Tanda-tanda Puasa Ramadan Diterima menurut Habib Umar bin Hafidz

Tanda-tanda Puasa Ramadan Diterima menurut Habib Umar bin Hafidz

Arina.id - Puncak dari buah sebuah amal ibadah adalah diterimanya ibadah itu sendiri oleh Allah SWT. Di bulan Ramadan, setiap Muslim tentu tidak hanya ingin puasanya sekadar sah secara syariat, tetapi juga diterima oleh Allah dan berbuah ridha-Nya. Apa artinya menahan lapar dan dahaga sebulan penuh jika akhirnya tidak membawa keberkahan dalam hidup?

Berpuasa Ramadan ibarat seperti seorang petani yang menanam benih, pastinya tidak hanya berharap benih itu tumbuh, tetapi juga menghasilkan panen yang melimpah. Begitu pula dengan ibadah puasa. Setiap Muslim ingin usaha kita selama Ramadan benar-benar diterima dan berdampak pada kehidupan setelahnya.

Lantas, apa tanda puasa Ramadan seseorang diterima oleh Allah SWT? simak penjelasannya!

Syaikh Ibnu Atha’illah As Sakandary dalam kitabnya Al Hikam Al ‘Athaiyyah menjelaskan bahwa salah satu tanda amal ibadah diterima oleh Allah adalah adanya efek postitif dalam kehidupan sehari-hari seperti hati yang lebih tenang, urusan lancar, semakin mudah melakukan kebaikan, atau bertambahnya keimanan. Beliau menuliskan;

مَنْ وَجَدَ ثَمَرَةَ عَمَلِهِ عَاجِلًا فَهُوَ دَلِيلٌ عَلَى وُجُودِ الْقَبُولِ

Artinya: “Barang siapa yang merasakan buah dari amalnya dengan segera, maka itu adalah tanda-bahwa amalnya diterima.”

Selain itu, dalam Al Qur’an juga disinggung bahwa tanda amal ibadah diterima adalah ia diberi kehidupan yang baik.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً 

Artinya: “Siapa saja beramal saleh laki-laki maupun perempuan sedangkan mereka itu orang beriman, maka kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik,” (QS An-Nahl ayat 97).

Dalam konteks amal ibadah yang lebih spesifik yakni ibadah puasa Ramadan, Al-Habib Umar bin Hafidz, seorang ulama tersohor di Yaman dalam sebuah postingan Instagram resmi beliau @habibomarcom, memberi nasihat kepada umat Islam terakit tanda-tanda puasa Ramadan diterima oleh Allah.

Dalam postingan tersebut beliau menjelasakan:

أَيُّهَا ٱلْمُؤْمِنُ بِٱللَّهِ! إِنْ خَرَجْتَ مِنْ رَمَضَانَ وَٱلْإِيمَانُ أَقْوَى فِي قَلْبِكَ، وَصِرْتَ فِي شَوَّالٍ تَتَجَنَّبُ ٱلنَّظَرَ ٱلْحَرَامَ، وَتَتَجَنَّبُ قَطِيعَةَ ٱلْأَرْحَامِ، وَتَتَجَنَّبُ عُقُوقَ ٱلْوَالِدَيْنِ، وَتَتَجَنَّبُ أَذِيَّةَ ٱلْجَارِ، وَتَرْعَى ٱلْحُقُوقَ لِأَهْلِهَا… فَقَدْ قَامَتِ ٱلْعَلَامَةُ عَلَى قَبُولِكَ، وَبُلُوغِكَ رِضَا رَبِّكَ، وَصِحَّةِ صِيَامِكَ، وَصِحَّةِ قِيَامِكَ. وَإِنْ خَرَجْتَ مِنْ رَمَضَانَ وَٱلنَّفْسُ تَشْتَهِي ٱلْمَنْظُورَاتِ ٱلسَّيِّئَةَ، وَتَمِيلُ إِلَى ٱلْخَبَائِثِ، وَلَا تُبَالِي بِقَطِيعَةِ رَحِمٍ، وَلَا تُبَالِيَ أَنْ يُؤَخِّرَ ٱبْنٌ لَكَ أَوِ ٱبْنَةٌ ٱلصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا، وَلَا تُبَالِيَ مِنْ أَيِّ بَابٍ دَخَلَ عَلَيْكَ ٱلرِّزْقُ، مِنْ حَلَالٍ أَوْ حَرَامٍ أَوْ شُبْهَةٍ… فَٱلْعَلَامَةُ قَائِمَةٌ أَنَّكَ لَمْ تُقْبَلْ وَلَمْ يَصِحَّ لَكَ ٱلصَّوْمُ عَلَى وَجْهِهِ، وَلَمْ تَكُنْ مِنْ أَهْلِ ٱلْإِحْسَانِ، وَلَمْ تَكُنْ مِنْ أَهْلِ ٱلصِّدْقِ مَعَ ٱلرَّحْمٰنِ

Artinya: ”Wahai orang yang beriman kepada Allah! Jika setelah keluar dari bulan Ramadan keimananmu semakin kuat di dalam hatimu, dan di bulan Syawal engkau menjauhi pandangan yang haram, menghindari memutuskan silaturahmi, menjauhi durhaka kepada orang tua, tidak menyakiti tetangga, serta menunaikan hak-hak kepada yang berhak menerimanya… maka itu adalah tanda bahwa ibadahmu diterima, engkau telah mencapai rida Tuhanmu, dan puasamu serta sholat malammu benar-benar sah. Namun, jika setelah Ramadan berlalu, jiwamu masih tergoda dengan hal-hal yang diharamkan, cenderung kepada keburukan, tidak peduli jika hubungan silaturahmi terputus, tidak merasa bersalah jika anak-anakmu menunda sholatnya, dan tidak peduli dari mana rezekimu datang apakah dari halal, haram, atau sesuatu yang meragukan… maka itu adalah tanda bahwa puasamu tidak diterima, ibadahmu tidak dilakukan dengan benar, dan engkau bukan termasuk orang-orang yang berbuat ihsan serta jujur dalam hubungan dengan Allah Yang Maha Pengasih.”

Dari nasihat Habib Umar Bin Hafidz ini dapat dipahami bahwa tanda diterimanya ibadah Ramadan terlihat dari perubahan perilaku diri setelahnya. Jika seseorang menjadi lebih baik dalam menjaga diri dari maksiat, berarti puasanya memberi manfaat dan diterima Allah. 

Sebaliknya, jika setelah Ramadan tetap melakukan keburukan bahkan tanpa rasa takut sedikitpun terhadap siksa Allah, itu menjadi tanda bahwa puasanya belum membuahkan hasil yang diharapkan. Intinya seorang yang puasanya diterima oleh Allah akan menjadi pribadi yang baik dibandingkan dirinya di masa lalu.

Semoga amal ibadah puasa Ramadan kita diterima dan mendapat ridha Allah SWT. Amin. Wallahu a’lam bish shawab. 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
logo