Jalan Pulang: Rumah dan Jiwa dalam Bayangan Manusia Modern

Jalan Pulang: Rumah dan Jiwa dalam Bayangan Manusia Modern

Dentuman musik lagu Jalan Pulang karya Jangar menggema seolah jeritan batin di tengah riuh kehidupan yang konon disebut modern. Di balik distorsi gitar juga teriakan yang serak, ada suara seseorang yang memohon izin untuk kembali—bukan ke tempat fisik, melainkan ke dirinya sendiri. Menjalani tirani sendiri, sudah tinggal tulang dan ambisi, begitu pengakuan getir di awal lagu, seolah pecahan cermin dari manusia masa kini yang hidup dalam dunia serba cepat, serba sibuk, dan penuh tuntutan begini-begitu, tetapi kehilangan arah pulang. Akhirnya, lagu bukan sekadar luapan emosi, melainkan refleksi sosial tentang manusia yang kelelahan menanggung laju cepat modernitas.

Dalam psikologi, rumah tidak lagi dipahami sebatas bangunan yang melindungi dari hujan dan panas. Sebuah penelitian berjudul What is Home? Creating a Psychological-Based Framework of Home With Basic Psychological Needs Theory (2024) menjelaskan bahwa rumah adalah ruang pemenuhan tiga kebutuhan dasar manusia: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan (autonomy, competence, relatedness). Di situ seseorang merasa dirinya utuh—bebas menentukan jalan hidup, merasa mampu, dan memiliki hubungan yang hangat dengan orang lain. Dalam kehidupan sekarang di Indonesia, ketiga unsur di atas justru acap kali runtuh bebarengan.

Kehidupan di kota besar—Jakarta, Surabaya, Denpasar, juga Yogyakarta—menjadi laboratorium kelelahan kolektif. Banyak orang bekerja dari pagi hingga malam, hidup di ruang sempit, menukar waktu beristirahat dengan produktivitas tanpa batas. Data Badan Pusat Statistik tahun 2023 menunjukkan 56% pekerja muda di Indonesia mengalami tekanan kerja tinggi, dan sepertiganya merasakan kelelahan emosional alias burnout. Mereka masih memiliki rumah untuk ditinggali, tetapi tidak lagi memiliki rumah untuk pulang dalam makna psikologis. Otonomi mereka dikekang sistem kerja, kompetensi diukur angka dan target, serta keterhubungan tergerus komunikasi digital yang hilang keintimannya.

Lirik Waktunya untuk berkaca pada diri, sudah pantaskah aku kembali? terdengar seperti pertanyaan generasi yang tumbuh dalam tekanan performa dan citra. Di tengah dunia yang menuntut kesempurnaan, selalu ada yang kehilangan ruang untuk merasa cukup. Di kamar kos sempit, apartemen tanpa halaman, atau kontrakan yang terpaksa berganti tiap tahun, banyak yang hidup dengan rasa asing terhadap dirinya sendiri. Ironinya, di era ketika semua orang saling terhubung melalui layar, justru semakin banyak yang merasa terputus—dari keluarga, masyarakat, bahkan dari makna hidupnya sendiri.

Dalam teori kebutuhan dasar, rumah seharusnya menjadi ruang otonomi: tempat seseorang merasa memiliki kendali atas hidupnya. Namun, di Indonesia, harga rumah yang naik 6,3% pada 2024 (data Bank Indonesia) membuat banyak anak muda kehilangan harapan untuk memiliki tempat tinggal sendiri. Rasa kompetensi, kebutuhan untuk merasa mampu, terkikis dunia kerja yang penuh ketidakpastian dan kompetisi tanpa henti. Sementara keterhubungan, kebutuhan untuk merasa diterima dan dicintai, makin rapuh di tengah individualisme dan urbanisasi. Selebihnya, banyak orang hidup di antara dua kutub: keinginan maju sejauh mungkin serta kerinduan untuk pulang ke sesuatu yang lebih hangat.

Menilik budaya Indonesia, pulang memiliki makna yang lebih luas. Ia bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan emosional menuju akar dan asal. Ungkapan pulang kampung membawa aroma nostalgia, kenangan pada masa yang telah berlalu, dan figur orang tua yang menunggu di beranda. Akan tetapi, urbanisasi berhasil mengaburkan semua makna itu. BPS mencatat, lebih dari 57% penduduk kini tinggal di wilayah perkotaan. Banyak rumah di desa menjadi kosong karena anak-anaknya merantau. Pulang kini sering berarti kembali ke tempat yang sudah berubah, bahkan mungkin tak lagi dirasakan seperti rumah.

Di tengah kenyataan itu, lirik Jalan Pulang terdengar seperti doa sekaligus gugatan, menyoal hakikat kepulangan: bukan sekadar ke tempat, tetapi ke jiwa yang pernah tenang. Dalam kerangka teori psikologis, kehilangan makna “pulang” adalah tanda runtuhnya otonomi dan relasi—dua unsur yang membuat manusia merasa memiliki rumah batin. Tirani sendiri dalam lagu Jangar menjadi metafora paling tajam tentang kondisi ini: manusia modern yang menjadi penguasa bagi dirinya sendiri, sekaligus tawanan ambisi dan rasa sepi.

Thomas Wolfe, dalam novelnya You Can’t Go Home Again (1940), menulis kalimat yang abadi: You can’t go back home again. Rumah, katanya, tak bisa benar-benar didatangi lagi, karena dunia dan diri telah berubah. Tetapi, dalam tafsir yang lebih halus, rumah bukan sesuatu yang hilang, melainkan sesuatu yang akhirnya harus dibangun ulang. Kepulangan sejati barangkali bukan perjalanan mundur, tetapi rekonstruksi kesadaran—sebuah proses menciptakan ruang batin di mana seseorang bisa merasa bebas, berdaya, dan terhubung. Ketika anggapan tidak punya tempat yang sungguh untuk pulang, bukan berarti kehilangan rumah secara fisik, melainkan kehilangan rasa diterima dan dikenali. Dalam dunia yang serba cepat, rumah berubah menjadi ide—kadang sesederhana sepasang telinga yang mau mendengar, sebatang pohon di depan beranda halaman kontrakan, atau ruang sunyi untuk melepas napas lega tanpa tuntutan yang babibu.

Di akhir lagu, Jangar menyanyikan, Menjalani sendiri, mengingkari jati diri. Ada kejujuran dalam lirik, sekaligus daya juang untuk pulih. Sebab untuk benar-benar pulang, seseorang harus lebih dulu mengakui bahwa dirinya tersesat. Mungkin, dalam zaman yang berlari terlalu cepat dan akhirnya berat ini, langkah paling berani bukanlah terus maju, melainkan berhenti sejenak, menatap diri di depan cermin dengan suara lirih bertanya: bolehkah aku pulang?


Editor: Kendi Setiawan
logo