Arina.id — Screens are the devil! Begitulah kata seorang guru di Australia. Pernyataan itu muncul lantaran ia menghubungkan meningkatnya masalah perilaku anak didiknya di kelas dengan peningkatan waktu yang dihabiskan anak-anak di depan layar di rumah.
Menurut hipotesisnya, masalahnya adalah mereka diasuh—sejak bayi—oleh layar. Ini berarti mereka tidak pernah belajar mengatur emosi mereka sendiri karena setiap kali mereka bosan, frustrasi, atau tertekan, orang tua mengalihkan perhatian mereka dengan perangkat elektronik.
Pada saat mereka masuk taman kanak-kanak, mereka tidak memiliki keterampilan pengaturan diri untuk menghadapi kehidupan nyata.
Tentu saja, menyebut layar sebagai "setan" mungkin terdengar berlebihan. Telepon seluler, tablet, dan televisi tidak selalu membawa dampak buruk. Perangkat digital dapat menjadi sarana belajar, hiburan, dan komunikasi. Masalahnya muncul ketika layar menjadi jawaban untuk hampir setiap kebutuhan anak: ketika menangis, diberi video; ketika bosan, disodori gim; ketika orang tua sibuk, diserahkan kepada tontonan.
Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat membuat anak semakin bergantung pada rangsangan dari luar untuk mengatasi perasaan tidak nyaman.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Pediatrics pada 2023 menyebutkan, hubungan antara penggunaan perangkat digital untuk menenangkan anak dan kemampuan regulasi emosi pada anak usia 3–5 tahun. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan yang perlu diperhatikan: penggunaan perangkat untuk meredakan emosi dapat menjadi bagian dari pola yang berkaitan dengan kesulitan pengaturan diri dari waktu ke waktu. Peneliti juga menekankan perlunya penelitian lanjutan untuk memastikan hubungan tersebut.
Studi lain yang terbit pada 2024 dengan judul Early-Childhood Tablet Use and Outbursts of Anger, menemukan bahwa penggunaan tablet pada anak usia dini berkaitan dengan peningkatan ledakan kemarahan dan frustrasi dari waktu ke waktu. Temuan ini tidak berarti setiap anak yang menggunakan tablet akan mengalami masalah perilaku. Namun, hasil penelitian tersebut menjadi pengingat bahwa cara orang tua memperkenalkan dan menggunakan perangkat digital sama pentingnya dengan durasi pemakaiannya.
Di sinilah persoalan penggunaan HP oleh anak perlu dilihat secara lebih utuh. Anak memang perlu belajar mengendalikan dirinya, tetapi kemampuan itu tidak muncul secara otomatis. Anak membutuhkan kesempatan berlatih, pendampingan orang dewasa, dan lingkungan yang mendukung.
Jika setiap kali anak merasa tidak nyaman orang tua langsung memberikan HP, kesempatan untuk belajar menghadapi kebosanan, kekecewaan, dan kemarahan bisa berkurang.
Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua ketika anak mulai sulit melepaskan diri dari layar?
1. Berhenti menyebut anak malas atau nakal
Ketika HP diambil lalu anak menangis, berteriak, atau mengamuk, respons yang paling mudah adalah memarahinya. Anak dianggap tidak tahu diri, tidak disiplin, atau sengaja melawan orang tua. Padahal, perilaku tersebut perlu dipahami terlebih dahulu sebelum dihakimi.
Bagi sebagian anak, permainan atau video memberikan rangsangan yang menyenangkan dan terus-menerus. Ketika aktivitas itu dihentikan, anak harus beralih dari sesuatu yang menarik menuju kegiatan yang mungkin dianggap kurang menyenangkan. Anak yang belum terampil mengatur emosi dapat mengalami kesulitan menghadapi peralihan tersebut.
Psikolog perkembangan menyebut kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi sebagai emotion regulation atau regulasi emosi. Keterampilan ini berkembang secara bertahap melalui pengalaman dan bantuan orang dewasa.
Karena itu, ledakan emosi ketika HP dihentikan tidak otomatis berarti anak mengalami kecanduan. Namun, jika perilaku tersebut terjadi berulang kali, berlangsung intens, dan mulai mengganggu tidur, sekolah, hubungan sosial, atau kehidupan keluarga, orang tua perlu mengevaluasi kebiasaan penggunaan perangkat digitalnya.
Lantas apa yang bisa dilakukan?
Alih-alih langsung berkata, "Kamu memang tidak bisa lepas dari HP!", cobalah mengatakan, "Kamu masih ingin bermain, ya. Ayah tahu kamu kesal karena waktunya sudah habis. Sekarang kita berhenti, lalu pilih kegiatan lain."
Kalimat semacam ini bukan berarti orang tua harus menuruti keinginan anak. Orang tua tetap menetapkan batas, tetapi membantu anak mengenali emosinya tanpa mempermalukannya.
Anak perlu belajar bahwa marah dan kecewa adalah perasaan yang wajar, tetapi tidak semua keinginan harus dipenuhi.
2. Periksa kebiasaan orang tua sebelum mengatur anak
Orang tua sering meminta anak berhenti bermain HP. Namun di waktu yang hampir bersamaan, mereka sendiri terus memeriksa pesan, menonton video, atau menggulir media sosial. Ketidaksesuaian antara ucapan dan perilaku dapat membuat aturan terasa tidak adil bagi anak.
Anak belajar bukan hanya dari instruksi, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika HP selalu hadir saat makan, bercengkerama, dan menjelang tidur, anak dapat menganggap perangkat tersebut sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari setiap aktivitas.
Karena itu, evaluasi pertama justru perlu dimulai dari orang dewasa.
Perhatikan berapa sering orang tua memegang HP ketika anak mengajak berbicara. Apakah Anda menggunakan layar untuk mengisi setiap jeda? Apakah anak selalu diberi tontonan ketika Anda membutuhkan waktu tenang?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuat orang tua merasa bersalah. Pengasuhan berlangsung di tengah tuntutan pekerjaan, pekerjaan rumah, dan kelelahan. Gawai terkadang menjadi solusi praktis agar semuanya tetap berjalan.
Namun, solusi yang membantu sesaat bisa berubah menjadi kebiasaan yang sulit diubah apabila terus digunakan sebagai satu-satunya cara menenangkan anak.
Apa yang bisa dilakukan? Tentukan waktu bebas HP untuk seluruh keluarga, misalnya ketika makan bersama, saat bercakap-cakap, dan 30–60 menit sebelum tidur. Simpan perangkat di tempat yang tidak mudah dijangkau selama waktu tersebut.
Orang tua juga perlu memberi contoh ketika menerima pesan atau panggilan. Jelaskan bahwa ada kalanya HP memang harus digunakan, tetapi setelah urusan selesai, perangkat akan disimpan kembali.
Aturan akan lebih mudah diterima ketika anak melihat bahwa orang dewasa juga bersedia mematuhinya.
3. Jangan menjadikan HP sebagai obat untuk setiap tangisan
Anak menangis di restoran, lalu orang tua memberinya video agar tenang. Anak rewel di kendaraan, lalu disodori gim. Anak marah karena mainannya direbut, kemudian dialihkan ke layar.
Dalam keadaan tertentu, mengalihkan perhatian memang bisa membantu. Masalahnya adalah ketika strategi tersebut menjadi respons otomatis setiap kali anak menunjukkan emosi yang tidak menyenangkan.
Penelitian Jenny S. Radesky dan koleganya yang diterbitkan dalam JAMA Pediatrics pada 2023 mengingatkan bahwa penggunaan perangkat untuk menenangkan anak dapat berkaitan dengan pola regulasi emosi yang kurang menguntungkan. Perangkat mungkin meredakan tangisan saat itu juga, tetapi tidak selalu membantu anak mempelajari cara menghadapi perasaan yang mendasarinya.
Anak membutuhkan pengalaman bahwa rasa kesal dapat mereda tanpa harus selalu menonton video atau bermain gim.
Apa yang bisa dilakukan? Ketika anak mulai frustrasi, cobalah beberapa langkah berikut.
- Namai perasaannya. Katakan, "Kamu kecewa karena belum boleh bermain lagi."
- Temani tanpa langsung mengalihkan ke layar. Duduklah di dekat anak dan beri waktu agar emosinya mereda.
- Tawarkan cara lain untuk menenangkan diri. Ajak menarik napas perlahan, minum air, memeluk bantal, menggambar, atau berjalan sebentar.
- Bicarakan masalah setelah anak tenang. Bantu anak memahami apa yang membuatnya marah dan apa yang bisa dilakukan jika kejadian serupa terulang.
Pada anak yang masih kecil, orang tua mungkin perlu mengulang langkah ini berkali-kali. Itu wajar. Kemampuan mengatur emosi dibangun melalui latihan yang konsisten, bukan melalui satu nasihat panjang.
4.Buat aturan penggunaan HP yang jelas dan realistis
Larangan mendadak sering berujung pada pertengkaran, terutama jika anak sudah terbiasa menggunakan HP selama berjam-jam. Sebaliknya, membiarkan anak menentukan sendiri seluruh batas pemakaiannya juga bukan solusi yang tepat.
Anak membutuhkan struktur. Aturan yang baik harus jelas, konsisten, sesuai usia, dan mempertimbangkan kegiatan lain yang dibutuhkan anak.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar anak berusia satu tahun tidak menjalani waktu layar sedentari, sedangkan untuk anak usia dua tahun durasinya tidak lebih dari satu jam sehari. Anak usia 3–4 tahun juga disarankan tidak lebih dari satu jam sehari, dengan prinsip semakin sedikit semakin baik. Rekomendasi ini merupakan bagian dari pedoman aktivitas fisik, perilaku sedentari, dan tidur anak di bawah lima tahun.
Pedoman tersebut secara khusus membahas anak di bawah lima tahun. Untuk anak yang lebih besar, orang tua perlu mempertimbangkan usia, kebutuhan sekolah, jenis konten, aktivitas fisik, tidur, dan dampak penggunaan layar terhadap keseharian.
Bagaimana seharusnya orang tua memperlakukan?
Buat kesepakatan keluarga yang sederhana. Misalnya, HP digunakan setelah pekerjaan sekolah selesai, tidak dibawa ke meja makan, dan tidak digunakan menjelang tidur. Tentukan pula kapan waktu bermain berakhir.
Beri peringatan sebelum waktu habis, misalnya sepuluh menit dan lima menit sebelumnya. Untuk anak yang lebih kecil, gunakan pengatur waktu visual atau rutinitas yang mudah dipahami.
Jika durasi penggunaan selama ini terlalu panjang, kurangi secara bertahap sambil memperbanyak kegiatan pengganti. Yang terpenting bukan sekadar membuat anak kehilangan akses terhadap HP, melainkan membantunya membangun rutinitas baru.
5. Ganti waktu layar dengan kegiatan yang benar-benar menarik
Mengambil HP dari tangan anak tanpa menyiapkan alternatif sering kali hanya memindahkan masalah. Anak kehilangan aktivitas yang disukainya, lalu merasa bosan. Jika tidak ada pilihan lain, ia akan kembali meminta HP.
Karena itu, pengurangan waktu layar perlu disertai pengayaan pengalaman di luar layar.
Anak membutuhkan kesempatan bergerak, berbicara, bermain imajinatif, membaca, dan berinteraksi dengan orang lain. Kegiatan semacam ini memberi ruang untuk melatih perhatian, toleransi terhadap frustrasi, kemampuan berkomunikasi, dan pemecahan masalah.
Penelitian sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam JAMA Pediatrics pada 2024 juga menekankan pentingnya konteks penggunaan layar pada anak usia dini. Dampak penggunaan media tidak hanya berkaitan dengan durasi, tetapi juga dengan bagaimana perangkat digunakan dan apa yang mungkin tergantikan oleh aktivitas tersebut.
Sesuaikan kegiatan dengan usia dan minat anak. Ajak anak bermain bola, menggambar, merakit balok, membantu menyiapkan makanan, membaca buku bersama, atau berjalan sore.
Tidak semua kegiatan harus mahal atau membutuhkan peralatan khusus. Bermain petak umpet, menyiram tanaman, atau membuat cerita dari benda-benda di rumah pun bisa menjadi pilihan.
Orang tua tidak harus menjadi penghibur anak sepanjang hari. Berikan kesempatan kepada anak untuk berinisiatif dan menemukan kegiatan sendiri, sambil tetap tersedia ketika ia membutuhkan bantuan.
Belajar menghadapi kebosanan juga bagian dari perkembangan. Anak tidak harus selalu mendapat rangsangan baru setiap kali tidak ada kegiatan.
6. Jangan hanya membatasi durasi, periksa juga kontennya
Dua anak mungkin sama-sama menggunakan HP selama satu jam, tetapi pengalaman mereka bisa sangat berbeda. Seorang anak menonton video pembelajaran bersama orang tuanya, sementara anak lain berpindah dari satu video pendek ke video berikutnya tanpa jeda.
Karena itu, durasi bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Jenis konten, pola interaksi, dan apakah orang tua mendampingi anak juga penting.
Konten yang sesuai usia dan ditonton bersama orang tua dapat menjadi sarana percakapan. Sebaliknya, konten yang sangat merangsang, tidak sesuai usia, atau terus berlanjut secara otomatis dapat membuat anak sulit berhenti.
Apa yang bisa dilakukan?
Pilih konten sesuai usia dan kebutuhan anak. Matikan putar otomatis jika tersedia, hindari penggunaan layar sebagai latar belakang sepanjang hari, serta dampingi anak untuk memahami apa yang ditontonnya.
Sesekali tanyakan apa yang menarik dari video tersebut, apa yang ia pelajari, atau bagaimana perasaannya setelah menonton. Dengan begitu, penggunaan media menjadi pengalaman yang lebih aktif, bukan sekadar konsumsi tanpa batas.
Orang tua juga perlu memperhatikan tanda bahwa layar mulai menggantikan kebutuhan penting lainnya, seperti tidur yang cukup, aktivitas fisik, belajar, dan interaksi sosial.
7. Jangan berharap perubahan terjadi dalam semalam
Ketika anak sudah terbiasa menggunakan HP dalam waktu lama, perubahan aturan mungkin memicu protes. Anak bisa menangis, marah, atau berulang kali meminta tambahan waktu.
Respons tersebut tidak selalu berarti pendekatan orang tua gagal. Anak sedang beradaptasi dengan perubahan rutinitas dan batas yang baru.
Namun, konsistensi menjadi kunci. Jika orang tua melarang penggunaan HP, tetapi kemudian menyerah setiap kali anak mengamuk, anak dapat belajar bahwa protes yang lebih keras akan membuat aturan berubah.
Apa yang bisa dilakukan?
Tetapkan batas yang dapat dijalankan dan sepakati bersama pengasuh lain di rumah. Jika waktu bermain sudah habis, tetaplah tenang dan jalankan aturan. Hindari ancaman berlebihan, penghinaan, atau hukuman yang tidak berkaitan dengan perilaku.
Apabila orang tua sesekali tidak konsisten, tidak perlu menganggap seluruh proses gagal. Kembali ke kesepakatan dan lanjutkan rutinitas.
Amati perubahan selama beberapa minggu. Perhatikan apakah anak mulai lebih mudah berhenti, tidur lebih teratur, memiliki kegiatan lain, dan mampu menghadapi rasa kecewa dengan bantuan yang semakin sedikit.
Jika anak menunjukkan kesulitan yang berat dan menetap, penggunaan layar mengganggu fungsi sehari-hari, atau konflik keluarga semakin intens, konsultasikan masalah tersebut kepada dokter anak atau psikolog. Penilaian profesional diperlukan untuk memahami apakah ada faktor lain yang turut memengaruhi perilaku anak.
8.Orang tua tidak perlu merasa bersalah, tetapi perlu mengambil peran
Menyalahkan anak karena terus meminta HP tidak akan menyelesaikan persoalan. Begitu pula menyalahkan orang tua seolah-olah semua masalah penggunaan gawai berasal dari pengasuhan yang buruk.
Kenyataannya lebih kompleks. Perilaku anak dipengaruhi oleh usia, temperamen, lingkungan keluarga, teman sebaya, desain aplikasi, dan kebiasaan digital di sekitarnya.
Namun, keluarga tetap memiliki ruang untuk membuat perubahan. Orang tua dapat mengatur lingkungan, memberikan contoh, menetapkan batas, dan mendampingi anak saat belajar mengelola emosi.
Tujuannya bukan menjadikan anak takut terhadap teknologi atau menghilangkan seluruh waktu layar. Tujuannya adalah memastikan HP tetap menjadi alat, bukan satu-satunya sumber hiburan, ketenangan, dan pelarian dari perasaan yang tidak menyenangkan.
Anak yang mampu meletakkan HP, menerima kekecewaan, bermain bersama teman, dan menemukan kegiatan tanpa layar tidak terbentuk hanya karena perangkatnya disita. Kemampuan itu tumbuh ketika ia memperoleh kesempatan untuk berlatih, dengan orang dewasa yang hadir dan aturan yang konsisten.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan sekadar berapa jam anak memegang HP. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apa yang selama ini dipelajari anak ketika ia bosan, marah, sedih, atau membutuhkan perhatian?
Jawaban atas pertanyaan itulah yang bisa membantu orang tua menentukan perubahan yang benar-benar dibutuhkan.
Editor: Muhammad Zunus
