Bukti Maksiat dan Dosa Bikin Hidup Berantakan

Bukti Maksiat dan Dosa Bikin Hidup Berantakan

Arina.id - "Bro kenapa ya hidup gua gini-gini aja? Rezeki seret, kerjaan nggak pernah selesai tepat waktu, dan gua ngerasa hati gelisah terus. Kayak ada yang salah, tapi gua nggak tahu apa."

Mungkin curhatan ini acapakali kita dengarkan entah dari teman kerja, rekan nongkrong di kedai kopi, atau bahkan dari pikiran kita sendiri. Di setiap kehidupan seseorang pasti ada saat-saat ketika kehidupan memberikan episode yang begitu berat. Meski sudah berusaha semampu mungkin, masalah tetap datang silih berganti.

Rezeki terasa seret, pekerjaan tidak pernah selesai tepat waktu, hubungan dengan orang-orang di sekitar memburuk, dan hati dipenuhi kegelisahan yang sulit dijelaskan. Ya, memang begitulah seharusnya kehidupan. 

Namun, meskipun kita tahu bahwa masalah adalah bagian yang tak akan terpisahkan dari kehidupan, ada kalanya kita merasa kebingungan, hingga muncul pertanyaan “sebenarnya apa akar masalahnya?”. Selain itu kita seringkali menyalahkan keadaan atau mencari solusi di luar diri, padahal akar masalahnya justru ada dalam perilaku kita sendiri.

Salah satu hal yang sering luput dari perhatian adalah dosa. Ya, dosa yang kita lakukan baik disadari maupun tidak dapat memberikan dampak besar, tidak hanya terhadap hubungan kita dengan Allah, tetapi juga terhadap kehidupan sehari-hari.

Dalam Islam,  Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an akan memberikan balasan siksaan bagi mereka yang bermaksiat (melanggar) aturan aturanNya. Kelak mereka di akhirat akan dimasukkan kedalam api neraka:

وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ 

Artinya: “Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan” (QS an-Nisa: 14)

Ayat ini sekilas memang menjelaskan bahwa hukuman bagi orang yang bermaksiat kepada Allah akan diberikan di akhirat kelak. Namun, ternyata hukuman maksiat tidak hanya menunggu di akhirat, tetapi juga dapat dirasakan di dunia dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

Salah satu bukti nyata dari hal ini adalah kisah Fudhail bin ‘Iyadh, beliau suatu hari pernah melakukan maksiat dan tidak lama kemudian beliau merasakan pengaruh dari maksiat tersebut, baik pada diri pribadi maupun pada orang-orang terdekat, seperti keluarga, istri, atau pelayannya. 

كَانَ الفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ تَعَالَى فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ حِمَارِي وَخَادِمِي وَزَوْجَتِي، فَيَشْمِصُ الحِمَارُ وَيَخْرُجُ العَبْدُ وَالزَّوْجَةُ عَنِ الطَّاعَةِ، ثُمَّ إِذَا رَجَعْتُ إِلَى نَفْسِي وَاسْتَغْفَرْتُ اللَّهَ تَعَالَى وَقَبِلَ تَوْبَتِي رَجَعُوا إِلَى طَاعَتِي

Artinya: ”Fudhail bin ‘Iyadh RA pernah berkata: “Sesungguhnya, ketika aku bermaksiat kepada Allah Ta’ala, aku melihat pengaruhnya pada perilaku keledai, pelayan, dan istriku. Keledai menjadi sulit dikendalikan dan pelayan serta istriku keluar dari ketaatan. Namun, ketika aku kembali kepada diriku sendiri, memohon ampun kepada Allah Ta’ala, dan Dia menerima tobatku, mereka kembali taat kepadaku.” (Lathaiful Minan, halaman 350)

Lebih lanjut pengaruh maksiat juga dapat menimbulkan "butanya mata hati" atau hilangnya kepekaan spiritual. Hal ini dapat menyebabkan ketidakmampuan untuk mengenali kebenaran dan hidup dalam kesesatan. Seseorang yang sering bermaksiat akan menjadi lemah, tidak semangat melaksanakan kewajiban agama, seperti sholat, ibadah, dan ketaatan lainnya. Nasihat dan peringatan pun tak lagi bermanfaat baginya. 

إِنَّ لِلْمَعَاصِيۤ آثَارٌ سَيِّئَةٌ وَعُقُوبَاتٌ خَطِيرَةٌ ۖ وَقَدْ تَصِلُ الْعُقُوبَةُ إِلَى عَمَى ٱلْبَصِيرَةِ وَٱلْعِيَاذُ بِٱللَّهِۖ فَيَصِيرُ ٱلْإِنْسَانُ هَائِمًا فِي ٱلضَّلَالِۖ يَتَقَاعَسُ عَنْ ٱلْتَكْلِيفِۖ وَلَا يَنْفَعُ فِيهِ وَعْظٌ وَلَا تَسْوِيفٌۖ يَعِيشُ حَيَاتَهُ جِيفَةً بِاللَّيْلِ حَمَارًا بِالنَّهَارِۖ لَا يَعْرِفُ مِنَ ٱلإِسْلَامِ إِلَّا اسْمَهُۖ وَلَا مِنَ ٱلْمُصْحَفِ إِلَّا رَسْمَهُ

Artinya: ”Sesungguhnya maksiat memiliki dampak buruk dan akibat yang berat. Bisa jadi hukuman sampai kepada buta mata hati, naudzubillah, sehingga manusia menjadi bingung dalam kesesatan. Dia pun malas melaksanakan kewajiban, nasihat dan peringatan tidak bermanfaat baginya, tidak ada lagi usaha memperbaiki diri. Ia menjalani hidup seperti bangkai di malam hari, dan seperti keledai di siang hari. Ia tidak mengenal Islam kecuali namanya, dan Al-Qur’an hanya sekadar tulisan semata.” (Fashlul Khitab Fizzuhdi Wa ar Raqaiq Wa al Adab, juz 3 halaman 424)

Bahkan, dampak paling parah dari maksiat adalah dicabutnya iman dan ilmu dari seseorang, sehingga hal tersebut semakin menjadikannya hidup dalam kegelapan spiritual tanpa pedoman dan kesadaran akan kebenaran.

اعْلَمْ أَنَّ الْعُقُوبَةَ تَخْتَلِفُ فَتَارَةً تَتَعَجَّلُ وَتَارَةً تَتَأَخَّرُ وَتَارَةً يُظْهِرُ أَثَرُهَا وَتَارَةً يَخْفَى،وَأَطْرَافُ الْعُقُوبَةِ مَا لَا يُحَسُّ بِهَا الْمُعَاقَبُ وَأَشَدُّهَا الْعُقُوبَةُ بِسَلْبِ الْإِيمَانِ وَالْمَعْرِفَةِ وَدُونَ ذَٰلِكَ مَوْتُ الْقُلُوبِ وَمَحْوُ لَذَّةِ الْمُنَاجَاةِ مِنْهُ وَقُوَّةُ الْحَرْصِ عَلَى الذَّنْبِ وَنِسْيَانُ الْقُرْآنِ وَإِهْمَالُ الْإِسْتِغْفَارِ وَنَحْوَ ذَٰلِكَ مِمَّا ضَرُّهُ فِي الدِّينِ.

Artinya: “Ketahuilah bahwa hukuman itu berbeda-beda; terkadang datang dengan segera, terkadang tertunda. Terkadang efeknya terlihat, terkadang tersembunyi. Yang paling berat adalah hukuman yang tidak dirasakan oleh yang dihukum. Hukuman yang paling berat adalah dicabutnya iman dan ilmu, di bawah itu adalah matinya hati, hilangnya kenikmatan berzikir, munculnya dorongan yang kuat untuk berbuat dosa, lupa terhadap Al-Qur’an, dan lalainya istighfar, serta hal-hal lain yang berdampak pada agama.” (Fashlul Khitab Fizzuhdi Wa ar Raqaiq Wa al Adab, juz 3 halaman 424)

Dengan demikian dari ulasan ini kita bisa belajar bahwa maksiat bukan hanya berdampak di akhirat, tetapi juga mempengaruhi kehidupan dunia. Pengaruh maksiat dapat terasa dalam bentuk hati yang gelisah, rezeki yang seret, kehilangan kenikmatan beribadah, dan hidup jadi berantakan. Bahkan, dampak paling parah adalah dicabutnya iman dan ilmu, yang menjadikan hidup terasa kosong dan tanpa pedoman.

Oleh karena itu, jika dalam menjalani hidup terasa penuh dengan masalah, hati yang gelisah, dan solusi yang sulit ditemukan, sebaiknya berikan jeda sejenak untuk merenung. Bisa jadi, masalah yang dihadapi berakar pada ketidaktahuan atau kurangnya ketaatan kepada Allah. Solusi untuk masalah tersebut bisa dimulai dengan memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta dan meningkatkan ketaatan dengan cara yang lebih ikhlas. Wallahu a’lam bis shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
logo