Larangan Saling Menyindir dalam Islam

Larangan Saling Menyindir dalam Islam

Menjaga hubungan baik antara sesama manusia merupakan hal yang sangat penting dalam Islam. Salah satu perilaku yang harus dihindari adalah saling menyindir, baik secara langsung maupun tidak langsung. Menyindir adalah bentuk komunikasi yang dapat menyakiti perasaan orang lain dan merusak hubungan sosial. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lidah dari ucapan yang dapat melukai orang lain, termasuk sindiran.

Sindiran adalah bentuk ucapan yang bertujuan untuk menyampaikan maksud tertentu dengan cara yang tidak langsung dan sering kali disertai dengan nada mengejek. Meskipun tampak sepele, sindiran bisa sangat menyakitkan dan menimbulkan rasa sakit hati, dendam, serta permusuhan di antara individu. Ini adalah perilaku yang bertentangan dengan prinsip-prinsip akhlak yang diajarkan dalam Islam.

Di era media sosial seperti sekarang ini, kerap kali kita saksikan antar sesama saudara Islam saling melemparkan sindiran satu sama lain melalui akun media sosial yang mereka miliki. Bagaimanakah sesungguhnya syariat Islam menyikapi hal semacam itu?

Dalam bahasa Arab, sindir-menyindir bisa dibahasakan sebagai “sakhran” yaitu ucapan yang merendahkan orang lain. Dalam Al-Qur'an, kata tersebut tertera dalam surat Al-Hujurat: 11 yang berisi larangan untuk melakukannya. Allah Swt. Berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

Pada ayat ini ditegaskan tentang larangan untuk saling merendahkan atau menyindir satu kelompok dengan kelompok lainnya karena bisa jadi yang direndahkan justru lebih tinggi derajatnya di hadapan Allah swt. Juga tidak diperkenankan memanggil suatu kelompok dengan panggilan yang menghinakan.

Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaily dalam kitab Tafsir al-Wasith memberikan penjelasan mengenai ayat ini sebagai berikut:

نهى الله تعالى عن السخرية واحتقار الناس، والنهي يفيد التحريم، فيا أيها المصدقون بالله ورسوله، لا يهزأ رجال من آخرين، فربما كان المهزوء به عند الله خيرا من المستهزئ أو الساخر، ولا تهزأ نساء من نساء أخريات، فلربما كانت المهزوء بها أفضل وأكرم عند الله من المستهزئة، ولا يطعن ولا يعب بعضكم بعضا بقول أو فعل أو إشارة، ولا تتداعوا بالألقاب التي يسوء الشخص سماعها

Artinya: “Allah swt melarang tindakan merendahkan dan menghinakan manusia. Larangan ini menunjukkan keharaman. Maka wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, janganlah sekelompok lelaki menghinakan sekelompok lainnya. Terkadang yang dihina justru lebih baik menurut Allah dibanding yang menghina atau merendahkan. Jangan pula sekelompok perempuan menghinakan sekelompok yang lainnya. Terkadang yang dihina justru lebih utama dan mulia menurut Allah ketimbang yang menghina. Jangan pula saling mencela atau menjelekkan antara sebagian dari kalian dengan lainnya baik dengan ucapan, perbuatan atau isyarat. Jangan pula saling memanggil dengan panggilan yang membuat orang lain emosi ketika mendengarnya”. (Wahbah al-Zuhaily, Tafsir al-Wasith, [Damaskus: Dar al-Fikr, 1422 H], j. III, h. 77)

Penjelasan Prof. Wahbah ini memberikan pencerahan kepada kita bahwa segala bentuk sindiran, baik dengan ucapan, tindakan bahkan isyarat sekalipun yang tujuannya adalah untuk merendahkan atau menghinakan orang lain, hukumnya adalah diharamkan.

Larangan saling menyindir dan menghinakan orang lain tertuang pula di dalam sabda Rasulullah saw dalam sebuah hadits:

لا تَحاسدُوا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

Artinya: “Jangan kalian saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi! dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syekh Nawawi dalam kitab Syarah Muslim menjelaskan hadits ini sebagai berikut:

التَّدَابُرُ الْمُعَادَاةُ وَقِيلَ الْمُقَاطَعَةُ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ يُوَلِّي صَاحِبَهُ دُبُرَهُ وَالْحَسَدُ تَمَنِّي زَوَالِ النِّعْمَةِ وَهُوَ حَرَامٌ وَمَعْنَى كُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا أَيْ تَعَامَلُوا وَتَعَاشَرُوا مُعَامَلَةَ الْإِخْوَةِ وَمُعَاشَرَتِهِمْ فِي الْمَوَدَّةِ وَالرِّفْقِ وَالشَّفَقَةِ وَالْمُلَاطَفَةِ وَالتَّعَاوُنِ فِي الْخَيْرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مَعَ صَفَاءِ الْقُلُوبِ وَالنَّصِيحَةِ بِكُلِّ حَالٍ قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَفِي النَّهْيِ عَنِ التَّبَاغُضِ إِشَارَةٌ إِلَى النَّهْيِ عَنِ الْأَهْوَاءِ الْمُضِلَّةِ الْمُوجِبَةِ لِلتَّبَاغُضِ

Artinya: “Maksud dari ‘saling membelakangi’ ialah saling bermusuhan atau putus hubungan, karena semua orang yang membenci saudaranya akan berusaha untuk membelakanginya. Hasud adalah mengharapkan hilangnya nikmat (dari orang lain). Hal ini diharamkan. Makna ‘jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara’ ialah agar saling bekerja-sama, saling bergaul dengan pergaulan yang penuh kasih, sayang, lembut, serta saling tolong-menolong dalam kebaikan, dan sebagainya, dengan hati yang lembut dan nasihat (mengharapkan kebaikan) pada segala kondisi. Sebagian ulama berpendapat bahwa larangan saling membenci adalah isyarat pada larangan untuk mengumbar hawa kesesatan yang mengundang permusuhan”. Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim [Beirut: Dar al-Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1392 H), j. XVI, h. 115

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw jelas sangat melarang tindakan saling sindir-menyindir antar sesama muslim. Hubungan antar sesama Muslim yang diidealkan oleh Rasulullah saw ialah hubungan saling tolong-menolong dalam persaudaraan yang penuh cinta dan kasih. Wallahu a’lam bi shawab.


Editor: Muhammad Faizin
logo