Hilyatul Aulia 9/18)

Hadits ini sebenarnya memiliki kaitan erat berkenaan dengan hari-hari puasa sunnah yang disukai Rasulullah dalam hitungan seminggu, satu bulan, maupun setahun. 

وفي «شرح المنهاج» (ص ٤١٩): يسن صوم الاثنين والخميس للخبر الحسن أنهما تعرض فيهما الأعمال، وكذا تعرض في ليلة نصف شعبان وفي ليلة القدر، فالأول إجمال باعتبار الأسبوع، والثاني باعتبار السنة، وكذا الثالث، وفائدة التكرير إظهار شرف العاملين بين الملائكة، وأما عرضها تفصيلًا فهو برفع الملائكة بالليل مرة وبالنهار مرة.

Artinya: "Dalam syarah Minhaj (hlm 419) dikatakan, sunnah puasa Senin-Kamis berdasarkan hadits hasan, bahwa amal manusia akan diangkat ke langit, begitu pula di malam Nisfu Sya'ban dan Lailatul Qadar. Adapun pengangkatan amal di hari Senin-Kamis itu terhitung secara global dalam tempo seminggu, sedangkan pengangkatan amal di malam Nisfu Sya'ban itu terhitung dalam satu tahun, begitu pula saat Lailatul Qadar. Tujuan berulang kali pengangkatan amal itu adalah Allah bermaksud membanggakan para pemilik amal di hadapan malaikat, sedangkan pengangkatan amal waktunya terpisah-pisah sebab malaikat naik ke langit membawa amal satu kali saat malam, dan satu kali saat siang."

Lantas apakah Rasulullah berpuasa sunnah bulan Sya'ban selama satu bulan penuh? Dalam keterangan Syarah Sahih Bukhari 4/116 disebutkan:

وقول عائشة فى حديث يحيى عن أبى سلمة بأنه كان يصوم شعبان كله، فليس على ظاهره وعمومه، والمراد أكثره لا جميعه، 

Artinya: "Perkataan Aisyah dalam hadits yang diriwayatkan Yahya dari Abi Salamah bahwa sesungguhnya Rasulullah puasa sunnah Sya'ban keseluruhan itu bukanlah dipahami secara tekstual dan umum, akan tetapi lebih banyak berpuasa sunnah di bulan Sya'ban, bukan keseluruhan bulan Sya'ban."

Dari keterangan di atas, bulan Sya'ban disunnahkan untuk berpuasa sebanyak mungkin tapi tidak berpuasa sunnah keseluruhannya. Sebab dalam Sahih Bukhari dan Muslim yang juga bersumber dari Aisyah secara tegas menyatakan bahwa:

فَما رَأَيْتُ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إلَّا رَمَضَانَ، وما رَأَيْتُهُ أكْثَرَ صِيَامًا منه في شَعْبَانَ. 

Artinya: "Aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa secara sempurna satu bulan kecuali bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah puasa sunnah begitu banyak ketimbang puasa sunnah di bulan Sya'ban." (HR. Bukhari: 1969)

Bahkan dalam kitab Nailul Autar 4/349 menyatakan bahwa kebanyakan ulama madzhab Syafi'i melarang berpuasa sunnah sejak tanggal 16 Sya'ban.

وقد قطع كثير من الشافعية بأن ابتداء المنع من أول السادس عشر من شعبان واستدلوا بحديث العلاء بن عبد الرحمن عن أبيه عن أبي هريرة مرفوعا : ( إذا انتصف شعبان فلا تصوموا ) أخرجه أصحاب السنن وصححه ابن حبان وغيره

Artinya: "Menurut pendapat kebanyakan ulama dari kalangan ulama madzhab Syafi'i permulaan larangan berpuasa Sya’ban adalah tanggal 16 Sya’ban berdasarkan hadits riwayat al-Allaa’ bin Abdur Rahman dari ayahnya dari Abu Hurairah: “Bila bulan Sya’ban telah menjadi separuh, janganlah kalian berpuasa” (HR . Ashaab assunan disahihkan oleh Ibnu Hibban dan lainnya).

Dengan demikian dapat disimpulkan, berpuasa sunnah di bulan Sya'ban itu tidak dipahami berpuasa keseluruhannya, akan tetapi lebih kepada memperbanyak puasa sunnahnya.

Selain itu, setelah Nisfu Sya'ban, kebanyakan ulama Syafi'iyah melarang berpuasa sunnah kecuali puasa itu adalah puasa qadha', puasa nadzar dan puasa sunnah yang menjadi kebiasaannya.


Editor: Muhammad Faizin
logo