Suara dangdut masih tetap terdengar nyaring di tengah gempuran musik pop, rock, metal, klasik, indie, dan beragam genre lain. Melalui alunan musik yang aduhai digenapi lirik-liriknya, nyawa dangdut terus berdetak, nyaris tanpa putus. Masuk dalam relung-relung hati generasi baby boomers, generasi x, generasi milenial, gen-z, hingga gen-alpha.
Dalam tubuh dangdut muncul beragam jenis musik. Belum lama ini, publik mendengar jenis dangdut yang konon milik gen-z, Garam dan Madu (2025) karya Tenxi, Jemsii dan Naykilla. Musik itu dipercayai sebagai jenis dangdut baru yang relevan dengan kaum muda, bersanding dengan para pecinta dangdut koplo milik Deny Caknan, Via Vallen dan beberapa penyanyi lain. Keduanya berebut posisi di telinga para pendengar.
Di tengah kontestasi tersebut, hadir genre ‘dangdut lawas’. Musik dangdut masa lampau yang muncul bak roket, menyalip jenis dangdut lain dengan cepat. “Wayahe wong lawas tampil!” menjadi tagline yang membanjiri media sosial.
Di sebuah hajatan kampung, orang-orang ramai berjoget. Mereka bersuka ria menikmati suasana era 80-an. Berkumpul di sekitar panggung sederhana, diiringi alunan dangdut klasik, senyum mereka merekah, tangan dan kaki bergoyang santai mengikuti irama lagu. Musik dangdut lawas tetap memiliki tempat di hati banyak orang.
OM Lorenza adalah penggagas dangdut jadul tersebut. Grup itu berasal dari Bendosari, Sukoharjo. Penampilannya kian populer di media sosial karena terlihat unik, nyentrik, dan anti-mainstream. Kehadiran grup OM Lorenza selalu dibanjiri penggemar. Para penonton yang datang kerap mengenakan kostum retro era 70-an, seperti kemeja mencolok, celana cutbray, kacamata, dan topi.
OM Lorenza amat disukai karena melawan arus tren kekinian yang berupaya meninggalkan masa lampau. Jauh dari biduan seksi, orang mabuk, dan ribut, mereka hadir membawakan lagu-lagu dangdut murni, tanpa iringan musik koplo ataupun dj seperti kebanyakan dangdut sekarang. Lewat dangdut murni itu, mereka membawa orang-orang bernostalgia kembali ke tahun 1970 dan 1980-an. Salah satu lagu yang dibawakan adalah Singkong dan Keju (1986) karya Bill dan Brod.
“Kau bilang cinta padaku/ Aku bilang pikir dulu/ Selera kita/ Terlalu jauh berbeda/ Parfummu dari Paris/ Sepatumu dari Itali/ Kau bilang demi gengsi/ Semua serba luar negeri/ Manakah mungkin mengikuti caramu/Yang penuh hura-hura.”
Mendengar lagu itu, tak hanya membuat tubuh ingin berjoget, kita juga diajak untuk mengingat salah satu karya bernada sama, yaitu cerpen gubahan Umar Kayam: Seribu Kunang-kunang di Manhattan (1972). Cerpen itu berkisah tentang sepasang kekasih, yaitu Jane dan Marno yang hidup dalam perbedaan mencolok. Isi cerpen tersebut nyaris keseluruhannya berisi dialog yang memberi penegasan perbedaan budaya, asal, dan pemikiran. Marno dan Jane, hampir serupa singkong dan keju.
Selain cerpen, dangdut juga lekat dengan film. Salah satu sinema dangdut yang berhasil menancap dalam ingatan masyarakat Indonesia adalah Mendadak Dangdut (2006) garapan Rudi Soedjarwo, dibintangi oleh Titi Kamal. Film ini menjadi tontonan favorit yang berisi dangdut, permasalahan dan kritik sosial. Lagu paling membekas dalam ingatan penonton bertajuk Mars Pembantu (2006): kata orang, di atas bumi/ kita semua sama/ kata orang, di mata Tuhan/ tidak ada miskin dan kaya/katanya, katanya/ kalau memang benar begitu/ kenapa nasibku jadi babu?/ kerja apa pun ku tak malu/ tapi hidup kok nggak maju-maju?
Apa Pengaruh Nostalgia terhadap Otak?
Neurosciencenews (26/5/2024) menukilkan kalau musik nostalgia—musik yang sangat erat kaitannya dengan suatu kenangan—mampu membangkitkan emosi yang mendalam bagi para pendengar. Meski masih dalam proses penelitian, para penelitian telah mengkonfirmasi bahwa musik dapat menghasilkan respon emosional yang kuat, baik untuk menenangkan maupun menyegarkan.
Tim ilmuwan USC mulai berupaya memahami apa yang terjadi di otak ketika mendengarkan lagu favorit (mengandung nostalgia). Hasilnya, ternyata aktivitas itu memiliki dampak yang signifikan pada mereka yang berjuang melawan demensia dan penyakit alzheimer.
"Mendengarkan musik nostalgia tidak hanya membangkitkan jaringan memori tradisional otak, tetapi juga melibatkan sistem penghargaan, narasi, dan pemrosesan diri otak," kata peneliti USC, Assal Habibi.
Saat mengalami nostalgia, umumnya seseorang akan merasakan kehangatan, rasa sayang, rasa memiliki, dan bahkan mengalami semacam perjalanan waktu mental. Aktivitas itu yang membuat orang-orang cenderung senang dan mencari hal-hal untuk bernostalgia. Benda-benda tertentu, film dan musik, biasanya mudah memicu nostalgia.
Pengalaman nostalgia juga dapat menenangkan di masa-masa sulit, baik yang bersifat pribadi maupun global. Nostalgia semacam memberikan angin segar bagi hal-hal yang terasa menyesakkan dan menghimpit dalam hidup. Begitu kira-kira yang disampaikan National Geographic (28/7/2023) melalui ungkapan Zi yan Yang, profesor Institute Psikologi Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok.
Zi Yan Yang dan rekan-rekannya dalam penelitian terbaru juga menemukan data kalau nostalgia dapat meningkatkan kemampuan kita untuk mendeteksi ancaman dan mengurangi persepsi terhadap rasa sakit. Seseorang yang memikirkan sesuatu (bersifat nostalgia) memiliki aktivitas otak yang lebih peka saat membaca kata-kata yang mengancam.
Mengenai penghilang rasa sakit, dua penelitian dilakukan untuk menguji efek analgesik nostalgia pada berbagai tingkat rasa sakit. Pada penelitian pertama, seseorang diminta untuk melihat gambar-gambar nostalgia. Subjek penelitian pertama merasakan kelegaan dari rasa sakit termal tingkat rendah. Ketika peneliti meminta individu untuk merenungkan suatu peristiwa dari masa lalu mereka, ternyata subjek penelitian merasakan kelegaan dari rasa sakit termal tingkat tinggi dan rendah.
Kita coba menerka, kegandrungan masyarakat terhadap musik dangdut lawas, barangkali bukan hanya sekadar untuk hiburan atau urusan senang-senang, tetapi di dalamnya ada upaya untuk mencari penawar dari situasi yang sulit baik secara pribadi maupun kolektif.
Tekanan emosi, konflik kerja, kondisi negara yang makin abai terhadap kesejahteraan rakyatnya dan setumpuk masalah lain, memungkinkan banyak orang mencari tempat istirahat untuk meletakkan sejenak beban yang dipikul. Menggandrungi ‘dangdut lawas’ sepertinya bisa menjadi tempat yang nyaman sekaligus murah bagi rakyat untuk mendapatkan perasaan damai.
Jadi, mari coba keluar rumah dan ikut bergabung dalam tagline: Wayahe wong lawas tampil! demi memelihara kesejahteraan mental dan kewarasan hidup.
Editor: Kendi Setiawan
