Dalil Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Dalil Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Arina.id - Bulan Dzulqa’dah akan berlalu. Bulan Dzulhijjah akan tiba. Sesuai dengan namanya, bulan Dzulhijjah merupakan bulan istimewa bagi mereka yang menunaikan ibadah haji. Sebab mereka memfokuskan diri untuk menuntaskan ibadah haji yang puncaknya wukuf pada tanggal 9-10 Dzulhijjah di Arafah.

Imam An-Nawawi dalam kitab berjudul Al-Idhah fi Manasikil Hajji, menyebutkan waktu wukuf:

كونه في وقته المحدود وهو من زوال الشمس يوم عرفة إلى طلوع الفجر ليلة العيد

Artinya: "Keberadaan wukuf itu dilakukan pada waktunya yang telah ditentukan, yaitu sejak tergelincir matahari (dzuhur) pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai terbitnya fajar (Subuh) malam Idul Adha (10 Dzulhijjah)." (Imam An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Haji pada Hasyiyah Ibni Hajar alal Idhah, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], halaman 147).

Sedangkan yang belum berkesempatan menunaikan haji, lazimnya diisi dengan berpuasa sunah pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah terkumpul berbagai macam ibadah yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lain. Di antaranya, sholat Idul Adha, puasa Tarwiyah dan Arafah, menyembelih kurban, dan pelaksanaan ibadah haji.

Dalam hadits riwayat Ahmad menyebutkan: 

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ  

Artinya: "Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah), karenanya perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya," (HR Ahmad).

Adapun dalil terkait keutamaan 10 hari pertama bulan dzulhijjah bisa ditemukan dalam salah satu hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الحِجَّةِ، يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ، وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ القَدْرِ

Artinya: "Diriwayatkan Abu Hurairah, dari Rasulullah, beliau bersabda: Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah; satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan setahun berpuasa, satu malam mendirikan sholat malam setara dengan sholat pada malam Lailatul Qadar." (HR. Tirmidzi, 3/122)

Sedangkan dalam redaksi lain:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِنَّ الْعَمَلُ - أَوْ قَالَ - أَفْضَلُ فِيهِنَّ الْعَمَلُ مِنْ أَيَّامِ الْعَشْرِ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ ، وَلَا الْجِهَادُ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَا يَرْجِعُ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Artinya: "Diriwayatkan Ibnu abbas, ia berkata, Rasulullah bersabda, tiada hari-hari yang disukai oleh Allah untuk melakukan amal ibadah paling utama daripada 10 hari pertama Dzulhijjah. Kemudian Rasulullah ditanya: apakah jihad juga kalah utama?, Beliau menjawab: begitu pula jihad, kecuali dia keluar berjuang sendiri dengan bekalnya dan tidak pulang membawa apa-apa." (HR. Tabrani 12/13)

Riwayat lain menyebutkan:

عن ابن عباس مرفوعا: "ما من أيام العمل الصالح أحب إلى الله فيهن من هذه الأيام" يعني عشر ذي الحجة، قالوا: ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجلا خرج بنفسه وماله، ثم لم يرجع من ذلك بشيء 

Artinya: "Diriwayatkan Ibnu Abbas dengan kualitas hadis marfu': Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih disukai Allah pada hari itu dari pada hari-hari ini, maksudnya sepuluh hari Dzulhijjah. Kemudian para sahabat bertanya: Dan bukan pula jihad, wahai Rasulullah?, Rasul lalu menjawab: Dan tidak pula jihad di jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar membawa diri dan hartanya kemudian ia tak pulang membawa apa-apa." (HR. Bukhari: 969)

Keumuman hadits marfu' ini cukup menjadi dasar keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, termasuk puasa sunnah pada hari ke-8 dan ke-9 di bulan ini. Puasa sunah pada hari ke-8 dikenal dengan puasa Tarwiyah, sedangkan puasa pada hari ke-9 ini populer disebut dengan puasa Arafah, yakni puasa sunah bagi selain orang yang sedang menjalankan ibadah haji. 

Dari penjelasan beberapa hadits, cukup jelas bahwa ibadah apapun yang dilaksanakan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sangat dianjurkan, termasuk sholat sunah, puasa sunah, tahlil, dzikir dan lain sebagainya. Khusus pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah disunahkan berpuasa Tarwiyah dan Arafah.

Berpuasa sunah di hari tersebut disunnahkan, mengecualikan tanggal 10 Dzulhijjah yang notebene adalah hari raya Idul Adha dan haram berpuasa di hari raya. Singkatnya, kesunnahan puasa Dzulhijjah terhitung mulai 1-9 Dzulhijjah saja. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
logo