Kamu Generasi Sandwich yang Rentan Stres? Perhatikan Apa yang Perlu Kamu Lakukan!

Kamu Generasi Sandwich yang Rentan Stres? Perhatikan Apa yang Perlu Kamu Lakukan!

Setelah seharian menghabiskan waktu di luar rumah untuk bekerja, seorang ibu menyempatkan diri setiap hari untuk mampir ke rumah orang tuanya. Ia ingin memastikan keadaan ayah dan ibu yang sudah berusia lebih dari 60 tahun dan salah satunya mengalami demensia. Walaupun sudah menyiapkan makan untuk mereka, setiap hari pikirannya tidak luput dari pertanyaan, "Apakah mereka sudah makan?" Atau "Apakah ibu sudah minum obat?"

Seusai mengunjungi orang tuanya, ibu itu bergegas ke rumah membawakan makan malam untuk anak-anaknya yang masih duduk di bangku SD dan SMP. Sesampainya di rumah, ia makan bersama kedua anaknya, membantu mereka mengerjakan PR, dan menyiapkan keperluan mereka esok hari. Ketika anak-anaknya terlelap, ia pun bersiap-siap untuk tidur. Sambil memejamkan matanya, ia mengelus dada. Kegiatan sehari-hari membuatnya berada di ambang kelelahan dan lupa untuk mengkhawatirkan diri sendiri. Ibu itu berada dalam generasi roti lapis atau generasi sandwich (sandwich generation).

Generasi sandwich adalah istilah yang diperuntukkan kepada para orang dewasa yang memasuki usia 30 tahun yang terjepit di antara harus membesarkan anak-anak mereka dan merawat orang tua yang sudah lanjut usia. Sederhananya, generasi sandwich adalah generasi orang dewasa yang harus mengurus dan menanggung kebutuhan hidup tiga generasi, yaitu orang tua, diri sendiri, dan anak. 

Melansir verywellmind, sebuah penelitian mendapati lebih dari 40 juta orang mengurus orang tua mereka yang berusia lebih dari 65 tahun. Di saat yang sama, mereka juga menjalankan tugasnya dalam kehidupan rumah tangga, dunia kerja, dan hubungan lainnya. Ditemukan bahwa tindakan-tindakan tersebut berdampak besar pada kesehatan mental mereka.

"Mereka seringkali tidak meluangkan waktu, bahkan tidak punya waktu untuk perawatan diri mereka sendiri,” kata Leslie Adams, konselor profesional klinis pada pusat kesehatan Rumah Sakit Northwestern.

“Sebagian besar perawatan diri yang mereka butuhkan adalah mengimbangi stres akibat merawat orang-orang dengan beragam kebutuhan,” tambahnya.

James Lyda, Direktur Virtual Medical di One Medical mengungkap bahwa keuangan menjadi salah satu sumber kecemasan dan stres yang signifikan bagi generasi sandwich. Sebab, mereka harus menanggung biaya untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dan orang tua. Walaupun orang-orang generasi sandwich menyayangi dan mencintai orang tua serta anak mereka, menanggung beban tiga generasi sendirian bukanlah hal yang mudah. 

Menurut Adams, mereka harus berani dan terbiasa untuk berkata tidak dan bersikap bijak serta realistis terhadap hal-hal yang dapat mereka lakukan. Jika tidak, pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak hanya akan menyebabkan kelelahan fisik, tapi juga mental.

Laura Koziej, konselor profesional klinis di One Medical yang juga seorang terapis, mengatakan bahwa istirahat seringkali tidak diacuhkan oleh orang-orang generasi sandwich. Hal ini dikarenakan sebagian besar waktu mereka habis digunakan untuk berfokus memedulikan orang-orang lain. Dengan demikian, mereka tidak bisa meluangkan waktu untuk diri sendiri, dan jika mereka bisa, mereka akan merasa bersalah. 

Faktanya, mengorbankan waktu untuk mengkhawatirkan diri sendiri demi memedulikan orang lain dapat mengancam kesehatan mental. Kesibukan mengurus tiga generasi seorang diri dapat menimbulkan rasa lelah, kesepian, kesal, cemas, stres, dan frustasi.

“Kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan, dan jika tidak ditangani dapat menyebabkan depresi, kecemasan, penyalahgunaan zat, dan kondisi kesehatan mental lainnya,” ungkap Lyda.

Tips Mengatur Stres Bagi Generasi Sandwich

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan generasi sandwich dalam membesarkan anak-anak dan merawat orang tua agar tetap fit dan sehat secara mental. Berikut beberapa tips mengatur stres sebagaimana disebutkan dalam One Medical:

1. Mengutamakan kesehatan diri sendiri

Pentingnya meluangkan waktu dan membuat batasan untuk diri sendiri dan orang lain. Tanamkan pikiran, “Kalau kamu sakit, siapa yang akan mengurus anakmu dan orang tuamu?” Meluangkan waktu dan memanfaatkannya untuk berkonsultasi dengan ahli kesehatan mental dapat memberikan jalan keluar dan dukungan secara emosional. Selain itu, mendedikasikan waktu beberapa menit untuk berolahraga sangat memberikan manfaat, tidak hanya bagi tubuh tapi juga pikiran. Ada sejumlah olahraga yang dapat meredakan stres, seperti jalan santai, yoga, dan kickboxing.

2. Berani berkata ‘Tidak.’

Kata “tidak” adalah kata yang penting untuk diungkapkan. Namun, sebagian orang tidak berani untuk mengatakannya ketika diminta untuk melakukan suatu pekerjaan. Padahal, tidak ada yang salah dengan berkata tidak, justru tindakan tersebut dapat menghemat energi. Sebagian orang dewasa generasi sandwich selalu mengiyakan hal-hal yang berkaitan dengan mengurus anak dan orang tua. Hal ini dikarenakan mereka merasa mudah terbebani, merasa bersalah jika menolak, dan merasa bahwa pekerjaan tersebut adalah kewajiban mereka. Padahal, tidak apa-apa untuk menyisakan waktu untuk melakukan hal yang disukai. Mementingkan kesehatan diri sendiri bukanlah hal yang egois.

3. Jujur pada diri sendiri tentang keterbatasan diri

Pentingnya jujur dan mengaku pada diri sendiri tentang batasan diri, mencakup batasan waktu, tenaga, kesehatan, dan kecakapan dalam mengurus dan merawat orang lain. Contoh, ketika orang tua mengalami penyakit kognitif atau neurologis dan/atau gangguan mobilitas yang signifikan, orang dewasa generasi sandwich harus bersedia mengakui dan jujur bahwa mereka membutuhkan bantuan. Dengan demikian, peran bantuan kesehatan dan fasilitas perawatan dapat dipertimbangkan untuk menopang kesejahteraan orang tua. Sebab, merawat orang lanjut usia membutuhkan perawatan tingkat tinggi. Jangan merasa bisa melakukan semuanya sendirian karena tidak ada salahnya meminta bantuan kepada pasangan atau anak dalam mengerjakan pekerjaan rumah.


Editor: Muhammad Zunus
logo