Siksa Neraka Dibuat Konten Candaan? Ini Hukumnya

Siksa Neraka Dibuat Konten Candaan? Ini Hukumnya

Arina.id - Melesatnya teknologi Artificial Intelligence (AI) menjadi tantangan tersendiri bagi umat manusia. Kehadirannya ibarat ujung pisau bermata dua: bisa berdampak positif, juga bisa negatif. AI bisa digunakan untuk melayani segala kebutuhan manusia ataupun untuk hiburan semata.

Saat ini muncul fenomena AI dijadikan alat untuk menggambarkan suasana di neraka sembari menertawakan dan meremehkannya. Bahkan secara jelas ada narasi berbunyi: "Hari pertama di neraka suasananya ramai gaes, ayo berbuat dosa sebanyaknya agar bisa berkumpul di neraka." Kemudian mereka tertawa.

Dari kacamata agama, hal ini menjadi perkara yang serius. Sebab menertawakan siksa neraka termasuk kategori mencemooh, dan meremehkan (istihza') ajaran agama. Ini termasuk dosa besar dan merupakan perbuatan kufur.

Berkenaan dengan hal ini, Al-Quran menegaskan:

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

Artinya: "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" (QS. At-Taubah: 65)

لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

Artinya: "Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. "(QS. At-Taubah: 66)

Asbab Nuzul ayat ini dijelaskan oleh Imam Thabari dan ulama lain yang meriwayatkan dari Qatadah: "Ketika Nabi Muhammad sedang berbaris di medan perang Tabuk, ada segerombolan orang munafik yang berbaris di depannya. Gerombolan munafik itu berkata, “Lihat, orang ini (Muhammad) akan menaklukkan istana-istana Syam dan merebut benteng-benteng kaum kuning.” 

Allah menyingkapkan kepada Nabi Muhammad apa yang ada dalam hati gerombolan munafik dan apa yang mereka katakan. Maka Nabi Muhammad berkata, “Tahanlah gerombolan itu untukku.” Kemudian Nabi Muhammad mendatangi mereka dan berkata, “Kalian mengatakan begini dan begitu.” Gerombolan itu bersumpah, “Kami hanya bermain-main,” maksudnya, “Kami tidak serius.”

Al-Qadhi Abu Bakar bin Arabi menafsirkan demikian:

وقال القاضي أبو بكر بن العربي: لا يخلو أن يكون ما قالوه من ذلك جِدًّا أو هزلًا، وهو كيفما كان كفر، فإن الهزل بالكفر كفر لا خلاف فيه بين الأمة

Artinya: "Bisa jadi apa yang mereka sampaikan itu serius atau bercanda, dan yang pasti itu adalah perbuatan kufur (menista agama), karena bercanda tentang kekufuran adalah kufur, dan tidak ada perselisihan tentang hal itu di kalangan umat."

Dalam Tafsir Al-Misbah dijelaskan bahwa ketika Rasulullah bertanya kepada orang-orang munafik itu, (setelah rahasia mereka terbongkar) tentang alasan hujatan mereka terhadap agama dan ejekan mereka kepada Allah dan ayat- ayat-Nya, mereka akan beralasan meminta maaf dengan berkata, "Kami hanya bercanda dan bersenda gurau." Katakan kepada mereka, "Apakah kalian bercanda dan bersenda gurau dengan mengolok-olok Allah, ayat-Nya dan Rasul-Nya?"

Asbab Nuzul ayat ini adalah ketika Rasulullah sedang bersiap menghadapi Perang Tabuk. Kemudian sekelompok orang munafik memperolok ajaran Islam dan Rasulullah sambil menertawakannya. Ketika Rasulullah mendengarnya, mereka meminta maaf dan beralasan bahwa ujaran tersebut sekadar senda gurau. Kemudian turunlah ayat 65 sebagai larangan memperolok-olok Allah, Rasul, dan ajaran-Nya.

Selanjutnya, pada ayat 66 diterangkan bahwa akibat atau konsekuensi yang diterima oleh orang munafik yang memperolok adalah termasuk perbuatan kufur. Sebab hal demikian termasuk perbuatan yang melampaui batas dan tidak ada yang melakukannya kecuali orang-orang yang ingkar kepada Allah.

Masih dalam tafsir Al-Misbah terkait ayat 66, bahwa meminta maaf dengan mengemukakan alasan-alasan palsu itu tidak ada gunanya, sebab kekufuran mereka yang mencemooh tampak jelas, setelah sebelumnya mengaku beriman. 

Memang, kedua ayat ini menyoroti kaum munafik yang mencemooh, mengejek Allah, Nabi Muhammad dan ajaran agama-Nya. Padahal harusnya meyakini, menghormati, mentaati dan mengagungkan. Dikarenakan mereka mengejek Allah, Rasul-Nya dan ajaran agama-Nya, maka mereka menjadi orang kafir setelah sebelumnya mengaku beriman. Kekufuran mereka telah nyata setelah menunjukkannya dengan cara yang menipu (munafik).

Bahkan Imam Al-Razi menggolongkan mereka sebagai berikut:

لأن الاستهزاء بالدين، كما يقول الإمام الرازي، يعد من باب الكفر، إذ إنه يدل على الاستخفاف، والأساس الأول في الإيمان تعظيم الله تعالى بأقصى الإمكان، والجمع بينهما محال.

Artinya: "Karena mengejek agama, sebagaimana dikatakan Imam al-Razi, termasuk bentuk kekufuran, karena hal itu menunjukkan penghinaan. Padahal landasan iman yang pertama adalah mengagungkan Allah SWT semaksimal mungkin, sedangkan menggabungkan keduanya (iman dan kufur) adalah mustahil."

Dengan demikian, ketika seseorang mencemooh menertawakan siksa neraka dengan menjadikannya sebagai bahan candaan, itu sama dengan menistakan agama (istihza' biddin). Dan siapa saja yang menista agama maka berdosa besar, bahkan dapat menyeret ke dalam kekufuran. Wallahu a'lam.


Editor: Muhammad Faizin
logo