Sudah lebih dari tiga bulan ini saya menjalani diet sarapan buah. Hanya buah. Bisa apel, pir, jambu, pepaya, mangga, melon, semangka, atau buah naga. Atas kemauan sendiri? Tentu tidak. Godaan sekitar terlalu besar untuk bisa membuat keputusan hidup sehat. Apakah saya tidak tahu bahwa hidup sehat itu baik? Tentu saya tahu. Tapi godaannya itu, lho, terlalu berat.
Istri yang mendorong saya untuk melakukan diet ini. Dengan penuh kesabaran, dikombinasi dengan rengekan manja dan ancaman yang kalau direalisasikan bisa membuat setiap laki-laki jadi kelabakan, istri saya sukses membuat saya menjalani diet sarapan buah selama tiga bulan ini. Berat? Jangan ditanya. Gorengan dan secangkir kopi di pagi hari adalah gambaran sempurna dari apa yang disebut sarapan surga.
Tapi, toh, saya berhasil mengatasi semua hambatan itu. Di samping motivasi penuh cinta dari sang istri yang ingin menyusutkan lingkar perut saya yang mulai terlihat menggemaskan (baca: gendut), terngiang juga celoteh seorang dokter beberapa waktu lalu ke saya, "Tabunganmu, piro?" (Tabunganmu berapa). Maksudnya berapa lemak yang saya tabung di perut.
Sarapan buah memang membuat bobot saya turun. Saya sendiri nyaris tak percaya hingga berulang kali menimbang badan. Jangan-jangan timbangan rusak. Atau, timbangan itu sendiri yang berusaha mengecilkan angka sekadar ingin menyenangkan saya.
Tapi, pagi ini godaan luar biasa. Benar-benar hari yang berat. Tak ada buah yang ready to eat di rumah. Anehnya, ketika saya ke luar rumah, bukannya mencari buah, tapi malah mencari warteg (warung Tegal). Apakah pertahanan saya jebol? Apakah saya harus mengkhianati istri? Ya, Allah tolooong!
Akhirnya, bobol juga pertahanan saya. Sembari jalan ke kantor, mata celingukan mencari-cari warteg. Tiba-tiba sopir sudah mengarahkan parkir di halaman warteg di bilangan Gondangdia. Yah...terpaksa masuk dan memilih menu. Begitulah. Sambil menikmati menu warteg yang sudah saya tinggalkan selama tiga bulan, hati saya berkecamuk antara menikmati sarapan surga dan penyesalan. Maafkan aku, istriku tercinta!
Mulailah insting sebagai “analis sosial” muncul. Saya lihat kanan kiri, banyak orang sarapan di warteg, Tak hanya saya tentunya yang doyan banget makan di warteg. Pagi itu beberapa orang juga tengah sarapan. Juga jutaan masyarakat di warteg-warteg lain yang bertebaran di seluruh negeri. Faktor murah, dan pasti kenyang (karena nasinya banyak), warteg jadi jujugan untuk menjinakkan perut yang meronta. Baik untuk sarapan, makan siang, maupun makan malam.
Warteg adalah salah satu soko guru perekonomian kita. Parameter ekonomi rakyat menggeliat atau tidak tercermin dari keberadaan warteg. Usaha kuliner jenis ini tak lekang oleh waktu. Selain dikelola secara "tradisional" alias individu-individu, kini warteg banyak yang sudah salin wajah menjadi usaha waralaba. Prospektif. Dalam kondisi normal, rata-rata omzet warteg bisa mencapai tiga juta sampai lima juta rupiah per hari (pemilik warteg yang saya singgahi buat sarapan bilang, omzetnya bisa empat juta rupiah sehari).
Jika di Jabodetabek, misalnya, ada tiga puluh ribu warteg, maka perputaran uangnya bisa mencapai 90 miliar sampai 100 miliar rupiah per hari. Dalam satu bulan, perputaran uangnya sekitar 2,7 triliun sampai 4,5 triliun rupiah. Sebuah angka yang wow. Tapi, masih banyak orang yang memandang usaha kuliner ini dengan sebelah mata. Padahal, multiplier effect-nya dahsyat.
Meski menggerakkan ekonomi luar biasa, warteg tetap tampil sederhana. Bahkan, warteg telah menjadi sebuah gaya hidup warga. Sebanding dengan gaya hidup yang lagi ngetren belakangan ini: slow living. Disebutkan, slow living is a lifestyle which encourages a slower approach to aspects of everyday life, involving completing tasks at a leisurely place (Terjemahan bebasnya: Slow living adalah menjalani kehidupan sehari-hari dengan pelan, termasuk menyelesaikan tugas-tugas serius di tempat-tempat rekreatif). Jadi, slow living adalah konsep yang menekankan gaya hidup lebih sederhana dan santai. Gaya hidup nge-warteg kurang lebih seperti itu.
Menukil dari banyak penjelasan tentang slow living, pola pikir hidup yang slow ini akhirnya mendorong kita untuk hidup penuh kesadaran diri yang pada akhirnya membantu membuat kita merasa lebih bahagia. Slow living juga dapat diartikan sebagai gaya hidup yang menekankan pada kualitas daripada kuantitas, yakni mengalokasikan waktu untuk diri sendiri, makan dengan santai, atau menghabiskan waktu bersama orang tersayang.
Gaya hidup makan di warteg tampaknya juga pas menjadi bagian dari slow living jika kita menilik sejarahnya. Slow living , konon, awalnya adalah sebuah gerakan di Italia pada tahun 80-an untuk menentang budaya cepat saji dan industri makanan besar lewat Slow Food Movement. Gerakan slow food kini memiliki pendukung di lebih dari 150 negara dan terus mempromosikan upah yang adil bagi produsen hingga mendorong makanan berkualitas baik untuk disajikan ke konsumen.
Gerakan ini terus berkembang bahkan makin populer ketika pandemi Covid-19 melanda. Warteg pun begitu. Saya kira menu makanan yang lengkap tersaji di balik kotak berdinding kaca tersebut cukup berkualitas. Ada sayur, ikan, daging, hingga jeroan. Tinggal pilih saja. Kualitas nasinya pun rata-rata medium. Di beberapa warteg bahkan nasinya dari beras super premium.
Saya semakin yakin bahwa sarapan saya pagi ini di warteg adalah keputusan yang tepat. Tapi, mengapa hati saya tetap tidak tenang? Saya tahu. Ya, saya tahu. “Maafkan aku, istriku. Maafkan!”
Wibowo Prasetyo
Penulis adalah Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, penikmat sepak bola
Editor: Muhammad Zunus
