Amalan Saat Proses Pemakaman Agar Mayit Selamat dari Siksa Kubur

Amalan Saat Proses Pemakaman Agar Mayit Selamat dari Siksa Kubur

Dalam Islam, kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan abadi di alam akhirat. Setelah seseorang meninggalkan dunia ini, ia akan menjalani fase kehidupan di alam kubur, di mana setiap amal perbuatannya selama di dunia akan diperhitungkan. 

Bagi seorang Muslim, penting untuk mempersiapkan diri dengan baik, karena siksa kubur adalah salah satu hal yang paling dikhawatirkan. Siksa ini adalah balasan atas dosa-dosa yang dilakukan selama hidup di dunia, dan akan dirasakan oleh seseorang sampai datangnya hari kiamat.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut;

إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الآخِرَةِ، فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ

Artinya: “Sesungguhnya kubur adalah awal dari tahapan akhirat. Jika seseorang selamat dari siksa kubur, maka apa yang datang setelahnya akan lebih mudah. Namun, jika ia tidak selamat, maka yang setelahnya akan lebih berat.” (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui amalan-amalan yang dapat menyelamatkan diri dari siksa kubur, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk keluarga yang telah mendahului kita.

Dalam literatur islam dijumpai beberapa keterangan terkait beberapa amalan ibadah yang dapat mennyelamatkan kita dari pedihnya siksa kubur. Salah satunya adalah dengan menjaga sholat 5 waktu. Sebab sholat merupakan amal pertama yang akan dihitung pada hari kiamat. Sebagaimana hadis riwayat Abu Hurairah berikut:

قاَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ 

Artinya: "Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya amal yang pertama kali akan dihitung pada hari kiamat dari amal perbuatan hamba adalah sholatnya. Jika shalatnya baik dan sempurna, maka dia telah beruntung dan berjaya. Namun jika sholatnya rusak dan tidak sempurna, maka dia merugi dan gagal."

Selain menjaga sholat, agar selamat dari siksa kubur, Syaikh Abu Bakar Syatha Ad Dimyathi dalam kitabnya Ianah At Thalibin syarah kitab Fathul Muin, menganjurkan untuk melakukan amalan berikut saat proses penguburan atau pemakaman.

فائدة: عن الإمام تقى الدين عن والده عن الفقيه أبي عبد الله محمد الحافظ أن رسول الله ﷺ قال من أخذ من تراب القبر حال الدفن بيده أي حال إرادته وقرأ عليه إنا أنزلناه في ليلة القدر سبع مرات وجعله على الميت في كفنه أو قبره لم يعذب ذلك الميت في القبر

Artinya: “Sebuah faidah, dari Imam Taqiuddin, dari ayahnya, dari Al-Faqih Abu Abdullah Muhammad Al-Hafizh, bahwa Rasulullah bersabda: "Barangsiapa mengambil sedikit tanah dari kuburan dengan tangannya saat pemakaman, lalu membaca 'Inna Anzalnahu fi Lailatil Qadr' (Surat Al-Qadr) tujuh kali, dan meletakkannya pada mayat di dalam kain kafan atau kuburnya, maka mayat itu tidak akan disiksa di dalam kubur.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Faqih Abu Abdullah Muhammad Al-Hafizh dan telah menjadi amalan yang banyak dikenal di kalangan para ulama Syafi’iyyah. Beberapa kitab besar, seperti Tuhfatul Muhtaj, Bujairami Ala Syarh Al Khatib, Hasiyah Jamal dan lain lain juga mencantumkan hadits ini. Para ulama yang mengutipnya tentunya memiliki landasan kuat, dan mereka tidak sembarangan mengamalkan atau menuliskan hadits tersebut jika tidak memiliki keyakinan akan validitasnya.

Meskipun beberapa ulama mungkin mempersoalkan status hadits ini dari sisi keotentikan, penting untuk memahami bahwa para ulama Syafi’iyyah telah menganggapnya sebagai bagian dari amalan yang dianjurkan dalam konteks fiqih, dan ini menunjukkan bahwa ada penghargaan yang tinggi terhadap praktik tersebut dalam mazhab Syafi’i.

Dengan demikian amalan agar selamat dari siksa kubur yang dapat dilakukan saat proses penguburan adalah dengan mengambil sedikit tanah dari kuburan dan membacakan Surah Al-Qadr sebanyak tujuh kali, serta meletakkannya di kafan atau kuburan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bis shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
logo