Muhammad bin Abdillah adalah Nabi terakhir yang mendapatkan tugas dari Allah untuk menata akhlak umat manusia. Penataan ini dimulai secara bertahap hingga kultur sosial di Makkah berubah. Meski ditentang oleh beberapa pembesar kafir Quraisy, namun mereka mengakui kemuliaan akhlak Nabi Muhammad.
Dalam kitab Arraudl al-Unuf (1/280) disebutkan asal muasal penamaan Muhammad sebagai berikut:
وسماه «محمداً» جده عبد المطلب فقد نقل بعض العلماء: أن النبي - صلى الله عليه وسلم - لما ولدته أمه قيل لجده عبد المطلب: ما سميت ولدك؟ قال: محمد. فقيل له: كيف سميته باسم ليس لأحد من أبائك وقومك؟ قال: لأني أرجو أن يحمده أهل الأرض كلهم.
Artinya: "Pemberian nama Muhammad itu berasal dari kakeknya, Abdul Muttalib. Sebagian ulama mengatakan ketika Nabi Muhammad dilahirkan, Abdul Muttalib ditanya, siapa nama cucumu? Muhammad, jawabnya. Lalu ditanyakan, bagaimana mungkin engkau menamai anak dengan sebuah nama yang tidak seperti nama leluhur dan kaummu?Abdul Mutallib menjawab: Karena aku berharap seluruh penduduk bumi memuji anak ini."
Dalam riwayat lain dikisahkan:
وسبب تسميته بمحمد أنه رأي في المنام كان سلسلة من فضة خرجت من ظهره لها طرف في السماء، وطرف في المشرق، وطرف في المغرب، ثم عادت كأنها شجرة، على كل ورقة منها نور، وإذا أهل المشرق والمغرب كأنهم يتعلقون، فقصها عبد المطلب على المعبرين فعبروها له بمولود يتبعه أهل المشرق والمغرب، ويحمده أهل السماوات والأرض فلذلك سماه محمداً
Artinya: "Sebab penamaan Muhammad bahwa Abdul Mutallib bermimpi seolah ada rantai perak yang keluar dari punggungnya dan mempunyai jangkar di langit, di timur dan barat, kemudian berubah seperti pohon yang tiap daun berupa cahaya, penduduk masyriq dan maghrib bergantung padanya. Mimpi ini dikisahkan Abdul Mutallib kepada ahli mimpi, lalu mereka memprediksi bahwa anak yang lahir dinamakan Muhammad itu akan diikuti penduduk timur dan barat, dan seluruh penduduk langit bumi memujinya.
Imam Suhaili dalam kitab tersebut pada juz 2, hlm 153 mengemukakan:
وَأَمَّا مُحَمَّدٌ فَمَنْقُوْلٌ مِنْ صِفَّةٍ أَيْضًا, وَهُوَ فِي مَعْنَي مَحْمُوْدٌ. وَلَكِنْ فِيْهِ مَعْنَي الْمُبَالَغَةِ وَالتِّكْرَارِ, فَالْمُحَمَّدُ هُوَ الَّذِي حُمِدَ مَرَّةً بَعْدَ مَرَّةٍ كَمَا أَنَّ الْمُكَرَّمَ مَنْ أُكْرِمَ مَرَّةً بَعْدَ مَرَّةٍ
Artinya: “Adapun nama Muhammad itu juga diambil dari isim sifat yang memiliki makna mahmud (yang dipuji). Akan tetapi, di dalamnya mengandung arti sangat (mubalaghah) dan terus-menerus (tikrar). Maka dengan demikian Muhammad adalah orang yang sangat dipuji secara terus menerus, seperi halnya orang yang dimuliakan, yaitu orang yang dimuliakan secara terus-menerus.”
Tidak hanya Abdul Muttalib yang mendapat isyarat mimpi agar menamakan anak yang terlahir itu dengan nama Muhammad. Dalam riwayat lain yang dikisahkan oleh Ibnu Hisyam bahwa Sayyidah Aminah, bercerita pernah didatangi malaikat ketika mengandung, dan malaikat itu berkata kepadanya:
إنَّكِ قَدْ حَمَلْتِ بِسَيِّدِ هَذِهِ الْأُمَّةِ، فَإِذَا وَقَعَ إلَى الْأَرْضِ فَقُولِي: أُعِيذُهُ بِالْوَاحِدِ، مِنْ شَرِّ كُلِّ حَاسِدٍ، ثُمَّ سَمِّيهِ مُحَمَّدًا
Artinya: “Sesungguhnya kau sedang mengandung pemimpin umat ini. Maka, ketika ia terlahir ke dunia, ucapkanlah: “aku memohon perlindungan untuknya kepada Tuhan yang Maha Esa, dari kejahatan setiap orang yang hasud, dan namai ia ‘Muhammad’.” (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, hlm 180)
Dari sini dapat disimpulkan bahwa asal muasal penamaan Muhammad itu tidak terlepas dari isyarat mimpi Abdul Mutallib dan Sayidah Aminah. Keduanya bermimpi bahwa kelak anak yang terlahir ini akan menjadi pemimpin agung yang diikuti umat di berbagai penjuru dan namanya selalu harum, dipuji, bahkan ajarannya menjadi pedoman suci. Wallahu a'lam bis shawab.
Editor: Muhammad Faizin
