Sleep Call dan Problem Orang-orang Kesepian

Sleep Call dan Problem Orang-orang Kesepian

Berbeda dari film-film sebelumnya, Fajar Nugros membuat tantangan baru dengan menggarap film bergenre suspense thriller. Ya, film Sleep Call yang baru tayang Kamis, (7/9/2023) kemarin menjadi pembeda dari film-film drama yang sebelumnya ia sutradarai, seperti Cinta Pertama, Kedua, dan Ketiga (2006), Yowes Ben (2018), Dilan 1990 (2018), Srimulat: Hil yang Mustahal (2022), dan masih banyak lagi.

Sesuai namanya, Sleep Call mengangkat fenomena unik yang sering dialami anak muda terkini, atau lebih umumnya sepasang kekasih, yang saling berbincang melalui gawai atau gadget sebelum tidur sampai keduanya tertidur. Akan tetapi, di film ini tersaji sleep call sebagai aktivitas yang nantinya akan membawa petaka! Tak hanya itu, film ini juga mengangkat problem kekinian yang terkait dengan pinjaman cepat ala pinjol yang menjadi biang dari masalah besar yang berderet.

Sinopsis Sleep Call

Film bergenre thriller ini mengisahkan tentang kehidupan kompleks yang dialami Dina (Laura Basuki). Dina adalah mantan pramugari yang terlilit utang pinjaman online (pinjol). Utang tersebut menuntunnya untuk bekerja di perusahaan pinjol illegal. Tidak hanya untuk melunasi utangnya, Dina juga harus bekerja memenuhi kebutuhan harian dan biaya perawatan ibunya yang menderita demensia.

Di usianya yang hampir berkepala tiga, perjalanan cinta Dina begitu rumit. Ia belum menemukan seseorang yang membuat dirinya bahagia sehingga ia merasa terus-terusan kesepian. Untuk menghilangkan rasa sepi serta tekanan dari berbagai masalah yang ada; - Dina merasa orang-orang yang berada di sekitarnya tidak benar-benar tulus berteman atau palsu belaka; ia juga menganggap tidak bisa menjadi diri sendiri di dunia nyatanya sendiri- Dina mencoba menggunakan aplikasi kencan. Dengan harapan, ia dapat menemukan seseorang yang klop dengannya.

Keinginannya pun terwujud, Dina bertemu Rama (Juan Bio One), laki-laki penuh teka-teki yang berhasil memikat hatinya. Keduanya acap kali melakukan aktivitas sleep call di setiap malam sampai keesokan harinya. Komunikasi di antara Dina dan Rama pun semakin intens. Lewat sleep call-nya bersama Rama, Dina menemukan kebahagian.

Seiring berjalannya waktu, tanpa sadar hubungan yang ia jalani menjadi adiktif namun rumit. Perjalanan cintanya dengan Rama menjadi tidak sehat. Aktivitas sleep call yang awalnya ia sukai, ternyata membawa Dina dan orang-orang di sekitarnya kepada masalah yang lebih besar. Sleep call menjadi aktivitas yang menegangkan karena Dina acap kali mendapat teror. Bahkan, ada nyawa yang terenggut secara misterius!

Problem kesehatan mental

Sebagaimana disajikan dalam film Sleep Call, aktivitas sleep call merupakan cara pemeran utama untuk keluar dari masalah yang ia hadapi. Berbincang dengan Rama, membuat Dina lupa akan masalah-masalahnya.

Belakangan ini sleep call menjadi tren di kalangan sepasang kekasih, terutama bagi mereka yang menjalin hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR). Pada dasarnya, hubungan jarak jauh menyita banyak interaksi yang dapat dilakukan oleh sepasang kekasih. Akan tetapi, dengan sleep call, keduanya dapat terhubung dan “berdekatan”, walau sejatinya mereka terpisah secara geografis.

Mengutip The Atlantic, Craig Heller, Guru Besar Biologi di Universitas Stanford yang mempelajari tentang kebiasaan tidur menyampaikan bahwa keberadaan pasangan di telepon akan membuat seseorang merasa nyaman sehingga membantunya tertidur.

Tidak hanya itu, Jeff Hancock, profesor komunikasi di univeristas yang sama juga mengungkapkan, aktivitas slepp call merupakan cara untuk menunjukkan komitmen seseorang. Artinya, orang tersebut akan menghabiskan waktu, energi, dan menggunakan teknologi bersama pasangannya.

Walaupun layar gawai tidak dapat memberikan kehangatan sebagaimana yang diberikan pasangan ketika bertemu langsung, kekuatan dalam menjaga komitmen yang dibangun oleh sepasang kekasih dapat membuat suatu hubungan menjadi lebih awet. Hanya saja, saat melakukan sleep call, tidak sedikit orang yang membiarkan gawainya terus menyala hingga pagi hari. Hal inilah yang seharusnya diwaspadai oleh orang-orang yang melakukan sleep call.

Profesor Craig Heller memberikan catatan penting atas kebiasaan sleep call. Meski dinilai mampu membuat seseorang tertidur, tapi pada faktanya aktivitas tersebut justru membawa dampak yang mengerikan yaitu menjadikan kualitas tidur seseorang menurun akibat paparan cahaya biru atau blue light dari layar gawai. Ketika gawai menyala, layarnya memancarkan cahaya biru yang memiliki panjang gelombang seperti cahaya di siang hari. Pancaran tersebut dapat menghambat produksi melatonin atau hormon tidur. Tubuh akan mengira bahwa keadaan di sekitar masih siang hari. Kadar melatonin yang menurun akan membuat kualitas tidur seseorang sangat rendah dan menjadi tidak ideal.

Tidak jarang orang-orang yang melakukan sleep call dan membiarkan gawainya menyala. Bahkan ada yang meletakkan gawai di dekatnya dalam keadaan sedang mengisi daya (charge). Saat gawai digunakan dalam keadaan sedang diisi dayanya, suhu gawai tersebut akan lebih cepat panas. Tidak hanya itu meletakkan gawai di kasur, bantal, atau selimut juga membuat suhunya semakin tinggi. Hal ini dikarenakan benda tersebut tidak dapat menghantarkan panas (isolator). Dalam keadaan seperti ini, gawai sangat mungkin meledak yang nantinya akan memicu kebakaran. Terlebih, barang-barang di tempat tidur terbuat dari bahan yang mudah terbakar.

Selain itu, mengutip International Agency for Research on Cancer (IARC), medan elektromagnetik yang dihasilkan gawai berpotensi menjadi karsinogen (zat pemicu kanker) bagi tubuh manusia. Menurut para ahli, sifat karsinogenik dapat meningkatkan risiko tumor dan kanker pada kepala, tempat yang biasanya sangat dekat dengan gawai. Meskipun belum ada studi yang benar-benar meneliti dampaknya, menghindari tidur berdekatan dengan gawai tentu dapat meminimalisir risiko tumor dan kanker di kepala.

Pinjaman online bukan solusi!

Dalam film Sleep Call, pinjol juga menjadi salah satu cara yang dipilih Dina untuk menyelesaikan masalahnya, yaitu untuk melunasi utang. Tetapi, Dina justru terlibat dengan perusahaan pinjol illegal. Lantas, apakah pinjol sebuah solusi?

Mengutip artikel ilmiah berjudul Pinjaman Online Ilegal Menjadi Bencana Sosial Bagi Generasi Milenial, teknologi di sektor keuangan umumnya dikenal dengan financial technology (fintech) dan saat ini, yang paling diminati masyarakat Indonesia adalah fintech berupa pinjaman online (pinjol).

Disebutkan dalam Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa generasi Z dan generasi Milenial memiliki utang yang lebih banyak daripada generasi lainnya. Berdasarkan data OJK, pada bulan Desember 2021 silam, muda-mudi berusia usia 19-34 tahun mendominasi menggunakan pinjaman online sebesar 63% dengan jumlah pinjaman keseluruhan mencapai lebih dari 14 triliun. Adapun sebanyak 77% transaksi terjadi di pulau Jawa dan paling banyak di DKI Jakarta.

Ada dua alasan yang menyebabkan generasi Z dan milenial cenderung memilih mengutang. Yang pertama adalah dorongan dari kemajuan teknologi. Zaman sekarang ada begitu banyak aplikasi digital yang menyuguhkan kemudahan dalam mengajukan pinjaman. Jika di sebelumnya mengajukan pinjaman perlu berinteraksi secara tatap muka, kini pinjaman bisa diajukan melalui gawai, persyaratannya pun lebih mudah dan praktis.

Tidak hanya itu, aplikasi berbelanja online juga menawarkan fitur paylater. Sederhananya, fitur paylater adalah fitur “beli sekarang, bayarnya nanti”. Fitur ini dapat digunakan dalam banyak transaksi, mulai dari membeli barang-barang, membeli makanan, hingga memesanan tiket. Hal inilah yang kemudian meningkatkan sikap konsumtif para muda-mudi.

Alasan kedua, generasi Z dan milenial sedang dalam usia produktif, di mana umumnya mereka telah memiliki pekerjaan sehingga memiliki penghasilan. Artinya, mereka memiliki uang untuk dibelanjakan, baik untuk memenuhi kebutuhan hidup atau untuk menyenangkan diri sendiri. Namun, minimnya kemampuan dalam mengatur keuangan akan meningkatkan sikap konsumtif. Terlebih, jika pendapatan yang diperoleh tidak sebanding dengan pengeluaran utang. Maka mereka akan kembali berutang sebagai solusi sementara. Dalam hal ini, sejatinya, utang adalah sumber permasalahan.

Ketika seseorang sudah terjebak dalam utang yang semakin bertambah akibat suku bunga yang tinggi, dan biaya layanan yang tidak terduga, tekanan finansial berat dapat terbentuk. Tekanan ini kemudian bisa berdampak pada kesehatan jiwa orang tersebut.

Pemicu awal gangguan kesehatan jiwa, seperti depresi, kecemasan, dan stres kronis adalah perasaan stres akibat masalah keuangan. Peningkatan tingkat stres yang berkelanjutan dapat merusak keseimbangan emosional seseorang, mengganggu pola tidur, dan memengaruhi kemampuan fungsional seseorang secara optimal dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, tekanan finansial yang berkepanjangan juga dapat memicu perasaan putus asa dan kurangnya rasa pengendalian diri, yang pada akhirnya dapat memperburuk kondisi mental seseorang. Perasaan impulsif meminjam uang tanpa pikir panjang, juga akan memengaruhi perilaku berutang ini yang tentu akan memberi dampak pada kesehatan jiwa.

Berangkat fakta itulah, CEO IDN Media Winston Utomo mengungkapkan, kesehatan mental menjadi salah satu isu yang saat ini menjadi perhatian anak muda. Sebagai perusahaan media untuk millenial dan Gen Z di Indonesia, IDN Media bersama IDN Pictures berkomitmen untuk memproduksi karya-karya yang menyuarakan isu-isu relevan bagi generasi muda, salah satunya isu kesehatan mental. 

"Karenanya, tahun ini kami merilis film Sleep Call yang mengangkat pentingnya kesehatan mental dan bagaimana rasa kesepian adalah hal yang patut kita perhatikan di lingkungan terdekat kita," ungkap Winston melalui layanan pers.

Film Sleep Call diklaim merupakan bentuk kesadaran dan kepedulian akan kesehatan mental para generasi muda.

"Kami harap, pesan yang ingin kami bawa dalam film ini dapat tersampaikan kepada para penonton nantinya, dan berkontribusi secara positif bagi masyarakat Indonesia," ujar dia.

Head of IDN Pictures sekaligus Sutradara Sleep Call Fajar Nugros mengatakan, film ini terinspirasi dari fenomena orang-orang yang sibuk berkomunikasi lewat gawai mereka di tempat umum. Dia pun membaca mengenai fenomena sleep call yang marak terjadi di kalangan anak muda Indonesia. 

"Bergenre suspense thriller, film Sleep Call diharapkan dapat menangkap fenomena terkini ini secara akurat melalui media audio visual serta menambah ragam film bertemakan kesehatan mental di industri film Indonesia tahun ini," ungkap dia.

Sleep Call merupakan film yang meleburkan batasan interaksi sosial antara dua orang asing melalui komunikasi di dunia maya, dan bagaimana kemudahan teknologi informasi juga dapat membawa bahaya bagi penggunanya.

Naskah film Sleep Call ditulis oleh Husein M. Atmodjo. Film Sleep Call dibintangi oleh sejumlah aktor Tanah Air. Selain Laura Basuki, dan Juan Bio One, beberapa nama yang berperan adalah Kristo Immanuel, Bront Palarae, Della Dartyan, Dimas Danang, Benedictus Siregar, Rukman Rosadi, dan juga Rachel Vennya yang menjadi debut pertama di dunia akting sehingga cukup menarik perhatian publik.


Editor: Muhammad Zunus
logo