Idul Fitri lekat dengan kemeriahan. Perayaan tak selalu berada di masjid, lapangan, dan rumah. Bioskop bisa menjadi tempat pilihan. Film Jumbo (Ryan Adriandhy, 2025) menjadi salah satu penghuni bioskop yang siap menyambut para pengunjung. Sinema itu digadang-gadang menjadi film animasi terbaik Indonesia dan punya pesan mendalam soal budi pekerti bagi anak-anak.
Saya tergoda untuk menjadi bagian penikmat film itu. Rasa penasaran membanjiri kepala saya untuk menyambut karya-karya seputar anak. Jumat (4/4/2025), saya duduk di salah satu bioskop di Solo. Keadaan ramai, banyak keluarga mengerumuni pintu masuk. Saya menduga saat nanti film diputar, suasana akan seru karena pasti dipenuhi suara tawa dan teriakan anak-anak.
Dugaan saya ternyata tak sepenuhnya benar. Hingga film selesai, suara yang muncul hanya dalam hitungan jari, itu pun didominasi orang dewasa bukan suara anak-anak. Kondisi itu membuat saya diam sejenak untuk kembali mengingat segala hal terkait film Jumbo. Apa yang perlu disoroti? Apakah ini film anak (hanya menggunakan tokoh anak tapi ceritanya untuk orang dewasa) atau film untuk anak-anak (film yang ceritanya memang diperuntukan untuk cara perpikir dan psikologis anak)?
Film Jumbo dari sisi visual amat apik bahkan bisa dikatakan sebagai animasi terbaik yang pernah dibuat Indonesia. Art style dan soundtrack-nya juga patut diberi tepuk tangan. Pelibatan buku dongeng dengan kehidupan anak intens ditampilkan. Ide yang cemerlang untuk mendorong minat literasi bagi anak-anak.
Di luar dari visual, art style, dan soundtrack, patut disayangkan. Jalan cerita yang ingin disampaikan terkesan memaksakan. Isu yang diangkat lebih cocok bagi orang dewasa karena ditampilkan tidak dengan lembut. Misalnya isu politik dan kritik pada Pemerintah lewat tokoh Kepala Desa. Proses delivery nilai budi pekerti juga terlalu menggurui karena penuh nasihat.
Saya jadi teringat buku Dongeng Telepon susunan Giani Rodari (Naura, 2024). Buku ini memiliki desain dan sinopsis yang sangat khas anak-anak, tapi isinya sebenarnya diperuntukkan untuk orang dewasa. Kumpulan cerita di dalamnya mengandung kritik terhadap pemerintah secara tajam yang dibalut imajinasi.
Konon, Rodari menuliskan buku tersebut saat kebebasan berekspresi di negaranya dibatasi. Ia menjadikan buku anak sebagai media penyadaran dan kritik atas pemerintah agar tidak dianggap sebagai ancaman. Buku itu bisa disebut buku anak, tapi bukan buku untuk anak-anak.
Sama halnya dengan kumpulan cerita milik Noor H. Dee bertajuk Taman Tanpa Aturan (Margin Kiri, 2023). Buku ini juga menggunakan tokoh dan visual anak-anak tetapi isinya sebenarnya lebih cocok bagi orang dewasa. Pesan yang disampaikan lebih mengarah pada kesadaran orang dewasa untuk mengenal dunia dan pikiran anak. Film Jumbo menurut saya bernasib seperti kedua buku tersebut.
Hal lain yang ingin saya soroti menyoal keterlibatan karakter hantu. Keberanian kreator membuat Jumbo menjadi cerita realis magis patut diberi pujian tapi sayangnya pengemasan alur cerita masih ditemukan keretakan. Banyak kisah seperti melompat atau terputus, misalnya soal radio yang bisa menjerat arwah, lalu batu cincin yang berisi hantu, dan apa pentingnya ambisi menjerat hantu si kepala desa dengan dunia anak-anak.
Mungkin jika ghost character dalam film itu dihilangkan, digeser dengan konflik saat pentas atau tetap melibatkan ghost character tapi tidak berangkat dari dendam dan visual orang tua Meri yang terlalu mengerikan, film Jumbo akan lebih mudah diterima anak-anak.
Saya menduga sang kreator mungkin terinspirasi dari film Coco (Adrian Molina dan Lee Unkrich, 2017), Soul (Pete Docter, 2020), atau Hotel Transylvania (Jennifer Kluska dan Derek Drymon, 2022). Animasi-animasi tersebut juga menampilkan ghost character sebagai pendukung cerita.
Karakter hantu sebenarnya sangat bisa diterima anak-anak terbukti dengan ketiga judul di atas yang sukses memukau dunia. Namun, kreator mesti hati-hati agar tidak menjebak anak dengan rasa takut. Ghost character mesti dibalut dengan penampilan yang unik dan humor. Poin itu yang saya rasa luput dalam film Jumbo.
Mengapa Film Jumbo Banyak Iklan?
Saya tidak tahu kenapa ada begitu banyak iklan yang berseliweran sepanjang adegan. Bukan hanya sekilas, para tokoh bahkan terang-terangan mengonsumsinya. Apakah memang dibutuhkan sponsor segamblang itu? Apakah jika iklan tidak dimasukkan proses pembuatan film tidak akan selesai? Atau hanya keisengan sang sutradara untuk menampilkan berbagai merek makanan agar terlihat lebih realistis?
Permasalahan dari hadirnya iklan-iklan tersebut adalah soal kesehatan. Anak-anak di Indonesia terlihat mulai memenuhi rumah sakit untuk cuci darah. Kebanyakan dari anak-anak yang dirawat di rumah sakit rujukan nasional diakibatkan banyak mengonsumsi minuman pemanis dan makanan tidak sehat dalam kemasan. Berita itu ditampilkan Kompas (25/7/2024), Tempo (26/7/2024), CNN Indonesia (26/7/2024), dan berbagai media lainnya.
Dalam film Jumbo, saya menemukan iklan Kecap Bango, Es Krim Wall’s, Buavita (jus buah kemasan), Cristico (snack kemasan), dan minuman teh soda. Minuman dan makanan itu hadir di scene-scene penting, penonton pasti menangkap hadirnya produk tersebut. Saya menjadi khawatir tampilan itu menormalisasikan makanan dan minuman yang tidak sehat bagi anak. Saat Indonesia masih memiliki pekerjaan menumpuk soal makanan dan kesehatan anak-anak, sayang sekali Jumbo tidak turut ambil bagian untuk menyelipkan kesadaran soal pangan.
Pada akhirnya, di luar dari berbagai pendapat yang telah dituliskan, film Jumbo menjadi angin segar bagi masa depan perfilman di Indonesia, terutama untuk anak-anak. Visualisasi yang sukses memanjakan mata telah menjadi jaminan untuk optimis pada karya anak bangsa selanjutnya. Saya yakin dengan banyak merefleksikan kembali karya untuk anak-anak dan berupaya menyelami kehidupan anak secara langsung, orang dewasa bisa membuat karya tidak hanya berupa film anak, tetapi juga film untuk anak-anak
Editor: Kendi Setiawan
