Perempuan dan Stres: Mengapa Beban Emosional Mereka Lebih Berat?

Perempuan dan Stres: Mengapa Beban Emosional Mereka Lebih Berat?

"Perempuan dari lahir sudah diberi rasa sakit, itu adalah takdir kita. Sakit ketika haid, payudara nyeri, pedihnya melahirkan. Kita merasakan sakit ini seumur hidup…. semua rasa sakit itu sudah ada dalam tubuh kita, berputar terus bertahun-tahun. Ketika akhirnya mulai berdamai dengan semua itu, menopause sialan datang.  Namun ternyata itu adalah hal paling luar biasa di dunia. Dan, ya, badan rasanya memang berantakan, kamu akan kepanasan setiap saat dan tidak ada yang peduli. Tapi setelah itu, kamu bebas. Tidak ada lagi drama hormon tiap bulan, kamu bukan lagi mesin yang harus kerja terus. Kita hanya akan menjadi manusia."

Ucapan itu milik Belinda, perempuan pintar dan cerdas di serial Fleabag (Harry Bradbeer, 2019). Rentetan kalimat tersebut dilontarkan Belinda kepada Fleabag dalam percakapan singkat di sebuah bar. Isi omongan terdengar sarkas, liberal, dan tajam. Pendengar rawan tak menerima gagasan itu. Namun, memang demikian adanya yang dirasakan jutaan perempuan.

Konsep agama dan budaya sering menutupi rasa sakit itu lewat tawaran pahala, kemuliaan, dan karma baik. Perempuan mengamininya tapi secara faktual tetap tak mengubah sakit yang ditanggung dari waktu ke waktu. Selain secara biologis, sakit yang dialami perempuan juga muncul dari beban berlapis yang terbentuk karena pembagian peran.

Mansour Faqih di buku Analisis Gender dan Transformasi Sosial (1996) memaparkan beban berlapis merujuk pada situasi ketika perempuan menanggung berbagai peran sekaligus melebihi tuntutan yang ditanggung oleh laki-laki. Beban itu bisa mencakup tumpukan pekerjaan rumah, mengasuh anak, hingga bekerja di ruang publik.

Selain persoalan fisik dan peran, struktur bangunan pendidikan bagi perempuan juga jadi penyumbang penyelenggara rasa sakit. Budaya lebih sering mengkonstruk mereka untuk peduli orang lain ketimbang pemahaman tentang diri sendiri. Itu membuat perempuan lebih rentan mengalami stres dalam menjalani hidup.

Anna Medaris di American psychological Association (1/11/2023) memaparkan perempuan hampir selalu melaporkan perasaan lebih terbebani daripada laki-laki. Selama beberapa dekade, psikolog klinis Rosalind S. Dorlen, PsyD, ABPP, juga mencatat hal serupa. Pendapat itu dikuatkan dengan hasil Survei Stres di Amerika yang dilakukan APA pada Oktober 2023. Penelitian ini mencakup sampel representatif nasional lebih dari 3.000 orang dewasa. Hasilnya menunjukkan bahwa laporan tingkat stres rata-rata  lebih tinggi perempuan daripada laki-laki.

Saya teringat sebuah cerita yang menghuni buku Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan (2020). Cerita itu menggambarkan secara garis besar bagaimana cara berpikir antara perempuan dan laki-laki dalam melihat dunia.

Dikisahkan ada seorang perempuan berbaju putih yang berjalan di pinggir trotoar. Kondisi jalan dipenuhi genangan karena hujan deras baru saja turun. Singkatnya, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi lewat membuat air memercik kemana-mana, termasuk ke  pakaian perempuan tadi. Perempuan itu marah dan berkata dalam hati sangat menyesal memakai baju putih dan berjalan di pinggir trotoar.

Di waktu lain, kejadian itu terjadi lagi namun dialami oleh laki-laki. Respon yang diberikan laki-laki tersebut adalah marah, memaki, dan menyalahkan pengendara yang tidak hati-hati sehingga menyebabkan pakaiannya kotor.

Dua peristiwa ini memperlihatkan bagaimana cara laki-laki dan perempuan dalam melihat permasalahan. Perempuan cenderung melemparkan masalah pada dirinya alih-alih melihat faktor eksternal yang mempengaruhi. Sementara laki-laki lebih berani dan percaya diri untuk menantang faktor eksternal. Sikap ini tentu tidak datang dari langit, pendidikan dan kondisi sosial punya peran dalam pembentukannya.

Contoh lain bisa ditemukan pada peran ibu. Ibu akan cenderung lebih rentan stres ketika anak pertamanya sedang sakit. Ia akan mempertanyakan kelayakan dan kredibilitasnya sebagai orang tua. Faktor eksternal seperti cuaca, makanan, dan siklus normal tubuh kadang tidak dijadikan pertimbangan awal. Mula-mula yang dipersalahkan adalah dirinya.

Dari Mana Datangnya Rasa Stres yang Bertumpuk?
Dr. Gabor Mate, dokter ahli stres dan perkembangan anak, mengungkapkan 80% penyakit autoimun terjadi pada perempuan. Itu disebabkan karena hampir semua perempuan memiliki empat karakteristik yang sama. Karakteristik itu sering membuat perempuan rentan terkena autoimun.

Pertama, perempuan cenderung lebih memikirkan perasaan orang lain ketimbang perasaan diri sendiri.  Kedua, mereka lebih fokus pada tugas dan tanggung jawab daripada kebutuhan diri sendiri. Ketiga, mereka cenderung sangat baik dan tidak mengungkapkan kemarahan sebenarnya.

Keempat, mereka merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain dan mereka memiliki keyakinan bahwa tidak boleh mengecewakan siapa pun.

Paling penting untuk disoroti adalah kecenderungan merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain yang biasa dikenal Sindrom Mesias. Sindrom Mesias atau Kompleks Mesias adalah kondisi mental ketika seseorang percaya bahwa ia ditakdirkan untuk menjadi sosok yang harus menyelamatkan atau menebus kesalahan orang lain. Ini juga bisa merujuk pada perasaan bertanggung jawab untuk menyelamatkan atau membantu orang lain. 

Keyakinan jenis itu mudah dijumpai pada hidup perempuan. Mereka cenderung lebih sulit menolak permintaan orang lain. Perempuan terus menerus diciptakan untuk menanggung beban orang lain. Kondisi itu sering mengarahkan pada rasa stres. Stres yang terjadi bisa memicu autoimun dan membuat tubuh lebih rentan sakit. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena siapa?

Dr. Gabor Mate memaparkan bahwa di dalam budaya kita perempuan selalu lebih diharapkan untuk memperhatikan perasaan orang lain, menanggung beban orang lain, lebih fokus pada tugas dan peran, dituntut untuk selalu baik, tidak mengungkapkan perasaan negatif, dan merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Ini semua bukan masalah gender tetapi budaya. Demikian yang terjadi.

Masih ingat insiden yang dialami Kimberly Ryder, artis dan model Indonesia yang akhirnya memilih bercerai setelah sekian lama menanggung kekerasan? Kimberly mengungkapkan bahwa selama ini alasannya bertahan demi anak. Ia rela menanggung beragam luka dan sakit demi anaknya. Namun, akhirnya ia menyadari bahwa jika ia sendiri tidak bahagia, anaknya pun juga turut merasakan ketidakbahagiaan.

Sikap Kimberly Ryder yang memilih mengabaikan kondisi dirinya demi orang lain merupakan kecenderungan yang banyak dialami perempuan. Selain karena anak mungkin stereotipe negatif tentang status janda turut menjadi alasan. Budaya mendorong perempuan untuk bersikap demikian. Dalam banyak situasi sikap itu banyak merugikan dan mempersempit jalan hidup perempuan.  

Di Netflix ada sebuah film dokumenter menarik berjudul The Tinder Swindler (Felicity Morris, 2022). Film ini mengisahkan Simone Leviev yang berhasil menipu banyak perempuan melalui aplikasi Tinder. Ia merayu mereka secara online lalu menipu hingga jutaan dolar dengan modus memposisikan dirinya sebagai orang yang menderita, kalah, dan teraniaya.

Barangkali, mengajarkan dan mendidik perempuan untuk tidak takut bersuara, berani mengekspresikan ketidaknyamanan, memprioritaskan kebutuhan pribadi, dan melakukan penolakan pada hal-hal yang tidak ia sukai perlu lekas dibumikan. Tindakan ini bukan hanya penting tetapi sebuah upaya untuk menyelamatkan perempuan dari permasalahan psikologis yang berjuang pada stres berkepanjangan.
 


Editor: Kendi Setiawan
logo