Perjalanannya langsung terhenti. Usahanya begitu keras untuk membawa Palestina di Olimpiade.
Pesan itu ikut mengalir di Sungai Seine. Di atas kaus putih, dengan dibentuk oleh benang-benang bordir, tergambarlah pesawat-pesawat tempur Israel yang buas menjatuhkan rudal ke arah anak-anak di Gaza, Palestina. "Seperti itu gambaran terkini di Palestina,” ujar Waseem Abu Sal, si pemakai kaus itu, seperti ditulis kantor berita AFP.
Waseem Abu Sal, 20 tahun adalah atlet tinju dari Palestina yang pada Jumat lalu mendapat tugas sebagai pembawa bendera dalam parade pembukaan Olimpiade. Dia tak mau melewatkan momen penting untuk menyampaikan keadaan negerinya. “Baju ini mewakili anak-anak yang menjadi martir dan mati di bawah reruntuhan,” katanya.
Palestina adalah kisah duka nestapa di antara ingar bingar pesta olahraga empat tahunan kali ini. Di sana, seperti yang diungkapkan Abu Sal, anak-anak dibunuh dan dibiarkan begitu saja tanpa terpenuhinya kebutuhan pokok. Di Olimpiade, dia berjanji untuk memberikan segalanya bagi negerinya.
Tampil di pesta olahraga ini merupakan mimpi besar Abu Sal sejak kecil. "Pada usia 10 tahun, setiap kali bangun dari tidur saya memikirkan untuk tampil di Olimpiade," ujarnya mengisahkan.
Itu terjadi setelah ayahnya mengirimkannya ke Elbarrio Gym sebuah sasana untuk berlatih bela diri. Namun rupanya, Waseem punya cita-cita yang jauh lebih maju, ya itu tadi dia mau tampil di Olimpiade.
Seiring waktu, Waseem pun tumbuh menjadi atlet tinju. Cita-citanya berlaga di Olimpiade makin kuat. Meski dia tahu perjuangan itu teramat panjang dan tidak mudah. Untuk mendapatkan tiket ke Olimpiade 2024 ini dia terjun di berbagai turnamen tinju amatir di Rusia, Aljazair, dan juga di Asian Games di Hangzhou, September 2023 lalu.
Untuk itu dia berlatih di beberapa negara seperti Maroko dan Jordania. Namun semua usaha itu gagal. Waseem tak lolos ke Paris, dia selalu gagal di babak kualifikasi. Untungnya, masih ada jalur terakhir yang menjadi harapannya yakni melalui "wild card".
Jatah ini diberikan IOC melalui induk badan olahraga di bawahnya -- kepada atlet yang berasal dari negara-negara yang tak lolos kualifikasi. Tujuannya, agar tercipta keterwakilan setiap negara di ajang ini. Benar saja, Waseem terpilih sebagai peserta yang lolos dengan jalur wild card. Dia pun tahu cara menjawabnya yaitu dengan berlatih keras.
Namun, tak lama kemudian semua berubah saat pasukan Israel melakukan invasi ke Gaza, 7 Oktober tahun lalu. Tidak ada lagi latihan memukul sansak yang rutin. Pembatasan pergerakan pun membuat dia terpisah dengan sang pelatih, Ahmed Harara yang tinggal di Gaza.
Hasilnya, setiap harinya mereka hanya bertemu di aplikasi percakapan. Pagi harinya, Harara mengirimkan latihan apa saja yang harus dilakukannya. “Sejak itu, saya mengawasi pelatihan Wassem dari jarak jauh,” kata Harara. “Setiap pagi saya menulis jadwal latihannya."
Jauh dari ideal. Abu Sal dan atlet Palestina lainnya mengalami kesulitan untuk lawan tanding. Tak ada jalan lain, latih tanding pun dilakuan dengan petinju yang ada. "Sehingga membuat berkurangnya persaingan," kata Abu Sal.
Keadaan kian sulit tatkala selama berhari-hari mereka dibombardir bom dan juga berita duka. Serangan Israel telah menewaskan puluhan ribu warga sipil, yang di antaranya adalah atlet atau kerabat atlet.
"Hal ini berdampak besar pada petinju kami, karena setiap hari kami mendapat berita tentang atlet yang tewas," kata Nader Jayousi, ketua kontingen Palestina.
Olimpiade akhirnya kian dekat. Abu Sal melakukannya dari ibu kota Yordania, Amman, yang akan ia tempuh dari Ramallah melalui jalan darat. Hal lumrah baginya seperti saat menjajal kekuatannya di berbagai turnamen uji coba.
Setelah terpisah lama, pada pertengahan Jul lalu, akhirnya Abu Sal pun bertemu dengan pelatihnya Ahmed Harara. Sayangnya pertemuan itu bukan cerita indah yang menjadi saksi perjalanan mereka di Olimpiade. Pada Ahad 28 Juli 2024 -- hari yang sangat ditunggu Waseem Abu Sal --- yang turun di kelas Bulu (57 kilogram) ternyata harus pulang cepat.
Di atas ring, meski mendapatkan sokongan para penonton, dia tak bisa menahan gempuran petinju asal Swedia Nebil Ibrahim. Abu Sal kalah angka mutlak dan haru menghentikan mimpinya.
"Mohon maaf saya tidak jadi mengibarkan bendera Palestina di podium. Tapi Insya Allah saya tidak akan terhenti di sini. Perjalanan akan terus berlanjut selama empat tahun," ujarnya kepada wartawan. “Olimpiade ini sudah menjadi kemenangan bagi Palestina.”
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor: Muhammad Zunus
