Membahas Khilafiyah dan Solusi Hukum Sholat Malam Nisfu Sya’ban

Membahas Khilafiyah dan Solusi Hukum Sholat Malam Nisfu Sya’ban

Arina.id - sholat khair adalah nama lain dari sholat Nishfu Sya’ban yaitu sholat yang dilakukan di malam tanggal 15 Sya’ban. Sholat ini menjadi rutinitas sebagian muslim Nusantara pengikut tarekat, sufi, serta tasawuf. Namun pada kenyataanya, eksistensi sholat ini masih menjadi perdebatan bagi para pakar fiqih Islam antara pro-dan kontra.

Dalil yang digunakan oleh komunitas tarekat dalam melakukan sholat khair adalah catatan Imam Ghazali sebagai berikut:

وأما ‌صلاة ‌شعبان فليلة الخامس عشر منه يصلي مائة ركعة كل ركعتين بتسليمة يقرأ في كل ركعة بعد الفاتحة قل هو الله أحد إحدى عشرة مرة وإن شاء صلى عشر ركعات يقرأ في كل ركعة بعد الفاتحة مائة مرة قل هو الله أحد فهذا أيضاً مروي في جملة الصلوات كان السلف يصلون هذه الصلاة ويسمونها صلاة الخير ويجتمعون فيها وربما صلوها جماعة

Artinya: "Sholat Sya’ban yakni sholat malam 15 Sya’ban dengan 100 rakaat perdua rakaat satu salam, setiap rakaat membaca al-Ikhlas 11 kali, boleh melakukannya dengan 10 rakaat saja akan tetapi setiap rakaat membaca al-Ikhlas 100 kali. Sholat ini diriwayatkan dari berbagai dalil tentang berbagai macam sholat, para Salafussalih melakukan sholat ini dan menyebutnya dengan sholat khair dilakukan bersama-sama terkadang juga dengan berjamaah." (Ihya’ Ulumuddin, [Beirut: Darul Ma’rifah], juz 1, hal. 203.).

Imam Ghazali dalam lanjutan catatan itu mengemukakan dalil hadits riwayat Hasan Basri meskipun pada kenyataannya hadits tersebut sangat problematik menurut para pakar hadits. Sebagaimana banyak ditemukan di catatan kaki kitab Ihya’, hadits tersebut adalah:

وروي عن الحسن البصري رحمه الله أنه قال: حدثني ثلاثون من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أن ‌من ‌صلى ‌هذه ‌الصلاة ‌في ‌هذه ‌الليلة نظر الله تعالى إليه سبعين نظرة، وقضى له بكل نظرة سبعين حاجة أدناها المغفرة.

Artinya: "Diriwayatkan dari Hasan Basri berkata aku meriwayatkan dari 30 sahabat Nabi bahwa siapa yang melakukan sholat ini di malam ini maka Allah akan memandangnya dengan 70 kali pandangan, setiap pandangan bernilai 70 kali haji atau paling rendahnya adalah ampunan."

Selain al-Ghazali, Syekh Muhammad bin Ali bin Athiyah al-Haritsi atau yang lebih terkenal dengan sebutan Abu Talib al-Makki dalam Qutul Qulub fi Mu’amalatil Mahbub wa Washfi Tariqil Murid ila Maqamit Tauhid juga menuliskan tentang hal ini. (Beiut: Darul Kutub Ilmiyah, 2005, juz 1, hal. 113). Kemungkinan besar al-Ghazali mengutip catatan terkait sholat ini dan riwayat Hasan Basri dari beliau, sebab menurut banyak peneliti Ihya’ mengatakan bahwa al-Ghazali dalam ihya’-nya banyak mengutip darinya.

Catatan tentang sholat ini juga ditemukan dalam karya tulis Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitabnnya al-Ghunyah li Talibi Tariqil Haq (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1997, juz 1, hal. 349.) Hanya saja al-Jilani tidak mengkhususkan amaliah sholat ini di malam Nishfu Sya’ban saja, namun di beberapa malam seperti malam pertengahan bulan Rajab. 

Namun, catatan itu ditentang oleh pakar fiqih Islam seperti Imam Nawawi yang membid’ahkan praktik sholat ini dan meragukan dalil kutipan sholat ini, meskipun ditulis oleh Abu Talib al-Makki dan al-Ghazali. Berikut catatan al-Nawawi:

العاشرة الصلاة المعروفة بصلاة الرغائب وهي ثنتى عشرة ركعة تصلى بين المغرب والعشاء ليلة أول جمعة في رجب وصلاة ليلة ‌نصف ‌شعبان مائة ركعة وهاتان الصلاتان بدعتان ومنكران قبيحتان ولا يغتر بذكرهما في كتاب قوت القلوب وإحياء علوم الدين ولا بالحديث المذكور فيهما فإن كل ذلك باطل ولا يغتر ببعض من اشتبه عليه حكمهما من الأئمة فصنف ورقات في استحبابهما فإنه غالط في ذلك وقد صنف الشيخ الإمام أبو محمد عبد الرحمن بن اسمعيل المقدسي كتابا نفيسا في إبطالهما فأحسن فيه وأجاد رحمه الله

Artinya: "Kesepuluh sholat ragha’ib yakni 12 rakaat antara maghrib dan isya malam jumat bulan Rajab dan sholat malam Nishfu Sya’ban 100 rakaat, kedua sholat ini adalah bid’ah munkarah qabihah. Jangan tertipu meskipun tercatat dalam Qutul Qulub dan Ihya Ulumuddin dan juga terhadap hadits terkait kedua sholat itu karena semuanya batil, dan jangan tertipu dengan orang yang membiaskan hukum sholat ini yang menulis beberapa lembar untuk mendukung hukum kesunnahannya, sedangkan Syekh Abdurrahman bin Ismail al-Maqdisi telah menulis buku bagus tentang bantahan hukum kedua sholat tersebut, maka bacalah." (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, [Kairo: Al-Muniriyah], juz 4, hal. 56.

Sayyid Bakri Syatha mengutip pendapat al-Kurdi mengatakan bahwa eksistensi sholat ini memang masih diperdebatkan oleh para ulama sebab keabsahan hadits terkait sholat itu yang cenderung problematik sebagaimana berikut:

قال العلامة الكردي: واختلف العلماء فيها، فمنهم من قال لها طرق إذا اجتمعت وصل الحديث إلى حد يعلم به في فضائل الأعمال ومنهم من حكم على حديثها بالوضع، ومنهم النووي، وتبعه الشارح في كتبه.

Artinya: "Al-Kurdi mengatakan bahwa para ulama berbeda pendapat terkait sholat ini, sebagian megatakan sholat ini mempunyai beberapa riwayat yang jika dikumpulkan akan mencapai level diketahui atas dasar fadhilah amal. Sedangkan ulama lainnya diantaranya adalah Imam Nawawi dan Syekh Zainuddin al-Malibari mengatakan hadits terkait sholat ini adalah palsu." (I’anatut Talibin, [Beirut: Darul Fikr, 1997], juz 1, hal. 312.).

Jalan Keluar dari Khilafiyah

Terkait dengan perbedaan pendapat yang muncul dari para ulama, jika seseorang masih menginginkan untuk melakukan sholat khair di malam pertengahan bulan Sya’ban ini, maka dia hendaknya berniat sholat sunnah mutlak. Sholat ini adalah sholat yang tidak mempunyai sebab dan waktu dan hukumnya sunnah. Sholat ini juga tidak ada batasan nominal rakaat dan bacaannya serta niatnya cukup dengan mengucapkan ushalli saja.

Agar sesuai dengan relevansi malam Nishfu Sya’ban, tentunya konten dari sholat sunnah mulak itu dilakukan sama halnya dengan ketentuan dalam sholat khair yang dijelaskan oleh al-Ghazali di atas, hanya saja berbeda dalam niat, yakni tidak diniati sholat khair atau sholat nishfu sya’ban.

Hal ini juga perlu difahami oleh para pengamal sholat khair ini untuk lebih mempertimbangkan sudut pandang fikih Islam dalam melakukan suatu ibadah agar tidak tekesan adanya dikotomi antara fiqih dengan tasawuf. Sebab sejatinya keduanya merupakan satu kesatuan syariah Islam yang saling melengkapi satu sama lain. Wallahub a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
logo