Keutamaan dan Anjuran Bersedekah Hari Jumat

Keutamaan dan Anjuran Bersedekah Hari Jumat

Hari Jumat, dalam pandangan Islam, memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Dinobatkan sebagai “sayyidul ayyam” atau penghulu segala hari, hari ini memiliki keutamaan yang tidak dimiliki hari lainnya. Sejak penciptaan Nabi Adam hingga hari kiamat, hari Jumat selalu menjadi hari yang penuh berkah dan rahmat. 

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad:

سيد الأيام يوم الجمعة إلى آخره

Artinya: “Hari Jumat adalah sayyid [penghulu] dari segala hari, sampai akhirnya.”

Sejatinya, banyak amalan baik yang dianjurkan untuk dilakukan pada hari ini, mulai dari mandi besar, memakai pakaian terbaik, memperbanyak zikir dan doa, shalawat, menghadiri sholat Jumat berjamaah, hingga bersedekah. Yang terakhir ini, di Indonesia populer dengan istilah Sedekah Jumat atau Jumat Berkah. 

Sedekah Jumat merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Abi Shaybah dari Ka’ab. Dalam hadits tersebut, Ka’ab menyampaikan bahwa pahala sedekah akan dilipatgandakan pada hari Jumat. 

أخرج ابن أبي شيبة في المصنف عن كعب قال: الصدقة تضاعف يوم الجمعة

Artinya: "Ibn Abi Shaybah telah mengeluarkan dalam kitabnya Al-Musannaf dari Ka’ab yang berkata, “Sedekah dilipatgandakan pada hari Jumat.”

Hal ini menegaskan betapa besar keutamaan hari Jumat dalam Islam, setiap amalan kebaikan, termasuk sedekah, mendapatkan ganjaran yang berlipat. Keutamaan ini memberikan motivasi kepada umat Muslim untuk lebih rajin beramal dan bersedekah pada hari Jumat.

Selanjutnya, dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 261, Allah SWT memberikan gambaran tentang betapa besarnya pahala bagi mereka yang menginfakkan hartanya di jalan-Nya. Allah mengibaratkan pahala sedekah seperti benih yang tumbuh menjadi tujuh tangkai, dan setiap tangkai menghasilkan seratus biji. Dengan demikian, sedekah pada hari Jumat bisa menjadi ladang pahala yang berlipat ganda bagi setiap Muslim yang melakukannya dengan niat ikhlas dan tulus.

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: "Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui."  

Menurut Quraish Shihab dalam Kitab Tafsir Al-Misbah, Jilid I, halaman 565, surat Al-Baqarah ayat 261 ini turun berkenaan dengan kedermawanan dua sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu Utsman Ibn ‘Affan dan Abdurrahman Ibn Auf RA. Keduanya dikenal telah menyumbangkan harta mereka untuk membiayai Perang Tabuk. Meskipun ayat ini dikaitkan dengan peristiwa tersebut, janji Allah yang terkandung di dalamnya berlaku untuk siapa saja yang menafkahkan hartanya dengan tulus, bukan hanya terbatas pada mereka.

Lebih lanjut, ayat ini juga mengandung pesan penting bagi mereka yang memiliki kekayaan agar tidak merasa berat hati untuk membantu sesama. Apa yang mereka nafkahkan di jalan Allah akan berlipat ganda dan terus berkembang. Ini menunjukkan bahwa bersedekah bukanlah pengurangan harta, melainkan sebuah investasi yang memberikan hasil yang berlimpah.

Perumpamaan dalam ayat ini menggambarkan kondisi luar biasa dari orang-orang yang berinfak dengan ikhlas di jalan Allah, yang disamakan dengan petani yang menabur benih. Sebutir benih yang ditanam akan tumbuh menjadi tujuh butir, dan setiap butirnya mengandung seratus biji. Gambaran ini mengilustrasikan betapa besar pahala yang akan diterima oleh mereka yang berderma dengan tulus.

Dengan perumpamaan tersebut, ayat ini mendorong manusia untuk berinfak tanpa ragu. Jika tanah yang diciptakan Allah saja bisa memberikan hasil yang begitu melimpah, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk meragukan balasan dari Allah yang jauh lebih besar. Keyakinan pada tanah sebagai sumber rezeki seharusnya tidak melebihi keyakinan pada Allah sebagai Pencipta segala sesuatu. [Profesor Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Jilid I, [Ciputat: PenerbitL entera Hati, 2002], halaman 566-567].

Sementara itu, Ibnu Syaibah,  juga meriwayatkan hadits dari jalur Ka’ab, bahwa amalan baik yang dilakukan pada hari Jumat akan mendapatkan pahala yang lebih besar, berlipatganda dibandingkan hari-hari lainnya. Sebaliknya, perbuatan dosa yang dilakukan pada hari Jumat juga akan mendapatkan dosa yang lebih besar. Ini menunjukkan keutamaan dan keistimewaan hari Jumat dalam agama Islam.

Simak sabda Nabi Muhammad berikut:

أخرج ابن أبي شيبة عن كعب قال: يوم الجمعة تضاعف فيه الحسنة والسيئة.

Artinya: "Ibn Abi Syaibah meriwayatkan dari Ka’ab yang mengatakan, “Pada hari Jumat, pahala kebaikan berlipat ganda dan begitu pula dosa.”

Pendapat serupa juga dijelaskan oleh Imam Thabrani,  yang menunjukkan keutamaan hari Jumat. Amal kebaikan yang dilakukan pada hari Jumat akan mendapatkan pahala yang sangat besar dibandingkan hari-hari lainnya. Sebaliknya, perbuatan buruk yang dilakukan pada hari Jumat juga akan mendapat balasan yang lebih besar. Ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk memperbanyak amal baik dan menjauhi perbuatan buruk, terutama pada hari Jumat.

 وأخرج الطبراني في الأوسط من حديثا أبي هريرة مرفوعا تضاعف الحسنات يوم الجمعة

Artinya: "Dan telah dikeluarkan oleh al-Tabarani dalam kitab al-Awsath dari hadits Abu Hurairah secara marfu’, ‘Berlipat ganda pahala kebaikan pada hari Jumat’.”

Sementara berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Musib bin Rāfi’ disebutkan bahwa kebaikan yang dilakukan pada hari Jumat akan dilipatgandakan pahalanya sepuluh kali lipat dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Ini menunjukkan betapa istimewanya hari Jumat sebagai hari yang penuh dengan berkah dan peluang untuk mendapatkan ganjaran yang besar dari Allah SWT. 

وأخرج عن المسيب بن رافع قال: من عمل خيرًا في يوم الجمعة ضعف بعشرة أضعافه في سائر الأيام، ومن عمل شرًّا، فمثل ذلك.

Artinya: "Dan dikeluarkan (dalam hadits) dari Musib bin Rāfi’, ia berkata: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan pada hari Jumat, maka pahalanya akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat pada hari-hari lainnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejelekan, maka balasannya pun demikian.”

Oleh karena itu, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan, terutama bersedekah, pada hari yang mulia ini. Lebih lanjut, sedekah pada hari Jumat pun tidak hanya mendatangkan pahala yang berlipat ganda, tetapi juga menjaga diri dari kejelekan, serta memperkuat ikatan sosial dengan membantu sesama yang membutuhkan.


Editor: Muhammad Faizin
logo