Film Sore, Drama-Romansa dengan Balutan Fantasi tentang Waktu dan Masa Depan

Film Sore, Drama-Romansa dengan Balutan Fantasi tentang Waktu dan Masa Depan

Semula, saya tertarik menonton film ini lantaran judulnya, Sore: Istri dari Masa Depan. Saya tidak asing dengan judul itu. Film Sore (2025) adalah adaptasi dari serial atau web series dengan judul, aktor dan sutradara yang sama, yang rilis pertama pada 2017. Saya bersama istri menonton series itu. Nah, karena mungkin dulu boleh dibilang cukup sukses, sutradara menggarap kembali (remake) film Sore ini, dengan ide (skenario) yang sudah brilian, dengan penggarapan yang lebih intens dan matang.

Film Sore adalah film ketiga yang saya tonton dari sineas muda Yandy Laurens, setelah Keluarga Cemara (2019) dan Jatuh Cinta Seperti di Film-Film atau JESEDEF (2024), yang tahun lalu memenangi Piala Citra.

Film yang berdurasi 1 jam 59 menit ini diproduksi Cerita Films dan sudah tayang di jaringan bioskop mulai 10 Juli 2025 lalu. Dibintangi duo pemeran kenamaan Dion Wiyoko (memerankan Jonathan) dan Sheila Dara Aisha (sebagai Sore), yang menggantikan Tika Bravani di versi web series. Baik Dion maupun Sheila, penampilan keduanya memikat. Terlebih pada beberapa scene klimaks yang intens, tokoh Sore yang diperankan Sheila sangat memukau; kita ikut hanyut dalam kerjapan mata dan deru nafasnya saat terbangun-terperanjat sebagai istri dari masa depan.

Dari masa depan, Sore bangun berkali-kali di samping Jonathan. Berkali-kali pula kita ikut merasakan lelahnya Sore terbangun dan beranjak menjalankan misinya. Ia punya misi seolah ingin mengubah takdir (kematian) dan mensiasati masa depan; menyelamatkan Jonathan dari gaya hidup yang menurutnya tidak baik-baik saja dan menyebabkan kematian, seperti kecanduan merokok dan minum-minum. Di bagian awal-awal film itu, saya pikir, ini film seperti kampanye anti rokok dan gaya hidup sehat. Menarik, karena cerita berlanjut lebih daripada itu.

Klimaks yang Intens dan Alur Waktu yang Eksis
Dari klimaks yang intensif dan konflik yang repetitif, Sore sebagai istri dari masa depan bangun-beranjak di samping suaminya di waktu hari ini, dan kemudian (terpaksa) pergi lagi entah ke mana, untuk kemudian kembali lagi di samping Jonathan di hari itu juga. Seolah mesin waktu—ini dilontarkan di satu dialog—tokoh utama bisa datang, berdiam, dan pergi dari satu masa. Ia seperti bisa bermain-main dengannya (waktu), hingga akhirnya waktu menjadi kabur dan berjalan sangat cepat.

Penonton boleh jadi dibuat linglung. Di sepertiga akhir film, cukup sulit ditebak mana waktu yang eksis saat ini, antara masa kini dan masa depan. Karena semuanya ditampilkan segaris, berkait-kelindan, bahkan di akhir dibuat cuplikan waktu yang tidak beraturan. Soal waktu ini, ia mendapat perhatian yang serius. Sampai-sampai Yandy Laurens memberi kredit khusus untuk Waktu sebagai Waktu di credit title.

Sampai di situ, saya boleh sebut naskah dan alur dari skenario yang dibangun itu cukup brilian. Bernas. Dan di tengah gempuran film horor di Indonesia, terlebih di bulan Juli ini, Yandy Laurens menawarkan alternatif tayangan yang tidak saja menghibur dalam kisah romansa tapi juga menyajikan ide dan alur cerita yang kreatif dan boleh dibilang eksperimental—sama seperti ketika ia menggarap film JESEDEF.

Melihat plot cerita seperti itu, mungkin kita akan teringat film Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004) yang dibintangi Jim Carrey (Joel Barish) dan Kate Winslet (Klementine). Hanya saja alur di film Eternal itu ternyata mayoritas terjadi di kepala Joel, dan tidak banyak yang terjadi di kepala Klementine.

Perkara tersebut berbeda dengan yang terjadi di film Sore. Di sini, alur waktu masa kini dan masa depan itu pada akhirnya disadari—entah dengan mesin waktu atau karena cinta?—kedua tokoh; Sore dan Jonathan memahami bahwa mereka bertakdir untuk bersama dan lewat pandangan mata pertama, mereka berpikir pernah mengalami waktu bersama-sama.

Secara umum, film panjang Sore ini secara ide memang mirip dengan versi seriesnya. Tapi versi layar lebar ini lebih intens dan emosionil. Dan tidak masalah pula bagi penonton yang belum atau tidak mengikuti seriesnya. Film ini bisa berdiri sendiri, dan justru lebih kompleks; klimaks yang intens dan konflik yang repetitif, mengoyak-ngoyak perasaan.

Pelibatan Aktor Luar dan Sinematografi yang Ciamik
Selain menggugah emosi, menarik juga melihat Sheila Dara yang beberapa kali menyampaikan dialog bahasa Kroasia dan terdengar fasih. Katanya, dia menyiapkan betul peran sebagai Sore ini dengan salah satunya kursus berbahasa Kroasia.

Di film ini juga ada beberapa pemeran asing (bule) yang dilibatkan, salah satunya aktor Kroasia Goran Bogdan (Karlo) yang menjadi pemeran pria pendukung tokoh utama. Dan Yandy Laurens menempatkan pemeran bule ini—walaupun pernah dapat nominasi Oscar—dengan baik dan proporsional. Tidak berlebihan dan tidak menggambarkan aktor Oscar itu sebagai yang punya superioritas. Porsinya pas, karena, bisa dibilang kadang ada beberapa film Indonesia atau aktornya dibuat seolah inferior ketika dibarengkan dengan aktor luar. Atau misalnya warganet Indonesia berlebihan bangganya ketika ada aktor atau bahasa atau tempat di Indonesia bisa masuk di film Hollywood. Padahal ya kualitas aktor kita ya memang oke dan levelnya sudah di situ.

Selain melibatkan aktor luar, dan karena syuting pun dilakukan di luar negeri maka itu pula di film Sore ini kita akan mendapatkan sajian visual yang memanjakan mata. Latar tempat dan lanskap indah diambil di Finlandia dan Kroasia—soal latar tempat ini beberapa penulis sinopsis film seperti di Detik, Tirto dan beberapa portal lain menulisnya sebagai Italia, latar tempat film versi seriesnya.

Ya, sejak awal scene, Yandy atau DOP-nya memang semacam 'menjual' pemandangan yang apik: hamparan es Arctic, aurora, beruang kutub di Finlandia, laut, senja, kota dan bangunan-bangunan di Kroasia. Dan yang tak kalah menarik, karena di film ini Jonathan adalah seorang fotografer, beberapa karya fotografi yang ditampilkan pun adalah milik Dion Wiyoko sendiri, agar lebih orisinil katanya.

Selain menjual pemandangan, secara teknis film ini juga juara dalam hal pengambilan angle dan adegan. Karena alur cerita yang maju-mundur, maka boleh jadi ada begitu banyak shot, angle dan take atau adegan diambil dan dijahit sedemikian rupa menjadi utuh. Seperti metafora yang dilontarkan Sore jika ia terbangun seratus ribu kali, ia akan tetap memilih Jonathan. Naskah dan sinema yang ciamik!

Secara pemilihan soundtrack juga keren, khususnya Terbuang dalam Waktu dari Barasuara, memacu intensitas emosi dalam lintasan waktu yang acak, di bagian menjelang akhir film.

Teknis lain yang mungkin kurang adalah kalimat filosofis soal senja yang beberapa kali diulang (di awal, tengah, akhir), karena seolah puitis dan bisa dianggap seolah inti dari cerita. Dan sebetulnya tanpa kalimat atau ungkapan tentang senja itu pun, keseluruhan film sudah oke. Atau misal di film itu tetap ingin ada ungkapan yang puitis-filosofis, Yandy bisa saja membikin atau meminta ungkapan lain yang lebih puitis dan betulan Puisi, dari sastrawan atau penyair. Kekinian tidak sedikit pula penyair muda atau bahkan penulis lagu yang doyan bikin lirik soal senja. Tapi itu semua juga soal selera.

Sisanya patut diapresiasi dan sangat layak ditonton karena boleh jadi seperti tahun lalu, film Yandy ini akan menjadi kandidat kuat jawara FFI tahun ini.
 


Editor: Kendi Setiawan
logo