Memahami Makna ‘Carilah Ilmu Walau Sampai ke Negeri Cina’

Memahami Makna ‘Carilah Ilmu Walau Sampai ke Negeri Cina’

Arina.id - “Carilah ilmu walau sampai ke Negeri Cina”. motivasi ini tentu tidak asing di telinga para pencari ilmu, baik yang belajar di pesantren, sekolah formal, maupun bangku perkuliahan. Namun, tidak sedikit yang mengira bahwa kutipan tersebut hanyalah sekadar motivasi atau kata mutiara belaka. Padahal, itu adalah hadits Rasulullah SAW, meskipun derajatnya diperselisihkan oleh para ulama.

Banyak pula yang belum memahami maksud sebenarnya dari hadits ini. Apakah Rasulullah benar-benar menyuruh kita belajar ke Negeri Cina, sebuah negara maju di masa kini? Simak penjelasan lengkapnya!

Kualitas Hadits “Carilah ilmu sampai ke Negeri Cina”

Dalam Fatawa As Syabakah Al Islamiyyah, ulama masih berbeda pendapat terkait kualitas hadits “Carilah ilmu sampai ke Negeri Cina”. Ada yang mengatakan hadits tersebut adalah hadits maudhu’ dan ada juga yang mengatakan hadits tersebut adalah hadits yang matan (isinya) masyhur namun sanad-nya dhaif. Bahkan ada juga yang mengatakan hadits tersebut hadits hasan.

قَالَ عَنْهُ الْإِمَامُ الْعِرَاقِيُّ فِي تَخْرِيْجِ أَحَادِيْثِ الْإِحْيَاءِ حَدِيْثُ اُطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ أَخْرَجَهُ ابْنُ عَدِيٍّ وَالْبَيْهَقِيُّ فِي الْمُدْخَلِ وَالشِّعَبِ مِنْ حَدِيْثِ أَنَسٍ. وَقَالَ الْبَيْهَقِيُّ: مَتْنُهُ مَشْهُوْرٌ وَأَسَانِيْدُهُ ضَعِيْفَةٌ. وَقَالَ الْإِمَامُ الْمُنَاوِيُّ فِي فَيْضِ الْقَدِيْرِ قَالَ ابْنُ حِبَّانَ: بَاطِلٌ لَا أَصْلَ لَهُ وَالْحَسَنُ ضَعِيْفٌ وَأَبُو عَاتِكَةَ مُنْكَرُ الْحَدِيْثِ وَفِي الْمِيْزَانِ أَبُو عَاتِكَةَ عَنْ أَنَسٍ مُخْتَلَفٌ فِي اسْمِهِ مُجْمَعٌ عَلَى ضَعْفِهِ: وَحَكَمَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ بِوَضْعِهِ، وَنُوْزِعَ بِقَوْلِ الْمِزِّيِّ لَهُ طُرُقٌ رُبَّمَا يَصِلُ بِمَجْمُوْعِهَا الْحَسَن

Artinya: ”Imam Al-‘Iraqi dalam Takhrij Ahadits Al-Ihya menjelaskan bahwa hadits "Carilah ilmu walau ke Negeri Cina" diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dan Al-Baihaqi dari Anas. Al-Baihaqi berkata: Hadits ini populer isi (matannya), tetapi sanad-sanadnya lemah. Imam Al-Munawi dalam Faidl Al-Qadir mengutip Ibnu Hibban yang menilai hadits ini batil (palsu) dan tidak memiliki asal yang sahih. Perawi-perawinya seperti Al-Hasan dan Abu ‘Atikah dinilai lemah bahkan munkar. Ibnu Al-Jauzi menyebut hadits ini buatan, namun ada ulama lain seperti Al-Mizzi yang menyebut hadits ini punya beberapa jalur yang jika dikumpulkan bisa jadi menjadi hadits hasan (baik).”

Makna Hadits Mencari Ilmu Sampai ke Negeri Cina menurut Ulama 

Terlepas dari kualitas hadits tersebut, maknanya tetap mengandung pesan yang baik dan dapat dijadikan motivasi untuk meningkatkan semangat dalam menuntut ilmu.

Imam Abdullah al-Haddad menjelaskan bahwa maksud dari hadits “Carilah ilmu sampai ke Negeri Cina” adalah anjuran untuk totalitas dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Menurut beliau, Cina digambarkan sebagai wilayah yang sangat jauh dan sulit dijangkau, hanya sedikit orang yang mampu sampai ke sana karena beratnya medan dan jarak tempuhnya.

Oleh karena itu, pesan utama hadits ini adalah agar kita memiliki kesungguhan dan kesiapan untuk menempuh jalan yang panjang, bahkan jika harus bersusah payah dan menempuh jarak sejauh ke Negeri Cina, demi mendapatkan ilmu yang bermanfaat

وَٱلصِّينُ: إِقْلِيمٌ بَعِيدٌ مِنْ أَبْعَدِ ٱلْمَوَاضِعِ، وَقَلِيلٌ مِنَ ٱلنَّاسِ ٱلَّذِي يَصِلُ إِلَيْهِ لِبُعْدِهِ. فَإِذَا وَجَبَ عَلَى ٱلْمُسْلِمِ أَنْ يَطْلُبَ ٱلْعِلْمَ وَإِنْ كَانَ فِي هَذَا ٱلْمَحَلِّ ٱلْبَعِيدِ، فَكَيْفَ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ إِذَا كَانَ بَيْنَ ٱلْعُلَمَاءِ وَلَا يُلْحِقُهُ فِي طَلَبِهِ كَثِيرُ مُؤْنَةٍ، وَلَا كَبِيرُ مَشَقَّةٍ؟

Artinya: ”Cina adalah negeri yang sangat jauh, termasuk tempat yang paling sulit dijangkau, dan hanya sedikit orang yang bisa sampai ke sana karena jauhnya. Jika seorang Muslim tetap diwajibkan mencari ilmu meskipun letaknya sejauh itu, maka bagaimana mungkin ia tidak diwajibkan menuntut ilmu saat berada di tengah-tengah para ulama, tanpa banyak biaya dan tanpa kesulitan?” (An Nasaih ad-Diniyyah wa al-Wasaya al-Imaniyyah, [Dar al-Hawi, 1999] hal. 91)

Di era yang serba canggih dan serba mudah seperti sekarang ini, rasanya sudah tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak menuntut ilmu. Beragam kemudahan telah tersedia, mulai dari beasiswa pendidikan yang gratis, akses materi pembelajaran yang cukup dengan satu klik, hingga banyaknya platform daring yang bisa dimanfaatkan kapan saja dan di mana saja. Maka, menunda atau bahkan enggan belajar bukan lagi soal keterbatasan, tetapi kemauan. Wallahu a‘lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
logo