Sandwich adalah makanan yang enak. Santapan itu berisi dua atau lebih potongan roti yang dilengkapi aneka tambahan. Bisa digenapi daging, keju, sayuran, telur, hingga saus atau selai. Sandwich terasa lezat ketika dalam bentuk makanan.
Namun, menjadi berbeda ketika ditambahkan kata ‘generasi’ di awal. Generasi Sandwich tidak ada kelezatan, yang ada justru sebaliknya: tekanan.
Generasi sandwich adalah istilah untuk menggambarkan kondisi seseorang yang mempunyai peran ganda dalam persoalan keuangan, karena harus membiayai tiga generasi, yaitu dirinya sendiri, orang tua, dan anak-anaknya. Posisi itu dianalogikan seperti halnya sandwich: sepotong daging yang terhimpit oleh dua buah roti. Roti diibaratkan dengan orang tua (generasi atas) dan anak-anak (generasi bawah).
Istilah 'generasi sandwich' pertama kali dikenalkan oleh Dorothy Miller, seorang profesor sosial, dalam artikelnya pada tahun 1981. Generasi itu merujuk kepada individu yang tidak hanya mengurus diri sendiri, tetapi juga orang tua dan anak-anaknya. Istilah ini lantas dimasukkan ke dalam Merriam-Webster Dictionary pada 2016 dan pengertiannya terus berkembang hingga saat ini.
Indonesia termasuk menjadi negara dengan jumlah generasi sandwich sangat tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020, jumlah generasi sandwich di Indonesia mencapai 71 juta orang. Sementara itu, berdasarkan survei DataIndonesia.id, 46,3 persen generasi Z di Indonesia merupakan generasi sandwich.
Salah satu faktor utama yang menyebabkan lahirnya generasi tersebut adalah minimnya literasi keuangan. Berdasarkan survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilaksanakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2019, tingkat literasi keuangan di Indonesia hanya mencapai 38,030 persen. Angka itu menempati posisi lebih rendah jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya seperti Thailand dan Malaysia.
Penelitian itu menunjukkan bahwa literasi keuangan dan kesejahteraan sosial masih menjadi PR besar bagi Indonesia. Kita membayangkan nasib para generasi sandwich yang memiliki keterbatasan finansial namun dituntut untuk menjadi tulang punggung dua generasi: double beban. Kondisi tersebut sebenarnya tidak normal, karena merupakan masalah yang siklusnya perlu diputus. Namun sayangnya, terkadang masyarakt umum kerap menormalisasikan kondisi itu baik dengan dalih agama maupun adat istiadat.
Film Mai (2024), drama komedi Vietnam, garapan Tran Thanh adalah salah satu contoh sinema yang mengangkat realitas beban ganda para generasi sandwich. Mai (2024) bercerita mengenai kisah seorang perempuan sebagai ibu tunggal yang harus menghidupi putri semata wayangnya sekaligus menopang kebutuhan sang ayah.
Mai memiliki kesulitan pribadi dalam hidupnya, yaitu menghadapi masalah dari lingkungan sekitar berupa stereotip pada statusnya single mother, lalu ditambah masalah pekerjaannya sebagai terapis pijat. Kegagalan percintaan juga menggenapi masalah pribadi dalam hidup Mai
Di tengah-tengah situasi pelik tersebut, ia juga harus memikirkan permasalahan anak tunggalnya juga ayahnya yang seorang pecandu judi.
Memutus Generasi Sandwich?
Menjadi generasi sandwich mencerminkan posisi yang terasa begitu sulit. Mereka yang 'terhimpit' oleh tuntutan finansial, emosional, dan fisik dari dua generasi dapat mengarahkan pada kondisi stres, tekanan ekonomi, dan kelelahan mental yang tidak berkesudahan. Untuk memutus masalah, diperlukan strategi dan perubahan pola pikir yang berkelanjutan.
Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil:
1. Pendidikan Keuangan
Pendidikan keuangan dapat dilakukan dengan mempelajari perencanaan keuangan, yaitu membuat anggaran bulanan yang mencakup tabungan, dana darurat, dan kebutuhan keluarga.
Lalu Investasi jangka panjang dengan memanfaatkan instrumen investasi seperti reksa dana, saham, atau emas untuk membangun kekayaan di masa depan. Selanjutnya adalah asuransi kesehatan dan jiwa. Pastikan memiliki perlindungan asuransi untuk mengurangi beban biaya medis dan risiko tak terduga.
2. Persiapkan Masa Depan Orang Tua
Diskusikan kebutuhan jangka panjang dengan melibatkan orang tua dalam perencanaan keuangan mereka, termasuk rencana pensiun dan perawatan kesehatan juga penting. Kita juga dapat mendorong orang tua untuk mengelola dana pensiun atau investasi pribadi, jika memungkinkan.
3. Bangun Pendidikan Anak yang Mandiri
Pendidikan yang mendukung kemandirian sangat perlu dilakukan. Fokus pada pendidikan yang memberikan anak-anak kemampuan atau keterampilan yang bisa menunjang hidup mandiri di masa depan. Tak lupa untuk mengajarkan literasi keuangan dengan menampakan cara pengelolaan uang sejak dini.
4. Ciptakan Sumber Penghasilan Tambahan
Manfaatkan keterampilan untuk membangun usaha sampingan juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi untuk mencari peluang penghasilan tambahan seperti freelancing atau investasi properti.
5. Bangun Generasi Masa Depan yang Bebas dari Beban
Mulai menabung dan berinvestasi untuk masa pensiun juga perlu untuk dilakukan agar tidak membebani anak-anak. Sediakan warisan dalam bentuk aset atau tabungan pendidikan untuk anak.
6. Fokus pada Kesehatan Mental dan Emosional
Jangan ragu dan takut untuk mencari bantuan profesional seperti konseling keuangan atau psikolog jika tekanan terasa terlalu berat. Luangkan waktu untuk self-care dengan beragam kegiatan agar tetap sehat secara fisik dan mental.
Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, generasi sandwich dapat diatasi secara bertahap. Yang terpenting, perubahan ini membutuhkan kerja sama keluarga, perencanaan jangka panjang, dan komitmen untuk hidup lebih bijak.
Editor: Kendi Setiawan
