Dalil Disunahkannya Puasa Bulan Syaban

Dalil Disunahkannya Puasa Bulan Syaban

Arina.id - Bulan Sya'ban merupakan salah satu bulan mulia yang terkadang dianggap biasa oleh sebagian umat Islam, padahal kualitas bulan yang terhimpit di antara Rajab dan Ramadhan ini mendapat perhatian khusus dari Rasulullah dengan berpuasa sunnah.

Dasar bahwa bulan Sya'ban mendapat perhatian khusus berasal dari riwayat Aisyah:

عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كانَ رَسولُ الله صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَصُومُ حتَّى نَقُولَ: لا يُفْطِرُ، ويُفْطِرُ حتَّى نَقُولَ: لا يَصُومُ، فَما رَأَيْتُ رَسولَ الله صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إلَّا رَمَضَانَ، وما رَأَيْتُهُ أكْثَرَ صِيَامًا منه في شَعْبَانَ.

Artinya: "Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah pernah berpuasa sampai aku mengatakan (dalam riwayat Anas: mengira) bahwa beliau tidak berpuasa, dan beliau berbuka puasa, sampai aku mengatakan (mengira) bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa sebulan kecuali Ramadan, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah puasa sunnah sebanyak di bulan Syaban." (HR. Bukhari, 1969)

Senada dengan redaksi hadits ini, dalam riwayat lain disebutkan:

لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

Artinya: "Nabi Muhammad tidak pernah melakukan puasa bulanan lebih banyak dari pada bulan Syaban. Sesungguhnya beliau puasa hampir sebulan penuh" (HR Bukhari dan Muslim).

Berkenaan dengan hal ini, Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab al-Fatâwal Kubra, menganjurkan umat Islam untuk berpuasa sunah di bulan Sya'ban. Sebagai bentuk mengikuti kebiasaan Nabi Muhammad. 

Namun, Ibnu Hajar tidak menganjurkan puasa satu bulan penuh di Sya'ban. Sebab dalam redaksi Sahih Muslim terdapat tambahan:

كان يَصومُ شَعبانَ كُلَّه إلَّا قَليلًا، بل كانَ يَصومُ شَعبانَ كُلَّه

Artinya: "Nabi Muhammad memperbanyak berpuasa di bulan Syaban, kecuali sedikit yang tidak diisi ibadah puasa. Bahkan beliau hampir berpuasa satu bulan penuh."

Redaksi ini dapat dipahami bahwa Rasulullah suka memperbanyak berpuasa sunah di bulan Sya'ban dan bukannya berpuasa satu bulan penuh. Ibnu Rajab dalam kitab Lataiful Maarif menyebutkan:

وقد رجح طائفة من العلماء منهم ابن المبارك وغيره أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يستكمل صيام شعبان، وإنما كان يصوم أكثره، ويشهد له ما في صحيح مسلم.

Artinya: "Sebagian ulama di antaranya Ibnul Mubarak dan lainnya berpendapat bahwa Nabi Muhammad tidak menyempurnakan puasa Sya'ban (tidak puasa satu bulan) akan tetapi memperbanyak ibadah puasa di bulan Syaban, demikian maksud dari hadits Sahih Muslim."

Adapun niat puasa sunnah Sya'ban adalah sebagai berikut: 

 نَوَيْتُ صَوْمَ شَعْبَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى 

Nawaitu shauma sya’bâna lilâhi ta’âlâ.

Artinya: “Saya niat puasa Sya’ban karena Allah ta’âlâ."

Aturan dan larangan dalam berpuasa sunah di bulan Sya'ban itu sebagaimana puasa sunah lainnya. Seperti niat puasa sunah Sya'ban yang dilakukan sejak malam hari hingga siang sebelum masuk waktu zawal (saat matahari tergelincir ke barat).

Tentu itu dengan syarat jika orang tersebut belum melakukan perkara yang membatalkan puasa sejak terbit fajar atau sejak masuk waktu subuh. Jika sudah melakukan, maka puasanya batal. 

Dengan demikian, puasa sunah di bulan Sya'ban sangat dianjurkan bagi mereka yang ingin merawat dan menjaga amal ibadahnya khususnya puasa sunah, agar mendapatkan kesempurnaan ibadah selama tiga bulan berturut-turut yakni Rajab, Sya'ban hingga Ramadhan. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
logo