Arina.id - Bulan Ramadhan adalah musim kebaikan yang selalu dinanti umat Islam. Di dalamnya, setiap amal saleh memperoleh ganjaran berlipat dari Allah SWT. Ibadah wajib tetap menjadi fondasi utama, namun amalan sunah yang dikerjakan sepanjang Ramadhan juga menghadirkan limpahan pahala yang besar.
Karena itu, menghidupkan hari dan malam Ramadhan dengan berbagai bentuk ketaatan merupakan kesempatan emas yang tidak sepatutnya disia-siakan. Inilah 10 amalan sunah yang menjadi keutamaan bulan Ramadhan:
1. Anjuran Menyegerakan Berbuka Puasa
Salah satu amalan yang dianjurkan ialah menyegerakan berbuka puasa ketika matahari benar-benar telah terbenam. Nabi Muhammad SAW Bersabda:
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ
Artinya: “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (H.R. Bukhari)
Para ulama menjelaskan bahwa anjuran ini menunjukkan pentingnya mengikuti tuntunan syariat secara tepat waktu. Dengan menjaga sunah ini, umat Islam tetap berada dalam keteraturan dan kebaikan.
2. Sunnah Berbuka dengan Kurma atau Air
Makanan yang disunahkan untuk berbuka adalah kurma. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلْيُفْطِرْ عَلَى التَّمْرِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ التَّمْرَ فَعَلَى الْمَاءِ فَإِنَّهُ طَهُوْرٌ
Artinya: “Jika salah seorang dari kalian berbuka, hendaklah berbuka dengan kurma jika tidak mendapatkannya hendaklah dengan air sebab ia suci mensucikan.” (H.R. Ibn Majah)
Urutan terbaik adalah kurma basah, lalu kurma kering, dan jika tidak ada keduanya maka air. Namun, seseorang tetap memperoleh nilai kesunahan meskipun hanya berbuka dengan air.
3. Membaca Doa Saat Berbuka
Ketika berbuka, disunahkan membaca doa sebagai bentuk penghambaan dan rasa syukur kepada Allah. Doa berbuka mengandung pengakuan bahwa puasa dilakukan semata-mata karena Allah dan berbuka pun atas rezeki-Nya. Momentum ini menjadi saat penuh harap karena doa orang yang berpuasa termasuk doa yang mustajab.
Doa bukan puasa adalah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلَتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ يَا وَاسِعَ الْفَضْلِ اغْفِرْ لِيْ اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانِيْ فَصُمْتُ وَرَزَقَنِيْ فَأَفْطَرْتُ
Artinya: “Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berpuasa. Dengan rezeki-Mu aku membatalkannya. Kepada-Mu aku berpasrah. Dahaga telah pergi. Urat-urat telah basah dan Insyaallah pahala sudah tetap. Wahai Dzat Yang Luas Karunia, ampuni aku. Segala puji bagi Tuhan yang memberi petunjuk padaku, lalu aku berpuasa. Dan segala puji Tuhan yang memberiku rezeki, lalu aku membatalkannya.”
4. Keberkahan dan Hikmah Sahur
Sahur merupakan amalan yang sarat keberkahan. Walaupun hanya dengan seteguk air, sahur tetap bernilai ibadah. Disunahkan mengakhirkan waktu sahur mendekati fajar sebagai bentuk mengikuti tuntunan Nabi.
Rasulullah saw. bersabda:
تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِيْ السَّحُوْرِ بَرَكَةً
Artinya: “Sahurlah kalian semua. Sesungguhnya sahur itu mengandung keberkahan.” (H.R. Bukhari)
5. Menghidupkan Ramadhan dengan Al-Qur’an
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Karena itu, memperbanyak membaca, memahami, dan mentadabburi Al-Qur’an menjadi amalan utama. Rasulullah SAW bahkan lebih sering bertadarus setiap malam di bulan Ramadhan, menunjukkan eratnya hubungan antara Ramadhan dan Al-Qur’an.
Allah SWT Berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْ أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Artinya: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (Q.S. Al-Baqarah: 185)
6. Keutamaan Bersedekah di Bulan Puasa
Memperbanyak sedekah juga sangat dianjurkan. Nabi bersabda bahwa siapa yang memberi makan orang berpuasa akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun (HR. Ahmad). Semangat berbagi ini menjadi wujud nyata tolong-menolong dalam ketakwaan.
Dalam salah satu redaksi hadits Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَتَبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، إلَّا أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الْصَّائِمِ
Artinya: “Barangsiapa yang memberi makanan untuk berbuka kepada orang yang sedang berpuasa, maka dicatat baginya pahala sebagaimana orang yang berpuasa itu. Tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa tersebut.” (H.R. Ahmad)
7. Pahala Shalat Tarawih Berjamaah
Menghidupkan malam Ramadhan dengan sholat tarawih berjamaah memiliki keutamaan besar. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:
إنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
Artinya: “Sesungguhnya siapa saja yang melaksanakan sholat Tarawih secara berjamaah bersama imam hingga selesai maka ia akan dicatat telah mengerjakan sholat semalam suntuk (semalam penuh.)” (H.R. Abu Dawud)
8. Memperbanyak Doa di Bulan Mustajab
Ramadhan merupakan waktu yang penuh keberkahan dan kesempatan terkabulnya doa. Setiap hari dan malam di bulan ini menjadi momentum untuk memohon ampunan, rahmat, dan berbagai hajat kepada Allah. Karena itu, memperbanyak doa adalah bagian penting dalam memaksimalkan ibadah Ramadhan.
Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ للهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عُتَقَاءَ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ يَعْنِيْ فِي رَمَضَانَ، وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ
Artinya: “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala memiliki hamba-hamba di setiap hari dan malam (dalam bulan Ramadhan) yang dimerdekakan dari api neraka. Dan sesungguhnya setiap Muslim pada siang hari dan malam (di dalam bulan Ramadhan) memiliki doa yang dikabulkan oleh Allah SWT.” (H.R. Al-Bazzar)
9. Menghadiri Majelis Ilmu dan Pengajian
Selain ibadah ritual, menghadiri majelis ilmu dan memperdalam pemahaman agama juga sangat dianjurkan. Aktivitas ini akan menambah wawasan, menguatkan keimanan, serta menjadikan Ramadhan lebih bermakna dan produktif.
Syekh Muhammad Allan Ash-Shiddiqi (wafat 1057 H) menegaskan:
فِيْ هَذَا الْحَدِيْثِ فَوَائِدٌ مِنْهَا الْحَثُّ عَلَى الْجُوْدِ فِيْ كُلِّ وَقْتٍ، وَالْزِّيَادَةُ مِنْهُ فِيْ رَمَضَانَ وَعِنْدَ الْاِجْتِمَاعِ بِأَهْلِ الْصَّلاَحِ وَفِيْهِ زِيَارَةُ الْصُّلَحَاءُ وَأَهْلُ الْفَضْلِ... وَاسْتِحْبَابِ الْإِكْثَارِ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِيْ رَمَضَانَ
Artinya: “Dalam hadits ini (hadits Rasulullah SAW tadarus Al-Qur’an kepada malaikat Jibril) mengandung beberapa faidah, diantaranya terdapat anjuran untuk memaksimalkan waktu sepenuhnya untuk berkumpul dengan orang-orang salih, dan menziarahi (mendatangi majelis) orang-orang yang memiliki keutamaan (ulama). Disamping itu hadits ini juga mengandung akan disunahkannya memperbanyak membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadhan.” (Muhammad Allan Ash-Shiddiqi, Dalil Al-Falihin Li Thuruq Riyadh Ash-Shalihin [Beirut: Dar Al-Ma’rifah], vol. 7, h. 48)
10. Mengoptimalkan Ibadah pada Sepuluh Hari Terakhir
Sepuluh hari terakhir Ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah SAW meningkatkan ibadahnya pada malam-malam tersebut dan mengajak keluarganya untuk turut serta beribadah. Pada fase ini, dianjurkan pula melakukan i’tikaf di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah serta berharap meraih keutamaan Lailatul Qadar.
Demikian ini terekam dalam redaksi hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari:
كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ الْأَوَاخِرُ مِنْ رَمَضَانَ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأيْقَظَ أهْلَهُ، وَجَدَّ، وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
Artinya: “Ketika memasuki sepuluh akhir Ramadhan, Rasulullah Saw. fokus beribadah mengisi malamnya dengan ibadah dan membangunkan keluarganya untuk turut serta beribadah, bersungguh-sungguh, serta mengencangkan ikat pinggangnya.” (H.R. Al-Bukhari)
Dengan mengamalkan berbagai sunah tersebut, Ramadhan dapat dijalani secara lebih maksimal dan penuh keberkahan. Semoga Allah menerima setiap amal ibadah yang kita lakukan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor: Muhammad Faizin
