2 Golongan Orang yang Sunah dan Makruh Puasa Arafah

2 Golongan Orang yang Sunah dan Makruh Puasa Arafah

Arina.id - Hari Arafah, yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah, adalah salah satu hari paling mulia dalam kalender Islam. Ia merupakan puncak ibadah haji, di mana jamaah haji berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf yang merupakan rukun haji paling utama.

Ada dua golongan terkait disyariatkannya puasa Arafah ini. Ada yang dihukumi sunah untuk melaksanakannya, namun ada juga yang dimakruhkan berpuasa Arafah. Bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji, dianjurkan untuk berpuasa pada hari tersebut karena keutamaannya yang sangat besar. Namun, bagi jamaah haji, justru puasa Arafah makruh untuk dilakukan. Mengapa demikian?

Hukum Puasa Arafah

Puasa Arafah merupakan salah satu ibadah sunah yang tidak pernah dilewatkan oleh Rasulullah SAW (Sunah Muakkad). Sebuah riwayat hadits menyebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ

Artinya: "Rasulullah SAW biasa berpuasa pada sembilan hari awal Zulhijah, pada hari Asyura (10 Muharam), berpuasa tiga hari setiap bulannya, awal bulan di hari Senin dan Kamis." (HR Ahmad dan Abu Daud)

Selain disunahkan, puasa Arafah juga memiliki keutamaan yakni dapat melebur dosa-dosa kecil umat Islam selama dua tahun yang telah lewat bahkan dua tahun yang akan hadir. Riwayat dari Imam Qatadah menyebutkan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

صَوْمُ يَوْم غرفة يُكَفِّرُ سنتين مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً وَصَوْمُ يَوْمٍ عَاشُورَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةٌ مَاضِيَةً

Artinya: "Puasa hari Arafah menghapuskan dosa dua tahun, yaitu tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya. Puasa Asyura' menghabiskan dosa tahun sebelumnya." (HR Jamaah ahli hadits kecuali Bukhari dan Tirmidzi)

Hukum Puasa Arafah bagi Jamaah Haji

Bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji, khususnya saat wukuf di Arafah, para ulama menyatakan makruh untuk berpuasa. Ini dikarenakan ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad tidak berpuasa pada hari Arafah ketika beliau sedang berhaji.

Sebuah riwayat hadits menyebutkan:

عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى أَبِى هُرَيْرَةَ فِى بَيْتِهِ فَسَأَلْتُهُ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ

Artinya: "Dari 'Ikrimah Maula ibn 'Abbas berkata, "Saya menemui Abu Hurairah di rumahnya dan menanyakan tentang puasa hari Arafah di padang Arafah." Beliau menjawab, "Rasulullah SAW melarang puasa hari Arafah di padang Arafah." (HR Aḥmad, Abu Daud dan Ibn Majah)

Riwayat selainnya ialah dari Ummul Fadhl binti Harits yang menawarkan semangkuk susu kepada Nabi saat hari Arafah ketika beliau sedang berhaji, dan Nabi meminumnya:

عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ

Artinya: "Dari Ummul Fadhl binti Al Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi SAW. Sebagian mereka mengatakan, 'Beliau berpuasa.' Sebagian lainnya mengatakan, 'Beliau tidak berpuasa.' Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkuk susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya." (HR Bukhari)

Meskipun Nabi tidak berpuasa di hari Arafah pada saat beliau sedang berhaji, namun tidak pernah ada ketegasan larangan puasa Arafah bagi jamaah haji baik yang bersumberkan dalil Al-Qur'an maupun hadits. Oleh karenanya dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Sahabat Abdullah Ibnu Umar pun tidak pernah melarang jamaah haji berpuasa di hari Arafah:

"Ibnu Umar ditanya tentang puasa Arafah ketika berada di bukit Arafah. Dia menjawab, 'Aku pernah melaksanakan haji bersama Nabi Muhammad SAW dan dia tidak puasa di Arafah, aku juga pernah haji bersama Abu Bakar, beliau juga tidak puasa Arafah. Pernah juga bersama Umar dan dia tidak berpuasa, demikian halnya bersama Utsman, beliau juga tidak berpuasa. Aku sendiri tidak berpuasa dan tidak menyuruh orang lain untuk berpuasa, dan tidak juga melarangnya.'" (HR Tirmidzi)

Oleh karenanya, bagi jamaah haji, hukum yang paling tepat jika mereka berpuasa adalah makruh, bukan haram. Alasan kemakruhannya kemungkinan besar ialah agar para jamaah haji bisa kuat dan khusyu’ melaksanakan wukuf di tanah Arafah, sebagaimana kita tahu biasanya bercuaca cukup ekstrem dan sangat melelahkan.

Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa puasa Arafah adalah hadiah besar dari Allah untuk umat Nabi Muhammad SAW. Bagi yang tidak berhaji, ini adalah momen emas untuk meraih pengampunan dosa dua tahun. Bagi yang berhaji, Allah tidak memberatkan dengan puasa, karena Dia lebih mencintai kekhusyukan saat wukuf daripada lapar yang melemahkan tubuh.

Semoga kita semua bisa memanfaatkan hari Arafah dengan sebaik-baiknya, baik dengan puasa, doa, maupun amal-amal lainnya. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
logo