Belajar dari Film Bila Esok Ibu Tiada: Jangan Menunda Berbakti pada Ibumu

Belajar dari Film Bila Esok Ibu Tiada: Jangan Menunda Berbakti pada Ibumu

Arina.id - Mengenang dan berbicara tentang ibu, rasanya air mata tak bisa terbendung. Bagaimana tidak, sejak kita lahir, ibu adalah sosok pertama yang menyambut kita dengan air mata bahagia, meski tubuhnya lelah setelah melahirkan. Ketika kita menangis di tengah malam, ibu terjaga, mengayun tubuh kita dalam pelukan meski dirinya letih.

Begitu pula ketika kita belajar berjalan, ibu selalu ada untuk menenangkan kita saat terjatuh, menghapus air mata, dan berkata, “Tidak apa-apa, Nak. Coba lagi.” Kasih sayangnya tak pernah mengenal lelah, bahkan ibu rela mengorbankan keinginannya demi kebahagiaan kita.

Namun, bagaimana jika ibu tidak lagi ada di sisi kita? Kiranya begitulah sekilas Film Bila Esok Ibu Tiada, yang tayang serentak pada 14 November 2024. Film ini mengisahkan seorang ibu yang menginginkan anak-anaknya hidup dalam kedamaian, saling mendukung, dan menjaga tali persaudaraan. Sebelum ia meninggal, ia berharap agar cinta dan perhatian yang ia berikan selama ini bisa terus menyatukan mereka.

Film ini memberi pelajaran kepada kita untuk tidak menunda berbakti kepada ibu, karena kita tidak pernah tahu kapan ajal itu akan datang menjemputnya.

Dalam Islam, berbakti kepada orang tua terutama ibu bukan hanya sekadar kewajiban moral, tetapi juga perintah langsung dari Allah SWT secara tegas. Dalam Al-Qur'an surat Luqman ayat 14 Allah berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسانَ بِوالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلى وَهْنٍ وَفِصالُهُ فِي عامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu; hanya kepada-Kulah kembalimu."

Selain itu, Rasulullah SAW dalam haditsnya juga menegaskan pentingnya berbakti kepada ibu:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّٰهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّٰهِ صَلَّى اللَّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَن أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صُحَابَتِي؟ قَالَ: "أُمُّكَ". قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: "ثُمَّ أُمُّكَ". قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: "ثُمَّ أُمُّكَ". قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: "ثُمَّ أَبُوكَ

Artinya: "Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shalllahu ‘alayhi wassalam dan bertanya, “Siapakah orang yang paling berhak untuk aku perlakukan dengan baik?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Lelaki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Kemudian ibumu.” Lelaki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah  menjawab, “Kemudian ibumu.” Lelaki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” rasulullah menjawab, “Kemudian ayahmu.” (Fathul Mun’im Syarah Sahih Muslim juz 9 halaman 611 hadis ke 5665)

Syaikh Wahbah Zuhaili dalam kitab tafsirnya menjelaskan terkait ayat ini bahwa berbakti kepada orang tua adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap individu. Tidak hanya terhadap orang tua yang beragama Islam, tetapi juga kepada orang tua yang non-Muslim, senyampang tidak melanggar syariat dan tidak bermaksiat kepada Allah.

بِرُّ الوَالدَيْنِ وَطَاعَتُهُما فِي مَعْرُوفٍ غَيْرِ مَعْصِيَةٍ فَرْضٌ وَاجِبٌ عَلَى الإِنسَانِ، مُقَابَلَةً لِلْمَعْرُوفِ بِمِثْلِهِ، وَوَفَاءً لِلْإِحْسَانِ، وَتَقْدِيرًا لِلْفَضْلِ، وَاحْتِرَامًا لِنِظَامِ الأُسْرَةِ. وَأَمَرَ اللَّٰهُ بِالإِحْسَانِ إِلَى الوَالدَيْنِ عَامًّا فِي الوَالدَيْنِ المُسْلِمَيْنِ وَالْكَافِرَيْنِ، وَأَنَّ طَاعَةَ الوَالدَيْنِ عَلَى أَيِّ دِينٍ كَانَا وَاجِبَةٌ

Artinya: "Berbakti kepada orang tua dan mentaati mereka dalam kebaikan yang tidak melanggar syariat adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Ini sebagai bentuk pembalasan kebaikan mereka dengan kebaikan yang serupa, sebagai bentuk penghormatan atas segala kebaikan yang telah diberikan, serta sebagai pengakuan terhadap peran mereka dalam sistem keluarga. Allah memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang tua, baik mereka Muslim atau non-Muslim, dan bahwa ketaatan kepada orang tua, tidak peduli agama mereka, adalah wajib." (Tafsir Munir juz 21 halaman 152)

Ada banyak cara berbakti kepada orang tua. Salah satu yang sering dilupakan adalah merawat orang tua terutama ketika beliau sudah lanjut usia. Tidak sedikit dari kita yang terlalu sibuk dengan urusan duniawi, sehingga lupa untuk memberikan perhatian yang layak kepada orang tua yang sudah tua dan rapuh.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:" رَغِمَ أَنْفٌ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفٌ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفٌ، قِيلَ: مَنْ؟ يَا رَسُولَ اللَّهِ! قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِندَ الْكِبَرِ، أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

Artinya: "Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu, dari Nabi SAW beliau bersabda: "Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka! Ditanyakan: 'Siapa wahai Rasulullah?' Beliau menjawab: 'Orang yang mendapati kedua orang tuanya pada usia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi ia tidak masuk surga.” (Fathul Mun’im Syarah Sahih Muslim juz 9 halaman 619 hadis ke 5663)

Dari Film Bila Esok Ibu Tiada kita belajar bahwa akan tiba waktunya kita hanya akan bisa mengenang kasih sayang ibu. Ketika itu terjadi, kita akan menyadari betapa berharganya waktu yang telah kita sia-siakan tanpa berbakti kepadanya. Oleh karena itu, jangan pernah menunda untuk berbakti kepada ibu. Wallahu a'lam bis shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
logo