Surat An-Nisa menjadi surat keempat dari urutan penulisan Al-Qur’an. Surat ini sama halnya dengan sebelumnya tergolong dalam surat Madaniyah, bahkan Musthafa al-Maraghi mencatat hadits Sayyidah Aisyah tentang keistimewaan surat ini sebagai bukti bahwa surat ini diturunkan di Madinah:
فَقَدْ رَوَى البُخَارِيُّ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ : مَا نُزِلَتْ سُوْرَةُ النِّسَاءِ إِلَّا وَأَنَا عِنْدَ رَسُوْلِ اللّهِ صلى اللّه عليه وسلم
Artinya: “Imam al-Bukhari telah meriwayatkan hadits dari Sayyidah Aisyah, dia berkata surat An-Nisa tidak diturunkan kecuali aku berada disamping Rasulullah”. (Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, [Mesir, Mustofa al-Halabi, 1946], juz IV, hal. 173.).
Terdapat beberapa korelasi antara surat ini dengan surat sebelumnya. Catatan al-Zuhaili menyebutkan, Surat Ali Imran ditutup dengan perintah takwa untuk masyarakat Mukmin. Sementara surat An-Nisa dimulai dengan hal yang sama akan tetapi diperuntukkan bagi seluruh umat manusia.
Surat An-Nisa ayat 88 diturunkan pada momentum perang Uhud bersama turunnya 60 ayat tentang perang itu dalam surat Ali Imran.
Surat An-Nisa ayat 104 turun pada momentum perang Hamra al-Asad setelah turunnya ayat 172-175 surat Ali Imran di momentum perang yang sama. (Wahbah al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, [Beirut: Darul Fikr, 2009], hal. Juz II, 552-553.).
Kronologi pengambilan nama An-Nisa, yang berarti perempuan, untuk surat ini dari aspek dalil menurut Ibnu Asyur sesuai dengan hadits Sayyidah Aisyah di atas. Surat ini juga disebutkan demikian oleh para salaf pendahulu baik ditulis di mushaf-mushaf Al-Qur’an, kitab-kitab hadits dan tafsir. Bahkan menurut Ibnu Asyur tidak ada nama lain untuk surat ini selain nama An-Nisa. (Muhammad Tahir bin Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, [Tunisia, Maktabah Dar Tunisia, 1984], juz IV, hal. 211.).
Tahir bin Asyur juga mengutip riwayat Bukhari dari Ibnu Mas’ud tentang penambahan kata القصرى untuk nama surat ini dan yang dimaksudkan oleh Ibnu Mas’ud adalah surat al-Thalaq karena ayat keempat surat Thalaq membahas tentang masa iddah wanita hamil.
Menurut Ibnu Asyur, penamaan surat An-Nisa tidak hanya diperuntukkan untuk surat ini, akan tetapi juga untuk surat At-Thalaq. Surat keempat dalam penulisan Al-Qur’an ini dinamai dengan surat An-Nisa At-Thuli yang berarti panjang. Sedangkan Al-Thalaq dinamai dengan An-Nisa Al-Qushra yang berarti pendek.
Namun Ibnu Asyur juga meragukan penamaan itu karena hanya berdasarkan riwayat tunggal dari Ibnu Mas’ud. Bahkan Ibnu Asyur juga mencatat hanya al-Fairuzabadi dalam Bashair dzawi al-Tamyiz yang menamai surat An-Nisa dengan An-Nisa Al-Kubra dan surat al-Thalaq dengan An-Nisa Al-Shughra, atas inisisasi dari hadits Ibnu Mas’ud. (Muhammad Tahir bin Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, [Tunisia, Maktabah Dar Tunisia, 1984], juz IV, hal. 211.).
Kronologi filosofis penamaan surat ini dengan An-Nisa juga disebutkan oleh Ibnu Asyur sebagai berikut:
وَوَجْهُ تَسْمِيَّتِهَا بِإِضِافِةٍ إِلَى النِّسَاءِ أَنَّهَا اِفْتَتَحَتْ بِأَحْكَامِ صِلَّةِ الرَّحْمِ ، ثُمَّ بِأَحْكَامٍ تَخُصُّ النِّسَاءَ ، وَأَنَّ فِيْهَا أَحْكَاماً كَثِيْرَةً مِنْ أَحْكَامِ النِّسَاءِ : اَلأَزْوَاجِ ، وَالبَنَاتِ ، وَخُتِمَتْ بِأَحْكَامٍ تَخُصُّ النِّسَاءَ .
Artinya: “Kronologi penamaan surat ini dengan nama An-Nisa karena dimulai dengan memaparkan hukum-hukum terkait silaturrahim, kemudian hukum terkait kewanitaan, dan surat ini mengandung banyak hukum terkait kewanitaan seperti pernikahan, dan anak, serta ditutup dengan hukum khusus terkait wanita”. (Muhammad Tahir bin Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, [Tunisia, Maktabah Dar Tunisia, 1984], juz IV, hal. 211.).
Surat An-Nisa memang menjadi sesuatu yang prestisius bagi wanita oleh karena keistimewaannya sehingga dia disebutkan khusus menjadi nama dari salah satu surat dalam Al-Qur’an. Dan dalam kenyataannya tidak ditemukan nama surat al-Rijal dalam Al-Qur’an.
Oleh karena keistimewaan itu tentunya sudah bisa difahami bahwa Islam, dan Al-Qur’an khususnya, memandang wanita sebagai makhluk yang mulia dan juga diposisikan sebagai manusia sejajar dengan pria dalam hal hak-hak menjadi seorang Muslim yang taat. Wallahu a’lam bisshawab
Editor: Muhammad Faizin
