Setiap jemaah haji pastilah ingin meraih predikat haji yang mabrur. Terminologi haji mabrur masih sangat multitafsir dikalangan para ulama, meskipun pada intinya sama yakni diterimanya ibadah haji seseorang. Al-Nawawi mengatakan sebagai berikut:
الْمَبْرُوْرُ قال شَمْرُ وغيرُه هو الذي لا يُخَالِطُهُ معصيةٌ مأخوذٌ مِنْ البِّرِّ وهو الطاعةُ وقال الأزهري المبرُوْرُ الْمُتَقَبَّلُ وأصلُهُ مِنْ البِّرّ ِوهو اسم جَامِعٌ للخير ومنه برَرْتُ فلانا أي وصَلْتُهُ وكُلُّ عَمَلٍ صالحٍ بَرٌّ ويقال بَرَّ الله حجَّهُ وأَبَرَّهُ
Artinya: “Mabrur menurut Syamr dkk. yakni yang tidak ternodai oleh kemaksiatan, kata mabrur dikutip dari kata al-Birru yang berarti ketaatan, menurut al-Azhari mabrur adalah yang diterima dari akar kata al-Birru yakni kata benda yang mencakup segala kebaikan seperti contoh aku berbuat baik kepada fulan, yakni aku menjalin hubungan baik dengannya, dan setiap perbuatan saleh adalah barrun, dikatakan “Allah menjadikan hajinya baik dan Allah memperbaikinya”. (Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Tahriru Alfadzi al-Tanbih, [Syamilah], juz 1, hal. 152.).
Status mabrur dalam ibadah haji bagaikan status maqbulnya suatu ibadah seperti sholat dan ibadah yang lain. Meskipun status kemabruran ibadah haji seseorang terbilang abstrak sebagaimana diterimanya ibadah sholat, para ulama telah merumuskan beberapa indikator kemabruran haji seseorang sebagaimana berikut:
ويُحِثُّهُمْ على الطاعةِ وملازمةِ التَّقْوَى والتوبةِ النَّصُوْحِ والثَّبَاتِ عليها وخُتِمَ حجُّهُمْ بالاستِقَامَةِ مَا استطَاعُوْا وأن يَكُوْنُوْا بَعْدَ الحجِّ خَيْرًا منهم قَبْلَهُ فإن ذلك من علامةِ الحجِّ المبرورِ.
Artinya: “Tambahnya ketaatan kepada Allah, konsisten dalam ketakwaan, taubat nasuha dan konsisten atas taubatnya, mengakhiri prosesi haji dengan istiqamah sesuai kemampuan, dan efek positif yang lebih meningkat pasca berhaji dari pada sebelumnya. Maka sesungguhnya itulah tanda haji mabrur”. (Abdul Hamid al-Syarwani, Hawasyi al-Syarwani ala Tuhfatil Muhtaj, [Beirut: Darul Fikr, 2019], juz, 4, hal. 148.).
Haji Mabrur menurut KH Maimoen Zubair
Hal yang menjadi perhatian penulis adalah tanda-tanda atau indikator kemabruran haji menurut Syaikhuna Allah Yarham Maimoen Zubair yang terbilang unik dan sangat filosofis terhadap kondisi sosio-kultural masyarakat. Tanda ini beliau padukan dengan interpretasi dari beberapa dalil Al-Qur’an dan Hadits.
Syaikhuna menjelaskan (ngendikan) dalam salah satu pengajiannya yang di rekam dalam kanal Youtube ppalanwarsarang sebagai berikut:
“Menungso iku nduweni kemulyanan iku nek kaji, Nabi Adam mulyo mergo kaji, iso ketemu Siti Hawa yo kaji. Dadi mbesok kapan ora ono kaji wong melarat kabeh. Molane ono kaji kok bar kok tambah ora penak wah bahaya iki.”
Artinya: “Manusia itu mempunyai kemuliaan ketika sudah berhaji, sebagaimana Nabi Adam yang dimuliakan setelah melaksanakan haji dan dipertemukan kembali dengan ibu Hawa. Maka jika suatu saat haji sudah tidak ada maka masyarakat akan mengalami krisis ekonomi. Oleh karena itu, masih bisa berhaji kok setelah berhaji kehidupannya kurang sejahtera, wah bahaya itu”.
Pernyataan Syaikhuna Maimoen ini mengindikasikan adanya indikator kemabruran haji yakni berubahnya kehidupan seseorang menjadi tambah tentram dan sejahtera baik secara finansial dan mental, jika sebaliknya maka harus dipertanyakan bagaimana kemabruran hajinya.
Indikator ini sama halnya dengan yang banyak dicatat oleh para ulama sebagaimana penulis kutip di atas, yakni adanya perubahan positif dan peningkatan kebaikan dari sebelum melaksanakan ibadah haji hingga pasca berhaji.
Syaikhuna lanjut ngendikan sebagai berikut:
“Wong kaji iku enak, ora ono wong enak koyok wong kaji, mangkane kaji kok bar teko ndue utang ditagih Bank, yo Innalillah wa Inna Ilaihi Rojiun.”
Artinya: “Berhaji itu enak, tidak ada nikmat ibadah seperti berhaji, oleh karena itu jika ada orang berhaji kok mempunyai hutang di bank dan setelah pulang ditagih, maka innalillah wa inna ilaihi rajiun”.
“Mergo kaji iku alamate suwargo الحج المبرور ليس له الجزاء الا الجنة. Lha kapan bar kaji mesti apik e, kapan apik mesti enak e.”
Artinya: “Karena haji itu menjadi tanda masuk surga sebagaimana dalam hadits bahwa haji mabrur tiada balasan baginya kecuali surga. Oleh karena itu setelah berhaji itu mestinya menjadi lebih baik, dan setelah menjadi baik maka dia bisa mempunyai kehidupan yang sejahtera”.
Indikator kemabruran haji menurut Syaikhuna memang lebih memandang kepada efek positif yang dirasakan dan dipancarkan oleh orang pasca melaksanakan ibadah haji. Seseorang yang berhaji seakan teriluminasi oleh cahaya kebesaran Allah melalui ibadah haji sehingga ketika ia selesai melaksanakannya dengan sempurna, akan menjadi pribadi yang baik dan lebih baik dari sebelumnya.
Kehidupan seseorang yang dilaksanakan dengan penuh kebaikan dan nilai positif tentunya akan membawa keberkahan tersendiri baginya dan keluarganya. Hal ini dikuatkan oleh Syaikhuna dengan mengutip Surat al-Nahl ayat 97 sebagai berikut:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّه حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.”. (QS. An-Nahl, 97).
Kita sendiri banyak menemukan kisah dari orang-orang sekitar yang mengalami perubahan hidup yang lebih baik pasca berhaji, baik secara finansial, perekonomian, hubungan kekeluargaan, dan kepribadian diri yang semakin membaik.
Entah karena sudah sah menyandang gelar “Haji” dan lebih sering menggunakan atribut haji seperti peci putih dan kemana-mana dipanggil “Abah” atau “Pak Haji”. Ia mengalami stigmatisasi sosial yang membuatnya menjadi orang yang religius dan merubah diri untuk menjadi lebih baik, ataukah karena kesadaran diri sendiri atas pengaruh keberkahan Baitullah yang mengiluminasinya untuk menjadi Muslim yang berkepribadian baik.
Bahkan tidak jarang orang yang sebelum berhaji kurang bisa menjaga sholatnya, akan tetapi pasca berhaji dia selalu melaksanakan sholat jamaah, bahkan merasa malu jika dia tidak melaksanakan sholat karena setiap hari dia melihat fotonya di depan Ka’bah yang dia pampang di ruang tamu rumahnya.
Pada intinya, indikator kemabruran haji menurut Syaikhuna Maimoen sangatlah kontekstual dan sesuai dengan kondisi sosio-kultural masyarakat kita, dan tentunya indikator itu bisa dinilai dan diukur dengan matriks sosial, yang berbeda dengan indikator abstrak yang lebih bersifat personal. Wallahu a’lam bisshawab.
Editor: Muhammad Faizin
